Kepala Karantina Pertanian Mamuju Akhmad Alfaraby sedang mempimpin rapat dalam gelaran sosialisasi bersama PT Pos Indonesia, Jasa Pengiriman dan Instansi Terkait dalam rangka mendorong akselerasi eksport sarang burung wallet, Mamuju, Selasa, 6 Desember 2017. (Foto: Arisman Saputra)

TRANSTIPO.com, Mamuju – Ribuan burung yang ada di muka bumi ini, tapi ada satu jenis burung yang memiliki keistimewaan dimana burung itu dapat memberikan rezeki yang melimpah hanya dengan membuat sarangnya.

Siapa yang tidak kenal dengan burung walet, salah satu jenis burung yang memiliki keistimewaan di antara ribuan jenis burung lain di dunia. Burung walet terkenal di beberapa belahan negara, salah satunya di negeri tirai bambu—China—dimana ‘air liur’ burung walet bisa diolah menjadi ‘bumbu’ makanan lezat dan obat yang dapat menyembuhkan berbagai macam penyakit.

Melihat potensi pembuatan sarang burung walet yang ada Provinsi Sulbar, Badan Karantina Pertanian Mamuju menggelar sosialisasi bersama PT Pos Indonesia, Jasa Pengiriman dan instansi terkait dalam rangka mendorong akselerasi eksport ‘air liur’ burung wallet, Selasa, 6 Desember 2017.

Acara yang digelar di Kantor Karantina Mamuju (Rangas), Simboro, dihadiri dan dipimpin oleh Kepala Karantina Mamuju Ahmad Alfaraby, Kepala Kantor Pos Mamuju Firman, dan beberapa perwakilan jasa pengiriman yang ada di Mamuju, termasuk pedagang sarang burung walet.

Diwawancarai seusai acara, Ahmad Alfaraby mengatakan, tujuan kegiatan ini karena kami melihat potensinya yang ada di Sulbar, termasuk sawit dan sarang burung walet sangat besar.

“Kami di Karantina Pertanian Mamuju melihat potensi sarang burung walet di Sulbar sangat besa,” kata Ahmad Alfaraby.

Kami dari Karantina Pertanian Mamuju, kata Ahmad, akan data sarang burung walet yang keluar dari Sulbar sampai sekarang sebesar 1.740 kilogram,  dimana  ini sala satubcontoh besar bahwa potensi sarang burung walet kita di Sulbar itu sangat luar biasa dan menjanjikan.

Olehnya itu, lanjut Ahmad, kami harapkan dengan sosialisasi ini sarang burung walet di Sulbar harus diproses dan dikemas di Sulbar juga agar kita dapat mengekspor langsung ke luar negeri. Dan, itu kami akan jamin karena sudah melalui pengkarantinaan dan lebel dari sini.

Dengan prores ini, semua yang dilakukan di Sulbar tidak lagi dikirim ke daerah lain untuk pembersihannya, artinya secara otomatis harga dari sarang burung walet itu akan meningkat, dan pasti kesejahteraan pengusaha sarang burung walet di Sulbar juga ikut meningkat.

“Bila proses pembersihan dan pengemasan burung walet di lakukan di Sulbar sendiri, maka harga yang dulunya Rp 17 juta perkilo sebelum dibersikan, dan jika rencana ini berhasil sudah bisa sampai Rp 40 juta atau bahkan lebih,” katanya.

Masih Ahmad, kami juga akan menjamin keamanan barang yang akan dieksport ke luar negeri, karena sudah diregistrasi dari karantina yang sudah mempunyai label.

Bila ada ontum di karantina yang bermain terhadap sarang burung walet apa tindakannya?

Ahmad menjawab, “Kami akan lakukan koordinasi bila itu terjadi di luar daerah Sulbar. Dan bila ada anggota saya yang bermain-main, maka mereka akan dikenakan sanksi karena aturannya sudah jelas, bahkan bisa dipecat kalau mereka terbukti terlibat.”

Harapannya? “Kami berharap dengan kegiatan ini ada usaha yang dilakukan,  terutama kepada pengusaha sarang burung walet untuk bisa memproses barangnya sendiri di Mamuju agar dapat meningkatkan daya beli,” kata Ahmad.

ARISMAN SAPUTRA

TINGGALKAN KOMENTAR