Perancang busana berbahan kain sutra Mandar Ali Kamalla (kiri) bersama Bupati Polman Andi Ibrahim Masdar (kanan). Bupati yang biasa disapa AIM ini memesan 10 stel baju kemeja hasil karya lelaki Ali ini. AIM sengaja undang Ali untuk datang di rumahnya di Pekkabata untuk urusan pilihan karya terbaiknya itu. (Foto: Burhanuddin HR)

TRANSTIPO.com, Polman – Bupati Polman Andi Ibrahim Masdar (AIM) pun senang dengan fasion baju kemeja dari sutra. Untuk memenuhi kesenangannya itu, bupati pencinta seni ini, pada Senin malam, 19 Desember 2106, ia undang perancang muda Ali Kamalla untuk datang ke rumahnya di Pekkabata, Polman.

Ali Kamalla tinggal di Dusun Beru-Beru, Desa Ongko, Campalagian. Desainer Ali adalah alumni Jurusan Sejarah Budaya UNM Makassar. Sejak 2009 lalu, Ali mulai menekuni pekerjaan sebagai perancang baju jadi.

Ali mengkhususkan pada rancangan dan pembuatan baju kemeja modern berbahan kain sutra. Karya Ali diminati banyak kalangan di Polman, terutama pemuda dan pejabat di Polman dan Sulbar.

Pada segmen bisnis, rancangan dan produksi Ali Kamalla telah menembus pasar nasional. Kini, penggemar Ali kian mengular. AIM misalnya. Sejak kali pertama lihat karya Ali, dia langsung pesan 10 stel baju dari kain sutra Mandar.

Di rumah AIM, di Pekkabata, Ali Kamalla berbicara kepada laman ini. “Saya tamatan SMA Negeri 1 Campalagian dan UNM Makasar. Saya kuliah di Jurusan Sejarah Budaya. Saya tak pernah sekolah untuk jadi perancang busana,” kata Ali.

Minat Ali menekuni dunia mode pakaian ini lantaran pedulinya pada usaha gadis-gadis muda di desanya yang dengan setia menenun. Nah, kata Ali, dari situlah muncul keberanian saya untuk bekerjasama dengan penenun kain sutra.

“Saya ingin menyentuhnya agar terlihat lebih modern. Motif-motifnya beragam. Jika hanya model tradisional terus, atau itu-itu saja, itu berarti tak ada peningkatan,” kata Ali lagi.

Pemahaman sejarah budaya lokal yang dimiliki Ali telah mendekatkannya pada bagaimana mengaplikasikan disiplin ilmu itu untuk menghasilkan karya lokal, sekaligus bisa menampilkan produk kebudayaan daerah serta membantu mensejahterakan warga penenun.

“Dari situlah muncul inspirasi dan terketuk hati saya memulai usaha ini,” aku Ali.

“Saya melihat ada kekuatan, ada energi terpancar dari sutra itu sendiri untuk disentuh secara modern. Jika kita bandingkan dengan karya tenun daerah lain, seperti tenun songket yang sudah mendunia, juga pelbagai sarung dari Sumatra, tenun Lombak dan Bali yang telah menguasai pasar di luar negeri. Ini yang saya coba kembangkan di Mandar ini,” jelas Ali Kamalla.

BURHANUDDIN HR

TINGGALKAN KOMENTAR