Pelaku Pembunuh dan Korban di Kire “Alumni” RS Jiwa, Ini Cerita Kapolsek Budong-budong

661

TRANSTIPO.com, Topoyo – Pada Jumat siang, 17 Agustus 2018, seorang polisi senior berbicara kepada kru laman ini, masih di tempat upacara bendera memeringati HUT ke-73 RI di Topoyo, Kabupaten Mamuju Tengah.

Polisi senior dimaksud adalah AKP Haeruddin, Kepala Kepolisin Resort (Kapolsek) Budong-budong, Mamuju Tengah.

Haeruddin bercerita, telah terjadi tindak pembunuhan di Dusun Kire Utara, Desa Kire, Budong-budong. “Kejadian pembunuhan pada Kamis, 16 Agustus 2018, tepatnya sore pukul 16.30 WITA,” cerita Haeruddin.

Masih Haeruddin, pelaku pembunuhan itu bernama Ahmad Yanin (laki-laki 38 tahun). Ia terindikasi mengalami gangguan jiwa. Sebelumnya memang atau pada 2013 lalu pemuda ini pernah masuk Rumah Jiwa Dadi Makassar, Sulawesi Selatan.

“Pelaku ini mengalami gangguan jiwa sejak 2010 lalu. Jadi memang sudah pernah mengalami kelainan kejiwaan/stres,” sebut Haeruddin.

Lanjut Haeruddin, adapun korban namanya Laknin (41 tahun), biasa disapa Lakli. Baik si pelaku maupun korban sama-sama mengidap kelainan atau gangguan kejiwaan/stres.

Kronologisnya, ikuti kisah AKP Haeruddin.

Ahmad atau pelaku dan Lakli si korban sebetulnya masih memiliki hubungan keluarga. Bahkan keduanya berteman. Di lingkungan mereka atau di Dusun Kire itu, warga sekitar sudah tak sudi berinteraksi dengan keduanya. Sebelum hari naas itu tiba, pelaku dan korban masih biasa bersua.

Pada Kamis sore kemarin itu, Lakli atau korban sengaja datang ke rumah Ahmad, pelaku. Niat Lakli hendak bertamu. Rumah keluarga itu bentuknya rumah panggung. Sebelum si korban melangkah masuk rumah, dari dalam rumah sudah ada penolakan oleh pelaku agar tidak masuk rumah, atau melarang masuk.

Tak dinyana, acaman lewat kata-kata peringatan keras pun datang dari pelaku. “Jangan masuk, kalo masuk saya akan potong,” ancam pelaku kepada Lakli, si korban.

Tapi apa jadinya, tanpa tedeng aling-aling si korban malah terus melangkahkan kakinya masuk rumah si pelaku. Sejurus dengan itu, tiba-tiba saja pelaku menyerang korban dengan maksud menebas leher korban, namun upaya pertama ini belum berhasil.

Pada tebasan kedua dengan posisi korban sedang duduk di kursi, malang tak dapat ditolak, batang leher korban menganga dan darah pun muncrat ke lantai. Dengan seketika korban menghembuskan nafas yang terakhir, saat itu juga.

Begitulah kisah singkatnya.

Bagi Haeruddin, sebetulnya peristiwa ini sama sekali tidak direncanakan atau spontan karena memang kondisi si pelaku saat itu dalam keadaan gangguan jiwa (baca: gila).

Kasus ini, dalam hemat Haeruddin, kita akan serahkan ke pemkab atau dinas sosial dan dinas kesehatan untuk dicek kondisi kesehatan pelaku. “Kami tidak bisa menghukum karena pelaku mengalami kondisi gangguan kejiwaan,” ujar Haeruddin.

Dari salah seorang keluarga korban, inisial WR, diperoleh keterangan bahwa sebenarnya si pelaku ini adalah lulusan sekolah kejuruan pelayaran.

WR bilang kepada laman ini, memang sebelumnya di rumah yang ditinggali Ahmad selalu disembunyikan parang atau benda-benda tajam karena kita tahu kondisinya bagaimana, sewaktu-waktu bisa kambuh lagi penyakitnya.

“Dan memang mereka berdua itu sudah lama berteman. Mereka saja berdua saling berteman tidak ada orang lain yang mau berteman, yah, begitulah orang stres ditakuti orang,” cerita WR.

Sebenarnya, pengakuan WR, pelaku juga dengan saya masih ada hubungan keluarga. “Tapi saya tidak mau komentar banyak takut salah,” ujar WR.

RULI SYAMSIL

TINGGALKAN KOMENTAR