Joni Tonapa, kontributor MNC TV di Matra, sedang beri laporan atas 'teror' yang menimpanya beberapa hari lalu di Pasangkayu, Matra. Kiriman berita ini, Kamis, 13 Oktober 2016. (Foto: Ist.)

TRANSTIPO.com, Matra – Harapan untuk mendapatkan kronologi atas peristiwa pengrusakan mobil Joni Banne Tonapa—kontributor MNC TV di Matra—terjawab sudah pada sore tadi, sekitar pukul 17:00 wita, Kamis, 13 Oktober 2016.

Adalah seorang Andika, wartawan grup MNC TV, di Mamuju. Andika adalah rekan kerja Joni B. Tonapa di grup MNC Media yang berkantor pusat di Jakarta. Sore tadi, hampir semua wartawan—utamanya wartawan media online—berharap agar ada uraian atau kronologi lengkap atas kejadian yang dialami dan yang menimpa Joni Tonapa.

Informasi itu kini tersaji lengkap, ditambah tulisan biro transtipo.com di Matra—Arham Bustaman. Oleh redaksi kemudian menjadikannya sebuah reportase bacaan untuk sekalian Pembaca yang Budiman, di Kamis, malam ini.

Kronologi itu, disarikan dari kutipan ‘kiriman’ melalui salah satu grup WhatsApp serumpun wartawan Sulbar—meski ‘belum lengkap’ dalam kadar liputan reportase mendalam.

Sekitar pukul 23:00 malam, waktu setempat yang tak disebutkan harinya, pintu rumah Joni sudah tertutup. “Saya kecapean karena baru pulang dari Palu, Sulteng, dan saya sudah mau istirahat,” kisah Joni.

Joni baru saja terbaring di tempat tidurnya, namun lantaran ada suara keras yang menyebut kata wartawan, maka dengan seketika pula ia bangun. “Saya buka pintu, dan ketika mata saya menjangkau semua sudut rumah dan saya pandang ke kiri dan ke kanan sejauh jalan di depan rumah, toh tak ada orang yang disangkanya sebagai pemilik suara teriakan barusan itu,” urai Joni.

Dia pun kembali ke kamar untuk melanjutkan tidurnya. Paginya, sekitar pukul 07:00 wita—harinya tak disebutkan—adik Joni mendapati mobil miliknya yang terparkir di depan rumah mengalami kerusakan. Kaca pintu sebelah kanan pecah. Pecahan kaca itu terhambur di lantai. Rupanya, akibat lemparan batu.

Penutup mesin mobil Joni juga rusak, pula diduga akibat lemparan batu. Menurut Joni, kuat dugaan ini teror yang dialamatkan padanya itu terkait dengan liputannya di tempat sengketa sebelumnya.

Wilayah sengketa yang diliput Joni itu dikuasai oleh preman di Matra. Pasca ia meliput pembakaran di tempat sengketa, Joni kerap diancam. Ancaman itu terkadang ia tahu juga dari rekan-rekannya sesama wartawan di Matra.

Masih informasi di WA itu. Sebab Joni meliput langsung kejadian pembakaran di lokasi sengketa, oleh pihak Polres Matra memanggil Joni untuk dimintai keterangan atau sebagai atas kejadian itu. Namun Joni tak mau memenuhi panggilan itu sebab menurutnya meliput sebuah peristiwa adalah tugas seorang wartawan.

Ini cerita liputan Joni. Sebelum saya tiba di lokasi, massa sudah berkumpul di posko dan ada pemasangan baligho atas nama Forum Lembaga Adat Kaili Tado. Seusai memasang baligho, massa dari dua desa yang berbeda kemudian masuk ke persawahan ataui di lokasi sengketa dan melakukan pembakaran. Ada 4 pondok, 1 handtraktor, dan 1 rumah pekebun yang dibakar massa itu.

Setelah pembakaran itu, massa—jumlahnya ratusan—kemudian menuju ke areal Blok C 26 yang diketahui milik perusahaan PT. Mamuang. Massa ini memakai sebuah mobil truk, ada juga yang memakai kendaraan roda dua. Di antara massa itu ada yang membawa spanduk.

