Kondisi jalan di Desa Besoangin, Kecamatan Tutar, Kabupaten Polman, Provinsi Sulbar. (Foto: Burhanuddin HR)

TRANSTIPO.com. Polewali – Abdul Rahman adalah Ketua Karang Taruna Desa Besoangin, Kecamatan Tu’bi Taramanu (Tutar), Kabupaten Polman, Provinsi Sulbar.

Abdul Rahman juga sehari-harinya adalah Kepala Sekolah Madrasah Tsanawiah (MTs) di Kecamatan Tutar. Pada Senin malam, 6 November 2017, di Polewali, Polman, Abdul Rahman setia melayani transtipo.com untuk sebuah wawancara singkat.

Kepada Burhanuddin HR—kru laman ini—bercerita. Di MTs itu terdapat tujuh orang guru yang mengajar anak didik. Lima di antaranya sarjana, tapi pengangguran makanya bersedia ikut mengajar di sekolah itu. Dua guru lainnya masih kuliah di perguruan tinggi.

Sejumlah guru ini terkadang kadang pesimis melihat kondisi jalan yang ada di Tutar. Terkadang pula warga mengaku nyaris putus asa dengan keadaan jalan yang hancur itu.

Ketika anak-anak sekolah di MTs Tutar itu mau ujian sekolah, mereka diikutkan ujian di sekolah MTs baru di Kecamatan Luyo, Polman.

Kecamatan Luyo dengan Kecamatan Tutar memang bertetangga, tapi jaraknya jauh dan jalan menuju ke sana rusak parah.

Selain itu, masih cerita Abdul Rahman, guru-guru itu juga sering bolak-balik ke Kantor Kemenag Kabupaten Polman.

Urusan bolak-balik ini harus memutar jalur dengan jarah tempuh sejauh tak kurang 90 kilometer. Mereka pergi dan pulang dengan melalui Kecamatan Sendana, Kabupaten Majene.

Kabupaten Majene adalah kabupaten yang bertetangga dengan Kabupaten Polman.

“Sudah melintasi jarak yang jauh, rusak pula jalanannya,” kata Abdul Rahman. “Kami tersiksa sebenarnya,” akunya lagi.

Masih cerita Rahman. Jika melitasi jalan itu di saat musim kemarau, “Agak lebih baik karena jalan tanah dan bebatuan itu mengering.”

Sejumlah warga dan anak-anak sekolah sedang melintasi sebuah jalan setapak yang dibelah sungai-sungai kecil di belantara Desa Besoangin, Tutar, Polman, Sulbar. (Foto: Burhanuddin HR)

Tapi, kata Rahman, “Jika musim hujan terpaksa motor diparkir di gubuk-gubuk atau ditumpangkan di rumah warga yang dilewati. Lalu, kita semua jalan kaki melewati hutan belantara. Berkelok-kelok. Mendaki, menuruni bibir jalan terjal mana becek lagi. Bayangkanmi itu.”

Raut wajah Rahman tampak sedikit berbinar ketika menceritakan ini. “Sekolah yang kita bina ini sedikit ada dana bos untuk guru sukarela. Dan, baru satu lokal kelas belajar kami dapatkan. Kita numpang di SD O38 Tibung. Untuk itulah agar kami bisa eksis, mohon jalan poros itu dibangun,” pinta Abdul Rahman.

Tentang daa desa, Abdul Rahman juga singgung. Ceritanya, dana desa di Tutar itu satu miliaran setahun. Dana ADD desa juga banyak.

Selaku Ketua Karang Taruna di desanya, Abdul Rahman bilang, “Kalau bisa bapak Presiden Joko Widodo kunjungi desa kami. Puluhan tahun terisolir. Kita Indonesia, kita Pancasila, kita taat dan patuh kepada UU, kita setia mempertahankan NKRI.”

BURHANUDDIN HR

TINGGALKAN KOMENTAR