Rapat kecil KKB PUS Indonesia di Warkop 89 Mamuju, Senin sore-malam, 21 November 2016. (Foto: Ammak IPMAPUS)

TRANSTIPO.com, Mamuju – Senin siang tadi, memang hari kerja yang padat di awal pekan. Sudah barang tentu, aktifitas kantor—pemerintahan dan swasta—full day alias biasanya berakhir menjelang bedug magrib ditabuh.

Senin tadi adalah 21 November 2016. Di sore hari, Kerukunan Keluarga Besar Pitu Ulunna Salu (KKB PUS) Indonesia mengadakan rapat kecil. Disebut rapat kecil lantaran tak banyak yang hadir. Hanya sekitar selusin lebih.

Mengapa hanya sedikit yang hadir? Ya, pembuka di atas sudah menjelaskan musababnya di awal pekan kan. Yang sedikit ini pun rupanya muda-muda semua. Yang paling tua—meski umumnya sudah menjelang dan di atas 30an sebetulnya—adalah Yacub, sapaan si bonsor berotot kekar ini, yang memakai topi merah di gambar di atas.

Keseruan rapat kecil ini ada dua: dipimpin langsung oleh Ketum KKB PUS Indonesia Zakir Akbar, dan Munandar Wijaya tak sampai ganti baju selepas meninggalkan ruang kerja Wakil Ketua DPRD Sulbar untuk langsung mengisi barisan bundaran. Di mana? Di Warkop 89 Mamuju.

Tepat pukul 16.00 wita (sore) senda gurau dan perbincangan hangat itu dimulai. Di sore tadi, di warkop milik pengusaha real estate Mamuju ini, suara anak-anak muda PUS ini nyaris menggulung suara pengunjung warkop lainnya. Biasanya, Munandar Wijaya—ketua harian kerukunan ini—‘menginstruksikan’ untuk mengerem tekanan suara.

Tapi apa mau dikata. Suara warga PUS—yang selalu keras dan membahana—berlalu hingga menjelang isya, malam. Meski Imran terlambat datang, tapi dimaklumi karena dari seragammnya menjelaskan bahwa ia belum pulang ke rumah sehabis ngantor di DPRD Mamuju.

Ashari Rauf, meski belum tercatat resmi dalam rancangan kepengurusan lembaga kerukunan, tapi ia selalu ‘gelisah’ manakala ia tak dilibatkan dalam kakamesaang pa’pituan. Dan, ia buktikan, meski terlambat nimbrung, dari suaranya yang masih tersengal-sengal menggapai satu kursi diduduki, adalah bukti ia memaksakan hasrat untuk hadir. Tinggalkan urusan yang lain.

Karena Shompak tak hadir–yang seolah satu ‘kesebelasan’ berkurang–makanya Arnol Topo Sujadi seolah menang sendiri, lantaran parnernya itu entah ke mana. Dinamika rapat KKB PUS kurang yahud tanpa lelaki pendemo yang tinggi semampai itu.

Jasman Rantedoda, ia didera dua agenda. Meninggalkan agenda liputan yang tengah diliputnya, tak mungkin. Alpa sekali tak apa. Komunikasi hasil agenda sudah dipertemukan. Klop.

Tiga agenda penting yang dicetuskan KKB PUS Indonesia, Senin sore hingga malam tadi. Ulasan agendanya bersambung ke esok hari.

SARMAN SHD

TINGGALKAN KOMENTAR