Poster Kiai Haji Zainal Abidin ditancapkan pakai paku di sejumlah batang pohon di Kecamatan Wonomulyo, Polman. (Foto: Burhanuddin HR)

TRANSTIPO.com, Polewali – Mantan Anggota DPRD Sulbar KH Zainal Abidin salah seorang tokoh agama di Kabupaten Polman. Ia relijius. Namanya saja kiai—figur yang layak jadi panutan, untuk separuh umat.

KH Zainal Abidin tak tampak kental politisinya sebab waktu mendakwahnya lebih banyak. Sebutlah ia pendakwah, tapi politisi juga—di PKS waktu lalu.

Di Polman, ia kerap kali keliling berdakwah, di pelbagai desa hingga dusun. Ia tak kenal waktu—misalnya tak cukup hanya Khotbah di kala Jumat tiba.

Ia pendiri—dan tentu pula pemilik—Yayasan As-Addiyah di Wonomulyo, Polman, Sulbar. Jika dipersepsi sebagai bagian dari sebuah komunitas serumpun, maka ia massif di keluarga serumpun Bugis Wajo di Polman.

Ketika transtipo.com ditemui beberapa waktu lalu di Wonomulyo, putra sulung H Syaiful Muin (almahum)—pendiri HIPMI Polmas—mengatakan, Islam itu Rahmatan lil Alamin.

“Maka kita mesti tegakkan kepemimpinan Islam dalam mengantar rakyat membangun Polewali Mandar (Polman). Dengan membangun akhlak mulia sehingga kita—dan rakyat—memdapat berkah Allah,” kata Zainal, mendakwah.

Dalam politik, KH Zainal Abidn adalah pendiri Partai Keadilan Sejahtera (PKS) di Polmas dulu, kini Polman. Saat ini ia menjadi dewan penasehat partai dengan presidennya Sohibul Imam, di pusat.

Zainal dan PKS seolah tak bisa dipisah. Ia berharap, semoga partai yang pernah didirikannya itu besar di Polman dan Sulbar.

Dan, jelang Pilbub Polman 2018, sindir kiai berkenggot tak lebat ini, semoga partainya menghitung dirinya.

BURHANUDDIN HR/SARMAN SHD

TINGGALKAN KOMENTAR