Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Mamuju Tengah (Mateng) H. Busdir, S.Pd, MM (kiri) saat memberikan sambutan. (Foto: Ruli)

TRANSTIPO.com, Topoyo – Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Mamuju Tengah (Mateng) H. Busdir, S.Pd, MM menegaskan terkait data pokok pendidikan (Dapodik).

Menurut H. Busdir, data yang bisa diakses melalui aplikasi ini sangat penting guna memenuhi kualitas jajaran Dinas Pendidikan, termasuk bagi lingkungan sekolah di daerah ini.

“Menurut saya, operator ini adalah manusia langka. Tidak semua orang bisa menjadi operator. Dalam melaksanakan tugasnya, operator ini harus selalu fokus, dia harus teliti, maksimal dalam menjalankan tugasnya sebagai operator. Dia itu bekerja sambil konsentrasi berpikir. Dia harus bersabar sambil berpikir supaya bagaimana kita punya data maksimal,” ujar H Busdir saat menyampaikan sambutan sekaligus membuka secara resmi kegiatan pelatihan penginputan Dapodik melalui aplikasi Dapodik-e 2019 bagi jenjang SD dan SMP yang berlangsung di Wisma Widya Buah, Topoyo pada Jumat, 26 April 2019.

Dengan pelatihan ini, lanjut Busdir, ke depan kita tidak lagi saling melempar tanggungjawab soal data.

“Melalui pelatihan ini supaya permasalahan selama ini tidak terulang. Setiap permasalahan kita carikan solusinya secara bersama. Jangan lagi ke depan kita saling lempar tanggungjawab soal input data oleh operator,” tegas H. Busdir.

Penigkatan kualitas sumberdaya operator menjadi perhatian Dinas Pendidikan Mamuju Tengah. Bahkan, Busdir berujar agar tunjangan kesejahteraan para tenaga  operator bisa dinaikkan.

Keterbatasan anggaran pula sehingga pada pelatihan kali ini diikuti dari perwakilan setiap kecamatan dengan jumlah peserta 50 orang. Namun, yang pasti, menurut H Busdir, kualitas dan kemampuan operator tetap ditingkatkan sumberdayanya.

“Operator adalah rohnya sekolah. Valid atau tidaknya data sekolah, baik itu data Gtk, tendik, dan peserta didik tergantung pada kemampuan operator, sehingga dia harus fokus,” ujar H. Busdir.

Lebih rinci dicontohkan oleh Kepala Dinas Pendidikan Mateng, ada bantuan revitalisasi sekolah yang diusulkan kurang lebih 100 sekolah melalui Kementerian PUPR. Sedangkan yang lolos hanya 24 sekolah. Usulan melalui data yang dikirim ke pusat harus detail.

Ada sekolah yang dilaporkan ruangan guru, tetapi dipakai untuk ruangan kelas. Padahal, lanjutnya, ini tidak bisa dilaporkan. Contoh lain, ada ruangan perpustakaan tetapi dilaporkan digunakan untuk ruangan kepala sekolah atau ruangan guru. Termasuk juga laporan data mengenai penerimaan guru. Harus diuraikan. Sekolah tersebut hanya ada kepala sekolah yang PNS (ASN), guru 6 orang, siswa hanya 40 orang. Perbandingan rasio kebutuhan guru dengan siswa adalah; 1 guru : 32 siswa.

“Kita tidak bisa berhitung jumah siswa kelas 1 sampai kelas enam, tetapi rasioadalah 32: 1. Justru ada anggapan bahwa kenapa SD terpencil selalu kekurangan guru. Padahal, ada rasio perbandingan guru dan siswa yang menjadi pertimbangan,” urai H. Busdir lagi.

RULI SYAMSIL

TINGGALKAN KOMENTAR