Salah sebuah kapal Feri Perintis yang sedang sandar di Pelabuhan Pelni Babana, Desa Babana, Budong-Budong, Kabupaten Mateng, Sulbar. (Foto: Ruli)
Sekretaris Syahbandar Pelabuhan Babana, Arfa Wiyah. (Foto: Ruli)

TRANSTIPO.com, Topoyo – Berbagai macam keluhan dan tanggapan baik penumpang dari Mamuju Tengah (Mateng) menuju Kalimantan Timur (Kaltim) dan sebaliknya. Keluhan tersebut terkait lamanya berlabuh kapal Pelni Feri Perintis di Pelabuhan Babana, Mateng.

Penyeberangan transportasi umum laut di Babana antara Mateng dan Kaltim itu menjadi alat transportasi alternatif dan efektif yang diminati masyarakat khususnya Mateng tiga bulan terakhir ini.

Sayangnya, di pelabuhan Babana, Desa Babana, Kecamatan Budong-Budong itu menuai keluhan dari beberapa penumpang dari Kaltim. Keluhan tersebut berupa lambatnya kapal berlambuh. Selain itu penanganan dan pengamnan yang tidak ada, seperti sekuriti atau aparat dari kepolisiayan. Kebersihan pelabuhan juga tidak terjaga.

Alief, salah satu penumpang mengungkapkan bahwa transportasi ini sangat efektif sekali karena kita bisa sampai langsung di kampung dan sudah mulai dikenal. Sayangnya, sebut Alief, kadang kapal feri lama di luar menunggu, tidak bisa nyandar karena akan ada kapal ponton yang sedang memuat karnel cpo sawit. Seharusnya, saran Alief, kapal ini dulu diprioritaskan karena kapal penumpang, bukannya kapal pontoon.

“Nah di situ terkadang kapal feri ini masuk untuk nyandar, bahkan kita pernah nunggu berjam-jam di luar karena tidak bisa nyandar,” cerita Alief kepada laman ini pada Kamis, 12 Juni 2019.

Ia juga bilang, terkadang kami bertanya ke sana, penumpang kapal mana yang paling diprioritaskan di sini? Dan, perlu juga mungkin kita tanyakan ini, apakah kapal penumpang ini sudah resmi beroperasi dan ada kerja sama dengan Pemkab Mateng atau belum?

“Kita juga belum tahu,” sebut Alief. Selain itu, tambahnya, di sini belum ada keamanan seperti polisi atau sekuriti, padahal kalau bagus pengelolaan di sini, saya yakin pelabuhan ini akan ramai dan akan banyak peminatnya.

“Padahal satu kesyukuran kappal malado langsung Bontang, dan inne malatenne rame. Tapik punnak tente tarrus ini pengelolaan pelabuhan dinik, transportasi laut Babana ke Bontang bisa-bisa macet,” ucap Alief, kesal.

Lain lagi dengan Rosmina. Ia adalah salah satu penumpang yang kerap menyeberang pulau melalui Pelabuhan Babana.

Menurut Rosmina, jadwal keberangkatan kapal ini juga belum tahu kapan, tidak pasti. Seharusnya pihak terkait segera membuat jadwal pelayaran kapal ini agar kita masyarakat tidak kebingungan, kapan lagi ada kapal tiba di pelabuhan Banana ini. “Enak kalo ada jadwalnya,” sarannya.

Pada Kamis, 12 Juni, transtipo mengonfirmasi Sekretaris Syahbandar Pelabuhan Babana, Arfawiah. Menurut Arfawiah, sebelumnya para penumpang serta masyarakat perlu tahu bahwa pegawai yang bertugas di pelabuhan ini memang belum memadai.

Para penumpang yang sedang menunggu datangnya kapal feri di pelataran Pelabuhan Pelni Babana, Mateng. (Foto: Ruli)

“Terkadang saya sendiri yang bertugas di pelabuhan ini sekaligus penanggungjawab kalau kepala syahbandar lagi tidak ada di tempat. Jadi permasalahan tentang beberapa keluhan dari penumpang, kita juga tidak salahkan. Tetapi masyarakat juga perlu tahu bahwa memang pernah ada kapal feri ini lambat sandar di pelabuhan, tapi bukan berarti kita lebih mengutamakan kapal ponton daripada kapal penumpang. Nah, ini tidak benar dan perlu diluruskan,” terang Arfawiah.

Masih Arfa, di sini kapal penumpang berjalan hampir kurang lebih tiga bulan. “Kami bekerja secara maksimal. Selalu mengutamakan kapal penumpang kalau mau masuk untuk nyadar,” ujar Arfawiah.

Memang, katanya, pernah suatu waktu kebetulan yang nyadar kapal ponton yang sedang memuat cpo, bersamaan dengan kedatangan kapal penumpang feri yang dari Kaltim, kapal ini juga mau nyadar.

Pada saat itu, jelasnya, kami sudah instruksikan agar aktifitas ponton dihentikan dan segera keluar dari pelabuhan. “Keluarnya lambat karena serba manual bukan asal tekan tombol beres. Ada yang beresin slang minyaknya, ada juga pekerja buruh terkadang bandel. Memang waktu itu ponton dalam keadaan memuat cpo. Nah, di sini memang sempat feri agak lama nyandar,” jelas Arfa lagi.

Tapi, ia tambahkan, waktu itu kita tidak mau tahu kami tetap menyuruh agar aktifitas memuat segera dihentikan, dan ponton secepatnya keluar karena feri penumpang mau merapat untuk nyandar.

“Jadi pernyataan penumpang yang mengatakan lebih mengutamakan kapal ponton daripada kapal penumpang sama sekali keliru dan tidak benar. Maklum jika penumpang berpendapat demikian karena mereka tidak tahu gimana kami di lapangan bertugas, dan kami benar-benar maksimal mengutamakan kapal penumpang ini,” tegasnya.

Terkait pengamanan, Arfa beri keterangan. Ia sebut bahwa sekuriti memang belum ada, disamping itu masih banyak fasilitas yang belum memadai: fasilitas kantor maupun untuk karyawan kebersihan. Tetapi kami sudah mengusulkan ke pemda terkait (Pemkab Mateng, red) mengenai kekurangan yang ada di pelabuhan ini, karena memang kita tetap berbenah diri terkait pelayanan di sini.

“Mudah-mudahan karena pelabuhan ini sudah mulai dikenal luas karena adanya kapal penumpang yang berlayar antara Mateng dan Kaltim. Semoga ke depan ada perhatian yang lebih dari pemda. Karena ini nantinya bisa menjadi salah satu kebanggaan dan sumber pendapatan masyarakat,” harap Arfawiah, bangga.

RULI SYAMSIL

TINGGALKAN KOMENTAR