Seru Ismail di Tengah ‘Bintang 9’

580
Silaturrahmi dan Dialog Keluarga Besa NU Sulbar Mamuju, Selasa malam, 30 Agustus 2016 (Foto: Arwin).

TRANSTIPO.com, Mamuju –Ismail Zainuddin, salah satu tokoh Nahdlatul Ulama (NU) di Sulawesi Barat, kembali masuk barisan ‘Bintang 9’ – sebutan organisasi yang bernaung di bawah ‘perahu besar’ bernama NU. Keluarga Besar Nahdlatul Ulama (KBNU) Sulawesi Barat menyelenggarakan sebuah hajatan rutin dalam bentuk silaturahmi sekaligus dialog sesama kader.

Acara ini diprakarsai oleh Ikatan Alumni Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (IKA PMII) Sulawesi Barat pada Selasa malam, 30 Agustus 2016, bertempat di Rumah Jabatan Sekda Sulawesi Barat di Rangas baru, Simboro, Mamuju, Sulawesi Barat.

Tokoh NU dan senior PMII yang hadir antara lain, Syaiful Bahri Ansori (Anggota DPR RI Fraksi PKB), Usman Sadikin (Mantan Sekjen PB PMII), Ismail Zainuddin (Sekda Sulawesi Barat), Hasan Bado, Harianto Ogi, Zahrir, Amran HB, Muh. Yahya Hanafi, Muh. Bakri Bestari, Ince Irwan Tahir, Adnan Nota, Sudirman, dan Ibnu Imat Totori.

Ismail Zainuddin mengatakan, PMII adalah tempat kita mengabdi. PMII di Sulawesi Barat cukup elegan, dinamis dalam mengikuti perkembangan zaman.

“Ini rumah jabatan saya, biarkanlah selalu digunakan oleh kader-kader PMII.
Ada dua yang saya banggakan yaitu guru dan PMII. Andaikata saya bukan bagian dari PMII maka, mungkin, saya tak bakal jadi Sekda Sulawesi Barat,” sebut mantan Kadis Diknas Sulawesi Barat ini.

Ismail menganggap apa yang dia miliki itu sepertinya semuanya untuk PMII. “Saya sering bilang kepada kader-kader PMII, jika ingin melaksanakan kegiatan dengan kapasitas 10-50 orang maka silahkan pakai rujab ini, tapi jika kapasitasnya di atas 1000 orang maka silahkan pakai auditorium di lantai 4 Kantor Gubernur Sulawesi Barat,” kata Ismail.

Di tempat yang sama, Syaiful Bahri Ansori mengatakan, “Kita harus optimis bahwa PMII mampu membangun bangsa ini. Orang PMII itu bisa mengelola apa pun. Mau jadi sekda bisa, mau jadi politisi juga bisa,” kata Syaiful Bahri Ansori.

Legislator di Senayan itu bilang, “PMII harus pandai dan jeli melihat kehidupan ini. Sebagai mahasiswa tentu harus bisa melakukan sesuatu yang bisa bermanfaat untuk bangsa dan negara ini. Generasi adalah penerus bangsa, bukan malah memusuhi bangsa dan negara.”

Syaiful menutup pesannya kepada yuniornya, “PMII harus pandai-pandai melihat ruang kosong, salah satunya bagaimana agar kader PMII itu aktif di advokasi. Tapi sekarang ini kita sulit mencari kader PMII yang aktif di advokasi, seperti advokasi hukum.”

ANDI ARWIN

TINGGALKAN KOMENTAR