Nur Asia, S,Pd, salah seorang guru honorer di SMK Negeri 1 Tobadak, Mamuju Tengah (Mateng). (Foto: Ruli)

TRANSTIPO.com, Topoyo – Pada Senin, 25 Maret 2019, kru laman ini bertemu dengan salah seorang guru honorer SMK Negeri 1 Tobadak di Desa Tobadak, Kecamatan Tobadak, Kabupaten Mamuju Tengah (Mateng).

Nama seorang guru honorer dimaksud adalah Nur Asia – seorang perempuan, sarjana pendidikan. Menurut Nur Asia, terkait gaji guru honorer di SMKN 1 Tobadak yang belum dibayarkan itu, pihaknya membenarkan sebab perihal penggajian dalam transisi.

“Dulu gaji honorer guru di sini itu dibayarkan oleh provinsi, sekarang di sini yang tanggung bayarkan gajinya. Maklum ini transisi, jadi agak terlambat,” kata Nur Asia.

Ia tambahkan, ada memang beberapa teman guru honorer yang tidak bisa ful masuk setiap hari karena mereka mencari pembeli bensin di luar, misalnya. Jadi ada kerja sampingan di luar, apa itu bertani atau berusaha lainnya.

Mengenai keterangan salah seorang siswa yang benama Putu, yang mengaku jarang belajar di sekolah selain dua saja bidang studi yakni Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris, mendapat klarifikasi dari Nur Asia.

Menurutnya, semua bidang studi diajarkan setiap hari sekolah SMKN 1 Tobadak. Katanya, tidak benar kalau hanya dua bidang studi saja.

“Dari riwayat siswa, Budi itu, termasukk siswa yang jarang masuk belajar di kelas tapi main-main di luar saja,” ujar Nur Asia.

Perihal kehadiran guru-guru di sekolah, Nur Asia juga bantah jika disebutkan kehadiran guru kurang.

“Kita lihat saja absensi guru serta siswa, pernyataan siswa itu tidak benar dan tidak bisa dipercaya. Siswa ini sendiri jarang masuk sekolah serta sering bolos, bisa kita cek absen siswa ini,” ujar Nur Asia.

Kepala Sekolah SMKN 1 Tobadak, Muchlis Jalani (kanan). (Foto: Ruli)

Menurut Muchlis Jalani, Kepala SMK 1 Tobadak, memang waktu dulu sebelum turun surat edaran gubernur, yang namanya honor dan kontrak itu memang ada, tapi pada waktu itu bukan guru honor yang keberetan, tapi guru kontrak yang sudah memiliki SK dari provinsi itu yang protes pada waktu itu.

Bahkan, lanjut Muchlis Jalani, gaji kontrak saat itu ditangani provinsi bukan sekolah. “Jadi informasi itu salah. Bukan pihak sekolah tidak ada perhatian kepada guru honorer, itu sama sekali tidak benar. Waktu itu guru kontrak di tiap sekolah menyuarakan masalah honornya, dan saat itu suara itu serentak di seluruh kota bukan hanya sekolah ini saja,” jelas Muchlis Jalani.

Ia juga tambahkan, klarifikasi dan mau meluruskan informasi yang kurang tepat. “Mereka merasa berkeberatan dengan informasi tersebut yang akan merugikan pihak sekolah, seharusnya yang seperti ini harus dicari pada sumber yang tepat karena ini sensitif. Nyata di 2018 dan masuk 2019 para guru kami terima perbulan Rp1 juta dan terus dibayarkan. Lancarji,” jelas Kepala Sekolah SMKN 1 Tobadak, Muchlis Jalani.

Ia juga sampaikan, justru sekolah ini, dan ini memang banyak yang belum mengetahui, bahwa di sekolah ini siswa mulai masuk mendaftar sampai hari ini, kami dari pihak sekolah tidak ada memintai atau memungut biaya sepeser pun dari anak-anak siswa kami.

“Gratis semua tanpa dipungut biaya. kalau di sekolah lain mungkin ada,” tutup Muchlis Jalani.

RULI SYAMSIL

TINGGALKAN KOMENTAR