Alfiah Ramli di Topoyo, Mamuju Tengah. (Foto: Ruli)

TRANSTIPO.com, Topoyo – Ia datang ke sebuah bilik sederhana tak jauh dari pusat tengah kota Topoyo ketika mentari sudah mulai condong ke barat.

Penutup pintu bagian bawah melalui samping sebuah rumah kecil itu terdengar mengeluarkan bunyi. Pintu seadanya yang terbuat dari papan triplek tipis di sore itu bersiul (bunyi.

Rupanya seorang tamu baru sudah melangkah masuk rumah. Ia lalu duduk melantai di ruang tengah. Tak ada kursi. Lantas dengan begitu, sang tuan rumah—yang tak lain adalah kru transtipo—menyilahklan tamunya ini bergeser ke bangunan sebelah.

Bangunan dimaksud adalah sebuah warung kopi kecil: Warkop xKPK. Memang, jauh sebelum saya bergabung di portal berita online ini saya sudah buka usaha warkop kecil-kecilan.

Di warkop inilah tetamu yang politisi ini beroleh tantangan baru: dikuliti pelbagai pertanyaan oleh sejumlah wartawan dan mahasiswa yang kebetulan sedang kongkow di warkop.

“Eh ada ibu caleg,” begitu sapaan pembuka lelaki muda seisi warkop xKPK pada Minggu sore, 12 Agustus 2018.

Nama ibu caleg dimaksud adalah Alfiah Ramli. Alfiah bergabung di Partai Amanat Nasional, dan masuk sebagai calon legislatif (Caleg) 2019 untuk daerah pemilihan 1 (Topoyo dan Tobadak) Mamuju Tengah.

“Dari mana bu,” tanya salah seorang wartawan. Setelah ia duduk di warkop yang diasuh nyonya Ruli Syamsil itu, Alfiah pun beri penjelasan.

“Mulai pagi tadi saya keliling ke desa-desa silaturahmi dengan warga. Kita harus memperkenalkan diri ke keluarga, teman-teman, dan sahabat. Kebetulan juga, tadi di desa sebelah, ya, bantu-bantu perbaikan rumah Ibadah—Gereja—di sana,” ujar Alfiah.

Salah seorang mahasiswa yang baru datang dari Makassar, Sulawesi Selatan, yang juga sedang duduk di warkop xKPK bertanya kepada Alfiah.

“Kita masih muda. Apa yang mendorong sehingga berpikir terjun ke dunia politik?” tanya mahasiswa ini.

Istri Supriadi K. Makmur ini kemudian menjawab. “Sebenarnya ini adalah panggilan hati,” jawab Alfiah.

Hidup ini, urai Alfiah, ternyata bukan hanya kita saja yang ingin menikmati. Saya juga ternyata berkewajiban—dan harus—tak tinggal diam ketika melihat teman-teman atau masyarakat yang betul-betul butuh dan perlu kita perjuangkan.

Alfiah Ramli. (Foto: Ruli)

Alfiah menilai, secara pribadi tak akan tinggal diam jika melihat kejanggalan yang hal itu kita mampu suarakan.

“Kita kan cewek, apakah kita tahu kalau politik itu kejam?” tanya salah seorang pengunjung warkop.

Dengan gamblang Alfiah beri jawaban. “Dalam politik tidak memadang cewek atau pun cowok, yang penting mampu. Memang politik itu kejam. Jauh-jauh hari saya sudah pikirkan, termasuk semua resiko dan suka-dukanya terjun ke dunia ini.”

Belum tersambut dari sang penanya, Alfiah pun dengan cekatan menimpali, “Tapi ini bukan coba-coba ya.” Ia tegaskan, “Saya betul-betul ingin berjuang dan mau menyuarakan suara-suara rakyat. Ini panggilan hati.”

Memilihnya politik ia sampirkan sebuah pernyataan yang idealis. “Berjuang bukan sekedar duduk manis saja, tapi bersungguh-sungguh ingin bersuara sebagai penyambung lidah masyarakat, khususnya dapil satu,” sebut Alfiah.

Baginya, jika masyarakat titipkan amanah kepada saya atau diberi kesempatan dan kepercayaan di dapil satu, maka dirinya akan melakukan beberapa hal, antara lain:

Pengorganisasian massa rakyat sesuai dengan latar belakang dan kepentingan rakyat; Memberdayakan perempuan dan pelatihan usaha industri rumah; Pengembangan perkebudnan, pertanian dan pendidikan petani untuk kemandirian; Memperdayakan pemuda dengan pelatihan sehingga menjadi tenaga siap pakai; Membangun usaha mikro kecil dan menengah lewat pembinaan dan pemberdayaan.

Alfiah Ramli lahir di Patulana, Mamuju Tengah, 4 April 1991. Ia bergelar Sarjana Ilmu Pendidikan. Sejak menikah dengan Supriadi, kini telah dikuruniai 1 orang anak.

Pilihan politiknya bergabung di Partai Amanat Nasional adalah murni keputusan pribadi. Baginya, semua partai bagus hanya saja terkadang orang-orang yang mengendarainya tidak tahu atau tidak peduli apa tujuan partai politik itu dibentuk.

Menurutnya, tidak sedikit politisi yang keluar dari jalur dan tujuan partai itu sendiri. Akibatnya, mereka hanya mementingkan kepentingan kelompok saja tanpa mau membesarkan partai dan melakukan tugas-tugas partai sebagai alat untuk bernegara.

“Bahwa sesungguhnya hakikat partai politik itu dibentuk dalam sebuah negara demokrasi untuk mewujudkan dari apa yang dimaksud dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat,” sebut Alfiah sembari tersenyum, idealis.

Soal kompetisi di Pileg 2019 nanti, Alfiah hanya sebut singkat: “Saya harus percaya diri.”

RULI SYAMSIL

TINGGALKAN KOMENTAR