Sekretaris Bappeda Mamuju Utara, Arhamuddin, (kiri) bersama dan Kepala Subdirektorat Kawasan Sains Dan Teknologi, Gopa Kusworo (kanan). (Foto: Arham Bustaman)

TRANSTIPO.com, Pasangkayu – Guna meningkatkan daya saing dan percepatan pembangunan daerah, Bappeda dan Litbang Mamuju Utara melaksanakan kegiatan Workshop Penyusunan Road Map Sistem Inovasi Daerah (SIDa) di Aula Hotel Multazam, Pasangkayu, Matra, Senin, 8 Mei 2017.

Kepala Subdirektorat Kawasan Sains Dan Teknologi, Gopa Kusworo, yang hadir sebagai pemateri menyampaikan, Sistem Inovasi Daerah (SIDa) memerlukan objek pembangunan yang akan diusung.

Hal ini sudah searah dengan kebijakan pemerintah untuk meningkatkan produktivitas rakyat dan daya saing di pasar internasional.

Mewujudkan kemandirian ekomomi dengan menggerakan sektor strategis ekonomi domestik berdasarkan Keputusan Bersama Kemenristek dan Kemendagri Nomor 3 Tahun 2012 Tentang Penguatan SIDa dan UU 23 Tahun 2014 Tentang Pemda pasal 387 ‘perumusan inovasi daerah’.

Karena itu perlu adanya wahana yang menjadi objek prioritas dan unggulan sebagai penarik (lokomotif) ekonomi daerah yang sesuai visi misi daerah dan disepakati seluruh stakeholders daerah serta menjadi ikon daerah.

Menyinggung soal tantangan daerah ke depan yang semakin berat, apalagi menyambut Masyarakat Ekonomi Asean (MEA), ia menegaskan hanya inovasilah yang bisa menjawab. Yang menentukan derajat suatu bangsa cuma inovasi, karena itu setidaknya harus ada inovasi bagi suatu daerah bila ingin maju.

Selain sinergitas antara pusat dan daerah demi peningkatan ekonomi melalui UKM yang berbasis inovasi, tak ada pilihan lain kecuali potensi lokal dan segala keunikannya yang harus digenjot untuk dijadikan daya saing dengan negara lainnya.

Pada kesempatan yang sama, Muhammad Iko Dwipa Gautama mangatakan, inovasi itu harus menarik agar bisa bersaing dan laku, dan cukup memanfaatkan apa yang ada di sekitar.

Caranya pun sederhana cukup dengan metode mengamati, meneliti dan memodifikasi agar bisa menjadi nilai tambah bagi suatu produk seperti udang vaname dan kelapa dalam yang akan dikembangakan di daerah ini.

“Percuma ada ide tapi tak dilakukan. Inovasi diperlukan untuk menjaga agar dapat memenuhi pelanggan dan tentunya dapat memberi nilai tambah bagi konsumen dan bermuara pada ekonomi,” kata Muhammad Iko Dwipa Gautama.

Kemudian, katanya, yang perlu diperhatikan dalam penerapan SIDa, yakni tema strategis harus sesuai visi misi kepala daerah yang berbasis potensi lokal dengan dukungan data yang ada untuk dijadikan produk unggulan.

Sekretaris Bappeda Matra, Arhamuddin, berharap ada inovasi di setiap desa demi terwujudnya program NAWAJIWA Pemkab Matra. Sebab itu, perlu perencanaan yang matang untuk membuat kesepahaman tentang penyusunan program kegiatan secara sinergis seluruh stakeholders.

Arhamuddin menyesalkan banyaknya bantuan yang diberikan kepada warga agar dapat meningkatkan taraf ekonomi, namun belum menunjukan hasil optimal.

Muhammad Hasbi, Camat Pedongga, Kabupaten Mamuju Utara. (Foto: Arham Bustaman)

“Hanya menjadi besi karat (besi tua) karena tak difungsikan sebagaimana mestinya,” kata Arhamuddin, kesal.

Beda halnya dengan Camat Pedongga, Muhammad Hasbi. Katanya, banyak bantuan yang tak digunakan itu, tentu tak lepas dari kurangnya perhatian pemkab, bahkan terkesan setengah hati.

“Mesti selalu diadakan pelatihan namun tak ada tindaklanjutnya,” kata Hasbi.

Sehingga, kata lelaki paruh bawa ini, hasilnya pun tak sesuai harapan. “Banyak kelompok usaha mati suri meski produk yang dihasilkan lumayan bagus namun tak dibantu pemasaran,” kata Hasbi lagi.

Sebab itu, ia pun berharap Pemkab Matra dengan OPD terkait, lebih fokus pada pengawasan dan pemasaran agar produk yang dihasilkan oleh kelompok usaha atau warga tak rugi.

ARHAM BUSTAMAN

TINGGALKAN KOMENTAR