Material proyek perkuatan tebing Sungai Lariang, Mamuju Utara, memakai batu berukuran kecil atau 'anak batu'. (Foto: Arham)

Pakai anak batu, proyek pembangunan perkuatan tebing Sungai Lariang disorot warga.

TRANSTIPO.com, Matra – Pembangunan perkuatan tebing Sungai Lariang di Desa Lariang, Mamuju Utara, Sulawesi Barat kembali disorot warga. Penyebabnya, material proyek sebahagian besar menggunakan batu kecil, bukan batu gajah.

Salah seorang warga Lariang, Malik, mengatakan, batu yang hanya sebesar kelapa kecil untuk pembangunan tanggul itu tak bakal bertahan dari terjangan banjir Sungai Lariang. Batu sebesar itu tak layak untuk material tanggul.

“Sedangkan batu gajah saja yang dipasang belum tentu mampu bertahan dari hantaman Sungai Lariang, apalagi kalau cuma batu sebesar kelapa. Yakin saja dua kali dihantam banjir itu sudah habis,” kata Malik di Lariang, Kamis, 8 September 2016.

Malik menjelaskan, dari 3 km panjang pembangunan tanggul perkuatan tebing saat ini, sekitar 1 km memakai batu yang berukuran kecil. Hal ini, kata Malik, berpotensi merugikan masyarakat. Menurutnya, jika kembali rubuh seperti pembangunan tanggul selumnya, maka siapa yang akan bertanggujawab?

Malik adalah aktifis LSM. Ia berharap, proyek ini mengedepankan azas manfaat dan efesiensi anggaran.

“Kalau cepat rubuh, kan negara dan masyarakat yang dirugikan. Kalau rubuh, kapan lagi akan dibangun kembali,” kuatir Malik.

ARHAM BUSTAMAN

TINGGALKAN KOMENTAR