Perempuan Mamuju Tengah berkumpul dalam SIAMA yang dibentuk di Warkop Neo-KPK, Topoyo, Rabu, 9 Mei 2018. (Foto: Ruli)

TRANSTIPO.com, Topoyo – Perempuan modern di pelbagai daerah di Indonesia kini, jangan kira hanya pandai bersolek. Mereka pula telah piawai membangun jejaring, entah sesama dalam lingkungan mereka, atau bahkan telah berani menembus masuk ke ruang-ruang yang tak melulu dihuni para kaum feminis.

Banyak contoh telah membuktikan itu. Dan, tak sedikit fakta—untuk di pelosok bahkan—perempuan Indonesia di daerah telah mampu berdikari dan eksis melembagakan diri.

Untuk apa?

Untuk membangun kemandirian diri dan kelompok-kelompoknya, yang dalam sadarnya hendak memperjuangkan hasrat, harkat dan martabat kaumnya.

Yang lebih heroik mungkin, mereka pun hendak berdiri sejajar dengan kaum lelaki untuk membangun daerah di mana mereka berdiam.

Di bawah ini adalah reportase singkat tentang sekelompok perempuan di Kabupaten Mamuju Tengah, Sulawesi Barat, yang berkumpul karena hendak berhimpun dalam satu wadah yang mereka rumuskan sendiri: nama dan tujuan apa kelompoknya itu maju bergerak.

Di ruang pertemuan itu, tak terlampau besar. Jika dihitung jumlah orang yang duduk di kursi di ruang tengah itu, maka sebesar itulah ruang kapasitas yang dimampunya menampung tetamu.

Tempat itu sudah tak terlampau asing bagi warga Topoyo, Mamuju Tengah. Namanya Warkop Neo-KPK—saudara kepemilikan oleh Warkop xKPK.

Warkop ini mengisi satu petak tak luas pada sebuah bibir jalan poros utama di Topoyo. Pada Rabu pagi hingga siang, 9 Mei 2018, para kaum berhijab—dan yang tak berkerudung juga ada—memadati ruang lapang satu-satunya di warkop ini.

Menyebut identitas berhijab dan tak berkerudung, nyatalah bahwa mereka adalah sekelompok perempuan—dari yang baru lepas umur remaja hingga dewasa.

Apa itu SIAMA?

Suasana diskusi saat pembentukan lembaga berhimpun perempuan di Mamuju Tengah, SIAMA, di Warkop Neo-KPK, Topoyo, Rabu, 9 Mei 2018. (Foto: Ruli)

Itu adalah falsafah koteks lokal Mamuju—keseluruhan Manakarra—yang jika dimaknai, maka terbentang luas kandungannya: berbeda-beda suku, budaya, dan agama tapi tetap satu tujuan.

Boleh jadi rumusan ide awalnya adalah terilhamkan pada “Bhineka Tungga Ika”—semboyan tunggal dalam Bangsa, Indonesia yang besar.

Kedalaman makna SIAMA ini berkat masukan dari salah seorang tokoh, namanya Jamaluddin, pegiat seni dan budaya di Mamuju Tengah.

Pendirian SIAMA yang digelar di Warkop Neo-KPK Topoyo pada Rabu, 9 Mei ini, tak lepas dari bantuan pemikiran sejumlah akhwat di Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Mamuju Tengah. Dari kalangan pemuda-pemudi pegiat seni dan budaya juga ada.

Dari kalangan perempuan terdidik itulah yang berkumpul dan bersedia berhimpun dalam lembaga yang mereka bentuk.

Kepada kru laman ini di Topoyo, Diana Ritonga sebut, hari ini (Rabu, red) sudah ada nama pengurusnya. “Direktrisnya adalah Fifit Chandra, Sekretaris Rano, dan Bendahara Risnawati,” kata Diana.

Di tempat berkumpul itu, Fifit Chandra bilang begini: pentingnya pembentukan lembaga baru ini guna membantu masyarakat, paling tidak tempat curhat dalam berbagai masalah tentang perlindungan perempuan.

“Lembaga ini diharapkan selalu bisa sinergi dengan pemerintah agar tujuan dan keinginan masyarakat, khususnya ide-ide pemuda-pemudi untuk membangun Mamuju Tengah bisa tercapai,” sebut Diana Ritonga.

RULI SYAMSIL

TINGGALKAN KOMENTAR