Menurut Joni, saya sempat melihat mobil truk yang mengangkut massa berpapasan dengan mobil polisi milik polsek setempat. Tak lama kemudian, massa ini tiba di Blok C 26 HGU milik PT. Mamuang itu.

Setibanya di lokasi yang dituju, massa kembali membakar sebuah pondok. Setelah itu massa bergerak ke titik kedua, masih dalam area milik PT. Mamuang. Di situ massa memasang spanduk yang tertulis forum lembaga adat. Setelah spanduk berdiri, massa membakar lagi sebuah rumah di lokasi itu.

Memang, urai Joni, sempat terjadi ketegangan antara warga. Kemudian warga itu saling kejar-kejaran dengan barang tajam di tangan. Salah satu di pihak mereka adalah kelompok (baca: oknum) yang menguasai lahan sengketa itu.

Kata Joni, saat itu saya liputan—lengkap dengan seragam berlogo MNC Media. Saya ambil gambarnya. Dengan seketika warga yang bergerombol, dengan menggunakan mobil, mendatangi saya. Saya harus lari karena mereka bawa parang. Mereka berteriak larang saya liput. Demi keselamatan jiwa saya, tentu wajar saya lari—dengan mobil tentunya.

Dengan kejadian itu, saya tak melapor ke polisi secara resmi karena pertimbangan keamanan. Tapi koordinasi secara lisan ke aparat Polres Matra tetap saya lakukan. Malah saya minta perlindungan keamanan dan hukum.

Saya heran ketika pada Senin lalu tiba-tiba saya disurati oleh Polres Matra dengan tujuan diminta keterangan perihal kejadian pembakaran tempo hari. Sampai di sini kronologi peristiwa itu, menurut cerita Joni.

Di hari yang lain, Andi Aswan, Sekretaris Komunitas Pers Mamuju Utara (PERMATA), menyayangkan kejadian ini—maksudnya apa yang terjadi pada Joni. Menurut Andi Aswan, ini dapat mengancam kerja-kerja jurnalistik di daerah ini.

Aswan berharap, pihak kepolisian agar segera menindaklanjuti laporan dan mengungkap pelakunya untuk mempertanggung jawabkan perbuatannya. Mungkin yang dimaksud, peneror rumah dan pengrusak mobil Joni.

“Kami dari PERMATA berharap kepada pihak kepolisian agar segera mencari pelaku. Sebab bila tidak, maka tak menutup kemungkinan kasus yang sama akan menimpa teman wartawan lainnya,” kata Aswan ketika menemani Joni melaporkan peristiwa teror itu di Polres Matra.

Asawan menambahkan, selama ini wartawan di Matra melaksanakan tugas jurnalistik dengan berdasar pada aturan tentang pers atau Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999.

Selain itu, ia menilai, kejadian seperti ini bisa diartikan sebagai intimidasi dan mengancam kebebasan pers sebab teror itu diduga berkaitan dengan liputan dan pemberitaan di media.

dari salah seorang wartawan senior sekaligus pemilik Radio Sparta FM Pasangkayu, Suamin Rahim—disapa Adam Kawilarang—mengungkapkan penyesalannya atas kejadian yang menimpa Joni.

Menurutnnya, sebaiknya bila ada yang tak puas dengan pemberitaan, kan ada hak jawab. Nanti di media yang bersangkutan akan dibikinkan diklarifikasi jika ada sanggahan atas isi pemberitaan itu.

“Jangan bertindak anarkis seperti itu,” tegas Adam Kawilarang.

Adam himbau, kepada seluruh rekan-rekan media agar jangan terprovokasi dan tetap waspada.

“Kejadian yang menimpa Joni, adalah pelajaran berharga buat kita. Bangun solidaritas yang baik,” pesan Adam. (Dari Berbagai Sumber)

ARHAM BUSTAMAN/SARMAN SHD

TINGGALKAN KOMENTAR