Mantan Calon Wakil Bupati Mamuju Haji Damris (dua dari kiri) dan Anggota DPRD Mamuju Muh. Imran (kanan) dalam sebuah acara KKB PUS Indonesia di Mamuju, beberapa waktu. (Foto: Ist.)
Mantan Calon Wakil Bupati Mamuju Haji Damris (dua dari kiri) dan Anggota DPRD Mamuju Muh. Imran (kanan) dalam sebuah acara KKB PUS Indonesia di Mamuju, beberapa waktu. (Foto: Ist.)

Dua gadis Baco’ dikurung lantaran gila. Ibunya telah tiada. Keluarga ini susah hidupnya. Masihkah Anda tak tergerak untuk berdonasi?

TRANSTIPO.com, Mamuju – Rapat belum dibuka secara semi-resmi ketika Munandar Wijaya menuntun laman ini memelotot beberapa gambar di ponsel pintarnya. Pada Senin sore, 21 November 2016, memang KKB PUS Indonesia dalam jumlah terbatas sedang rapat di Warkop 89, Mamuju.

Seusai menunjukkan foto itu, Munandar Wijaya lalu bercerita. “Bapak ini masih keluarga kita. Beliau juga dari PUS. Kemarin (Minggu, 20 November, red) beliau ini datang ke rumah. Diceritakanlah apa yang dialami dalam keluarganya,” begitu Wakil Ketua DPRD Sulbar ini, yang juga Ketua Harian KKB PUS Indonesia berkisah pada laman ini, dan untuk sekalian peserta rapat di Senin sore itu.

“Kasihan, hidupnya susah. Mungkin ada baiknya jika kita sambangi ke sana. Ya, sekadar mengunjungi jauh lebih berarti dari apa pun yang akan kita lakukan pada keluarga bapak ini,” kata Munandar lagi yang kemudian ketika Zakir Akbar—Ketum KKB PUS Indonesia—membuka rapat, sejurus dengan itu menjadikannya agenda utama yang akan difollow-up kemudian.

Wakil Ketua DPRD Sulbar Munandar Wijaya (tengah) di Mamuju, beberapa waktu lalu. (Foto: Zulkifli)
Wakil Ketua DPRD Sulbar Munandar Wijaya (tengah) di Mamuju, beberapa waktu lalu. (Foto: Zulkifli)

Langsung action. Telah disepakati dalam rapat bahwa pada Selasa sore, 22 November 2016, KKB PUS Indonesia—yang luang waktu tentunya—akan mengunjungi bapak Baco’—keluarga tak berada lagi kena musibah yang tinggal di bilangan So’dok, Mamuju kota.

“Saya akan bawa 2 karung beras, atau berapakah,” kata Yacub berani jamin pada rapat itu. Disetujui. “Tapi yag lebih penting dulu adalah kita mengunjungi beliau. Soal bawa apa dan sesuatu yang lainnya dikondisikan sesuai kerelaan,” Zakir Akbar menimpali.

Jarak dari Mamuju kota ke So’dok (tak jauh dari tempat wisata permandian yang terkenal itu) tak lebih 3 kilometer. Di So’dok itulah, hidup seorang keluarga yang dikepalai oleh Baco’.

So’dok masih dalam wilayah Lingkungan Danga Timur, Kelurahan Binanga, Kecamatan Mamuju, Kabupaten Mamuju. “Rumah Baco’ tak terlampau jauh dari pusat kota Mamuju,” begitu salah seorang pemuda PUS di Mamuju beri komentar untuk transtipo.com.

Untuk mencapai rumah Baco’ harus jalan kaki. Kendaraan roda dua pun tak bisa menjangkaunya. Jalan setapak yang membukit itu hanya lebih 20 meter. Tapi, bagi anak-anak muda yang sudah tak terbiasa mendaki gunung, nafas tersengal-sengal sekian menit ketika sudah sampai di bawah loteng rumah Baco’.

“Menantang, tapi ada sebersik kebahagiaan bathin karena bisa bertemu dengan keluarga yang sedang dirundung papah,’ kata Jasman Rantedoda kepada laman ini sepulangnya dari So’dok, malam tadi.

Menurut Munandar Wijaya, sudah 7 tahun kedua anak Baco’ ini dikurung lantaran mengalami gangguan jiwa. “Sebetulnya tidak juga disebut gila karena Mariana (18) dan Icci’ (21) masih bisa urus dirinya jika mau buang air. Tapi biasa juga mengamuk, makanya dikurung,” kata Munandar kepada laman ini.

Menurut Ashari Rauf, jurnalis Mamuju yang ikut mengunjungi keluarga Baco’, kedua anak Baco’ ini dikurung di dua tempat yang berbeda dengan tak sehelai pun kain di badannya. Kata ayahnya, kedua puterinya itu tak suka kalau ada pakaian di badannya.

KKB PUS Indonesia ketika sedang mengunjungi keluarga bapak Baco' di So'dok, Mamuju, Selasa, 22 November 2016. (Foto: Ashari Rauf)
KKB PUS Indonesia ketika sedang mengunjungi keluarga bapak Baco’ di So’dok, Mamuju, Selasa, 22 November 2016. (Foto: Ashari Rauf)

“Mariana dikurung di loteng, sementara Icci’ dikandang di samping rumah,” sebut Ashari Rauf, juga keluarga PUS di Mamuju.

Masih kisah Ashari, “Baco’bilang, memang sejak kepergian Ibunya 7 tahun lalu, kedua anaknya itu sudah mulai mengalami kelainan jiwa.”

Baco’ berharap, “Semoga pemerintah memerhatikan kedua anaknya itu,” kata Zakir Akbar mengulang pesan dan harapan si tua yang berjenggot pendek ini.

Zakir Akbar, Munandar Wijaya, Muhammad Imran, Muh. Yacub, Andis Fahmi, Moh. Naim Samad, Jasman Rantedoda, Nanang Wahidin, Ashari Rauf, Arnol Topo Sujadi, Muhammad Said, Muhammad Al-Gifari, dan Arman terlebih dulu foto bersama di pekarangan rumah Baco’ sebelum kembali ke Mamuju kota—menuju ke peraduan masing-masing.

SARMAN SHD

TINGGALKAN KOMENTAR