Ketua HMI Cabang Manakarra Herlin (tengah) dan Sekretaris HMI Cabang Manakarra Amiruddin alias Sompak (kiri) mengadakan jumpa pers di Warkom MI, Mamuju, Sabtu, 8 Oktober 2016. (Foto: Andi Arwin)

Semalam, tepat pukul 21:35 wita, laman ini menghubungi Kabid Humas Polda Sulbar AKBP Mashura.

“Maaf ya pak, saya belum lihat smsnya. Saya baru turun dari pesawat, baru saja hidupkan hp,” begitu sahutan Bunda, sapaan Mashura, ketika menyambut telepon Sarman SHD—kru laman ini.

Berikut hasil jumpa pers HMI Cabang Manakarra, Sabtu siang, dan tentu keterangan Bunda.

TRANSTIPO.com, Mamuju – Pada Sabtu siang, 8 Oktober 2016, Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Manakarra mengadakan jumpa pers di warung kopi MI, Mamuju. Ketua dan sekretaris lembaga mahasiswa ekstra kampus ini, yakni Herlin dan Amiruddin alias Sompak yang menginisiasi jumpa pers ini.

Herlin dan Sompak mengisahkan kronologi kejadian yang mereka alami ketika sekitar 20 mahasiswa HMI melakukan demonstrasi di Polres Mamuju dan Polda Sulbar pada Kamis, 6 Oktober lalu di hadapan dua lusinan wartawan.

Menurut Herlin, apa yang kami sampaikan pada hari ini (Sabtu kemarin, red) tak ada rekayasa. Dirinya berani bersumpah demi Al-Quran jika apa yang diceritakan ini dikurangi dan tambah-tambahi.

“Kapolres Mamuju jadi saksi di ruangan itu bersama Kasat Intel Polres Mamuju dan anggota Polda yang lain. Sebetulnya, semuanya berawal dari aksi kami di Polres Mamuju beberapa jam sebelumnya terkait dugaan yang tak bagus yang dilakukan oleh pihak Polres Mamuju kepada salah seorang tersangaka yang sedang ditangani pihak Polres,” beber Herlin.

Ceritanya, menurut Herlin, mahasiswa yang berdemo saat itu bergeser dari Polres Mamuju ke Polda Sulbar lantaran ada beberapa oknum polisi yang memukul. Di antara polisi itu ada oknum yang tak berseragam polisi mengajak mahasiswa berkelahi.

“Yang lebih miris lagi sebab oknum itu melempar puntung rokok yang masih menyala kepada Sekretaris HMI Cabang Manakarra (Sompak, red),” kata Herlin.

Masih pengakuan HMI dalam jumpa pers itu, mahasiswa kemudian menuju ke kantor Polda Sulbar untuk melaporkan kejadian yang mereka alami selama berdemo di Polres Mamuju. Separuh mahasiswa meninggalkan kantor Polda ketika waktu dzuhur tiba.

Menurut Herlin dan Sompak, kami masih ada 7 orang yang tinggal di Polda. Tak lama kemudian Kapolda Sulbar datang di kantor Polda Sulbar dan memanggil kami dengan nada yang keras.

“Kami lalu baris di tengah halaman kantor Polda Sulbar,” kata keduanya.

Menurut Sompak, dirinya tak terima perlakuan baris-berbaris di halaman itu. Setelah itu, masih Sompak, kami diajak masuk ruangan. Sebelum mahasiswa masuk kantor Polda, mereka (mahasiswa) diminta untuk bersihkan halaman kantor Polda dengan memunguti puntung rokok yang berserakan di halaman.

Setibanya di ruangan Propam Polda, “Ambil kursi yang tidak dapat kursi silahkan berdiri,” kata Herlin, mengulang kata-kata pihak Polda.

“Kami baris dan diminta menunjukkan kartu mahasiswa. Memang hanya 2 orang yang membawa kartu mahasiswa yaitu saya dan satu orang rekan lagi,” kata Herlin.

Masih cerita Herlin, Kapolda Sulbar mengatakan, “Semua berdiri.” Seorang mahasiswa yang bernama Lukman protes atas perintah Kapolda.

Sejurus dengan itu Kapolda Sulbar maju dan seketika itu pula Lukman bergerak menghindar dengan maksud masuk ke tengah rekan-rekannya. Di saat itulah Lukman ditarik oleh oknum polisi Polda Sulbar.

Melihat kejadian itu, Sompak merekam dengan memakai handphonenya. “Kamu merekam ya,” kata Herlin menirukan perkataan oknum polisi. Saat itulah hp Sompak diambil polisi. “Seorang ibu mengambil hp saya lalu dia hapus hasil rekaman atas kejadian barusan,” cerita Sompak.

