SMK Negeri 1 Tobadak di Desa Tobadak, Kecamatan Tobadak, Kabupaten Mateng, Sulbar. (Foto: Ruli)
Salah seorang guru honorer di SMK Negeri 1 Tobadak di Desa Tobadak, Kecamatan Tobadak, Kabupaten Mateng, Sulbar. (Foto: Ruli)

TRANSTIPO.com, Topoyo – Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Negeri 1 Tobadak, Kecamatan Tobadak, Mamuju Tengah (Mateng) menuai sorotan dari orang tua siswa.

Keluhan mereka, salah satunya, yakni di SMKN 1 Tobadak, sudah hampir hampir 2 tahun yang hanya aktif mengajar hanya guru kontrak/honor saja, dan mata pelajaran yang diajarkan adalah Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris, sedangkan mata pelajaran yang lain jarang diajarkan.

“Anak saya Khairul, sekarang sudah kelas 2. Selama masuk di sekolah SMK ini, kalo  ke sekolah kebanyakan banyak main di warung saja bersama teman-temannya, setelah itu siang pulang lagi,” cerita Santi, ibu Khairul.

Ibu Santi juga bilang, “Kadang saya tanya belajar apa tadik nak?” Lalu anaknya, Khairul menjawab, “Tidak belajar lagi mak, guru tidak ada tidak masuk lagi.”

Cerita singkat ibu Santi di atas sekadar penggambaran potret buram SMK Negeri 1 Tobadak.

Lanjut Santi, sering sekali saya tanya anak saya setibanya di rumah. Dan tetap jawaban anak saya sama: “Tidak belajar, tidak ada guru, cuman di warung sama teman nongkrong.”

Menurut Santi, parahnya manakala tiba waktu ujian. Parahnya, katanya, anak-anak mau jawab apa dengan soal-soal yang diberikan saat ujian sebab jarang belajar di sekolah.

“Giliran anak-anak tidak naik kelas atau tidak lulus, yang disalahkan anak-anak atau kami orangtuanya, sementara gurunya malas masuk mengajar,” kata Santi kepada kru laman ini.

Di SMK Negeri 1 Tobadak, kru laman ini menemui Putu, salah seorang siswa di sekolah ini.

“Selama saya masuk sekolah di sini, mulai kelas 1 hingga saya sekarang kelas 2, memang selama ini kami jarang sekali belajar. Hanyak yang aktif dan sering kami  terima pelajaran yaitu mata pelajaran Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris, mata pelajaran lain jarang,” ujar Putu.

I Gede Satriawan adalah salah seorang guru honorer di SMK Negeri 1 Tobadak di Desa Tobadak, Kecamatan Tobadak, Kabupaten Mateng, Sulbar. (Foto: Ruli)

Putu mengaku jika hanya sekali seminggu belajar.

“Belajar sih tapi kadang hanya sekali seminggu, bahkan dalam seminggu hanya kadang dua mata pelajaran tadi itu, Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris yang dipelajari. Kemaren tiba-tiba dibilang ujian dan di soal-soal yang diberikan banyak sekali, kita asal jawab saja karena kita memang ga’ pernah pelajari. Asal-asal saja,” jelas Putu.

Siswa Putu berharap, mudah-mudah sistem belajar yang seperti ini tahun depan bisa berubah agar kita tidak ketinggalan dengan sekolah-sekolah lainnya.

“Selama ini kebanyakan teman-teman datang ke sekolah nongkrong di ruangan dan di warung. Jadi kami berharap tahun depan semua mata pelajaran kami pelajari,” harap Putu.

Saat dikonfirmasi ke guru-guru di SMKN Tobadak di ruangannya terkait kondisi siswa, diperoleh informasi bahwa ternyata salah satu penyebab kurangnya siswa belajar di sekolah tersebut dikarenakan gaji/honor para guru kontrak yang sudah mengabdi masih tetap tidak sesuai, bahkan ada yang belum terbayarkan 5 s.d. 8 bulan.

“Sekolah SMKN Tobadak ini berdiri tahun 2012 dan saya masuk sejak tahun 2016. Data pada 2017–2019, sebanyak 257 siswa dengan guru kontrak/honorer yang tadinya berjumlah 30 tenaga pengajar, sekarang hanya berjumlah 15 guru kontrak/honorer yang masih bertahan untuk mengapdi. Satu persatu mulai hilang alias mengundurkan diri,” jelas I Gede Satriawan, salah seorang guru di sekolah ini, Kamis, 21 Maret 2019.

Dari 15 guru honorer yang masih tersisa untuk mengabdi di sekolah ini, terang I Gede, masih ada beberapa teman yang sudah mengabdi di sekolah ini 5 s.d. 7 tahun tapi belum terima honornya. Sebagian ada yang sudah keluar dan beralih profesi jadi petani.

“Siswa di sini belajar juga tapi mungkin kurang maksimal, dan honor guru kontrak yang kami terima di sini Rp1 juta perlima bulan sekali,” kata I Gede Satriawan, guru kontrak Bahasa Indonesia.

Ke depan, Gede berharap kepada pemerintah agar dikaji lagi dan diperhatikan honor para guru kontrak di sini, terutama yang sudah mengabdi 5–7 tahun.

Laman ini hendak mengonfirmasi Kepala Sekolah SMKN 1 Tobadak. “Hari ini kepala sekolah tidak ada karena ke Mamuju berobat,” ujar I Gede Satriawan.

RULI SYAMSIL

TINGGALKAN KOMENTAR