Lurah Pekkabata Nabil Wijdal Al Hamdini (tengah) ikut turun ‘memoles’ lingkungannya—salah satunya mengecat tembok-tembok yang telah tampak kusam—bersama warga dan kawula muda di Polewali, Rabu, 8 November 2017. (Foto: Burhanuddin HR)

TRANSTIPO.com, Polewali – Lurah. Muda. Tampang memikat, dan agresif pula. Nabil Wijdal Al Hamdini namanya. Selama ini tak pernah diam mengikuti gerak langkah bupatinya dalam menyasar lorong dan jalan setapak demi kebersihan lingkungannya.

Ini bukan grafitti. Ini adalah coret-coretan dengan bantuan tarikan nafas perlahan. Ini sebuah cara sebagai bentuk memperindah lingkungan Kelurahan Pekkabata, Polewali, Polman.

Ketika kru transtipo.com melintasi sebuah jalan, tampak sejumlah warga yang tengah menarik kuas cat dengan memolesnya ke dinding tembok pembatas jalan.

Di Pekkabata sore itu, Rabu, 8 November 2017, kawula muda berbaur begitu sumringah. Tak ada istirahat selai waktu yang menghentikan mereka: ba’da magrib telah tiba, itu pertanda awal malam telah menyudahi ayunan kuas itu.

Upaya Kelurahan Pekkabata ini adalah sebentuk merefleksi “maunya” Bupati Polman untuk memperindah setiap depa lingkungan. Hanya dengan begitu, citra kota dalam Kecamatan Polewali akan tampak memesona.

Jika sudah begitu, maka harapan menjadikan Polewali sebagai kota bersih, indah, ramah, dan lestari, adalah jalan menggapai ‘impian’ beroleh Piala Adipura—sebuah penghargaan bagi kota di Indonesia yang berhasil dalam kebersihan serta pengelolaan lingkungan perkotaan.

Sekadar diketahui, kontes Adipura diselenggarakan oleh Kementerian Negara Lingkungan Hidup, dikutip dari google.

Lurah Pekkabata Nabil Wijdal Al Hamdini penuh harap, agar lorong di wilayah yang diperintahnya itu tetap lestari dan warga antusias mendukungnya dengan tidak membuang sampah di sembarang tempat.

Jika Pekkabata terus bersolek rupa—pula kelurahan lainnya kecamatan ibukota kabupate itu—maka harapan lurah Nabil dan bupati AIM—rengkuh ‘mahkota’ Adipura—terwujud adanya.

BURHANUDDIN HR

TINGGALKAN KOMENTAR