“Tidak usah melakukan aksi unjuk rasa, cukup kita diskusi di dalam ruangan. Kamu tidak punya hak meminta keterangan di Reskrim. Tetapi saya minta datang untuk sekadar mengonfirmasi apa yang disampaikan teman-teman kepada saya,” kata Herlin mengulang kata-kata yang didengar di Polda.

Dengan kejadian ini, kata Herlin, kami hanya minta kepada Polda Sulbar untuk minta maaf kepada HMI Cabang Manakarra.

“Saya berani bertatap muka dengan Polda Sulbar jika apa yang saya katakan itu tak benar. Kami tak bisa bersinerji dengan Polda Sulbar, dan kami tak terima perlakuan Polda Sulbar,” kunci Herlin.

Menurut Kabid Humas Polda Sulbar, “Tidak benar kalau ada kekerasan pada HMI, apalagi mau rampas-rampas hp milik mahasiwa. Saat mereka di ruang Propam Polda Sulbar, mereka bikin laporan dan hp mereka dia taruh di meja. Tidak ada yang rampas,” kata Mashura, yang akrab disapa Bunda ini.

Di ujung telepon, Mashura bercerita:

“Awalnya begini. Pada Kamis lalu, mahasiswa HMI Mamuju datang ke Polres Mamuju. Mereka mengadukan bahwa ada dugaan 4 orang tahanan mengalami tindak kekerasan di tahanan Polres Mamuju. 4 tahanan itu adalah diduga pelaku tindak pencurian kendaraan bermotor (curanmor). Mungkin kelihatan ada sesuatu yang apa pada tahanan itu, padahal itu begitu saat mereka melakukan tindak pencurian bermotor. Karena adek-adek mahasiswa tidak puas, maka mereka mendatangi Polda Sulbar.”

Menurut argumen Bunda, menurut informasi dari Polres—yang diketahui kemudian—ada mahasiswa yang berlari dan panjat pagar Polres.

“Saya sama pak Himawan Sugeha, Kabid Propam Polda Sulbar, yang terima mahasiwa karena waktu itu bersamaan dengan acara Peletakan Baru Pertama Pembangunan Rusun Polres Mamuju, dan pak Kapolda serta rombongan menghadiri acara itu,” cerita Mashura.

Kapolda Sulbar Brigjen Pol Lukman Wahyu Harianto sedang beri sambutan pada Acara Peletakan Batu Pertama Pembangunan Rusun Polres Mamuju, Kamis, 6 Oktober 2016. (Foto: Humas Polda Sulbar)
Kapolda Sulbar Brigjen Pol Lukman Wahyu Harianto sedang beri sambutan pada Acara Peletakan Batu Pertama Pembangunan Rusun Polres Mamuju, Kamis, 6 Oktober 2016. (Foto: Humas Polda Sulbar)

Memang, sesuai gambar yang beredar di Group WhatsApp Mitra Humas Polda Sulbar, pada Kamis menjelang siang, 6 Oktober 2016, Kapolda Sulbar Brigjen Pol Lukman Wahyu Harianto sedang ‘memimpin’ acara Peletakan Batu Pertama Pembangunan Rusun Polres Mamuju.

Lanjut cerita Bunda, “Saya dan pak Himawan meminta mahasiswa untuk masukkan laporan resmi. Jika terbukti apa yang adek-adek sampaikan akan diberikan tindakan. Jadi kami minta 4 orang mahasiswa sebagai perwakilan untuk masuk ke ruang Propam Polda Sulbar. Saat di ruangan Propam tidak ada perampasan hp milik mahasiswa. Hp mereka taruh di atas meja.”

Mengenai puntung rokok di halaman Polda, Bunda juga mafhum jika beliau minta pada adek-adek untuk bersihkan, karena tentu selama di situ mereka merokok.

Tak lama kemudian, kata Bunda Mashura, Kapolda Sulbar Lukman Wahyu Harianto dan Kapolres Mamuju Sonny Mahar Budi tiba di kantor Polda Sulbar.

“Saya juga ada di situ. Dan seorang pejabat Polda lagi. Tidak ada pemaksaan atau semacam kekerasan yang terjadi pak. Malah ketika mahasiswa hendak pulang, beliau minta agar diambil bukti laporannya. Itu sebagai bukti pegangan mahasiswa bahwa telah melakukan laporan ke Polda Sulbar,” urai Kabid Humas Polda Sulbar ini.

“Tidak ada perampasan hp nak dan tidak ada kekerasan, yang ada pelayanan penerimaan laporan dan penyerahan bukti laporan,” demikian isi sms Bunda menjawab pertanyaan Sarman SHD—kru transtipo.com—Sabtu malam, tepat pukul 22:27 wita.

RISMAN SAPUTRA/ANDI ARWIN/SARMAN SHD

TINGGALKAN KOMENTAR