Seminar Keagamaan, Upaya Tangkal Paham Radikalisme

389

TRANSTIPO.com, Mamuju – Seminar keagamaan dalam penguatan nilai dan paham keagamaan diselenggarakan oleh Manakarra Progresif dan Ipmapus Cabang Mamuju, Hotel Mamuju Beach, Mamuju, Rabu pagi, 28 September 2016.

Dalam seminar keagamaan tersebut menghadirkan narasumbe, seperti H. Musa (Wakil Ketua MUI Sulbar), Rahmat Idrus (Ketua KIP Sulbar), Amril Daeng Marrui (Ketua KNPI Mamuju), Syarifuddin Mandegar (Penulis), serta perwakilan OKP seperti PMII, HMI, Ipmapus, Stai Al-Azhari, IMM, dan undangan.

Musa mengatakan, di zaman sekarang kemajuan dan perkembangan teknologi telah membawa dampak positif dan negatif.

“Kemajuan teknologi terkadang pula diikuti hadirnya paham-paham ekstrim, seperti paham radikalisme. Perbedaan dalam agama harus kita pelihara dan saling menghargai satu sama lain. Di Indonesia ini flural atau tumbuh fluralisme yang sehat (berbeda-beda),” kata Ketua MUI Sulbar ini.

Lanjutnya Musa, gerkaan terorisme biasanya merekrut orang, utamanya generasi muda. Paham yang radikal ini terkadang membawa-bawa nama agama. Mereka malah menggaransi bahwa kelak ketika meninggal akan mati syahid.

“Mereka juga—pengikut paham radikal itu—menegaskan bahwa siapa yang tak sepaham dengan mereka maka halal darahnya dibunuh. Mereka juga mencita-citakan bangsa ini akan diganti dengan negara Islam, negara kekhalifahan,” jelas Musa.

Rahmat Idrus, Ketua Komisi Informasi Publik (KIP) Sulbar juga memberikan suguhan materi kepada puluhan generasi muda Sulbar yang ikut dalam seminar keagamaan tersebut. Dirinya menegaskan bahwa peta potensi kerawanan terorisme di Sulbar itu sangat besar.

“Perang antar agama saat sekarang ini itu sangat besar. Perang antar warna kulit itu sering terjadi di luar daerah ini. Hal itu kemudian menjadi tantangan kita, jangan sampai itu terjadi di daerah ini (Sulbar, red),” kata Ramhat.

Rahmat menilai, data menunjukkan Negara kita sudah mulai tak aman dengan berbagai macam ancaman terorisme. Ini tantangan kita sebagai generasi muda.

“Keterlibatan generasi muda di Idonesia sangat besar. Rentan umur antara 15 – 30 tahun yang terlibat dalam gerakan terorisme dan paham-paham radikalisme,” tutup Rahmat Idrus.

ANDI ARWIN

TINGGALKAN KOMENTAR