Pemutaran dan bedah film ‘Sang Kiai’ di Aula Kantor Kemenag Sulbar, dilaksanakan oleh PMII Cabang Mamuju, Minggu malam, 22 Oktober 2017. (Foto: Zulkifli)

TRANSTIPO.com, Mamuju – Dalam memperingati Hari Santri Nasional (HSN),
Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Cabang Mamuju menggelar kegiatan bedah film ‘Sang Kiai’ di Aula Kantor Wilayah Kementrian Agama Provinsi Sulbar, Minggu malam, 22 Oktober 2017.

Bedah film ‘Sang Kiai’ mengisahkan peran KH. Hasyim Asy’ari, pendiri sekaligus pengasuh Pondok Pesantren Tebuireng, Jombang, Jawa Timur, yang juga peletak dasar ruh (spirit) kebangsaan Indonesia.

Hasyim Asy’ari juga adalah penggagas berdirinya organisasi Islam terbesar di dunia: Nahdlatul Ulama (NU) pada 1926.

Kegiatan yang digelar oleh PMII Cabang Mamuju ini bertema ‘Melalui Perjuangan Kiai dan Santri, Menuju Kebangkitan Nasional Demi Mempertahankan Keutuhan NKRI.

Bedah film ‘Sang Kiai’ juga dihadiri tiga narasumber, yakni Yahya Hanafi (Sekretaris Ikatan Alumni PMII Mamuju), Muhammad Saleh (mewakili Dandim 1418 Mamuju), dan praktisi media Jasman Rantedoda.

Hadir pula Satkorwil Banser Sulbar Muhammad Anshar, Ketua KNPI Mamuju Selvi Febriana, Ketua GMNI Mamuju Hermansyah, para pengurus OKP dan BEM, kader-kader PMII, serta para pengurus Ansor dan Banser Mamuju.

Tujuan kegiatan bedah film ‘Sang Kiai’ ini, menurut PMII Mamuju, sejauh ini perjuangan para Kiai dan Santri yang lahir dari Islam Nusantara (baca: NU), tidak tertera dalam sejarah perjuangan Indonesia.

“Inilah yang menjadi alasan kami, kenapa pada hari ini—bertepatan Hari Santri Nasional 22 Oktober—pula dengan lahirnya resolusi jihad yang kemudian dipelopori oleh Hadratul Syekh KH. Hasyim Asy’ari. Tapi sampai hari ini perjuangan Ulama, perjuangan Kiai, perjuangan Santri dan pesantren tetap melakukan inovasi, tetap melakukan perlawanan secara sendiri sesuai tantangan dan zaman yang berbeda-beda,” jelas Yahya Hanafi.

Karena itulah, Ketua PMII Mamuju Waiz, jelaskan, “Kami dari PMII Cabang Mamuju melakukan bedah film ‘Sang Kiai’ karena sejauh ini perjuangan Kiai, perjuangan santri yang kemudian lahir dari pesantren, lahir dari Islam Nusantara, yang hari ini tidak begitu tertera dalam sejarah perjuangan Indonesia.”

Waiz juga berucap, melihat buku panduan pelajaran selama 12 tahun di sekolah, sangat jarang ditemui pelajaran terkait sejarah Kiai dan Santri selama revolusi kemerdekaan Indonesia.

“Ini kemudian menjadi hal terbalik ketika kita lihat soal sejarah detail negeri ini. Karena, soal perjuangan Ulama dan Kiai kemudian sangat besar pengaruhnya terhadap negeri ini. Begitu pula dengan perjuangan-perjuangan masa kini, bagaimana para Kiai dan Santri NU yang komitmen untuk mempertahankan NKRI dari berbagai rongrongan. Kalau dimasa lalu Kiai dan santri NU melawan penjajah, sampai hari ini para kiai dan santri NU masih tetap komitmen mempertahankan NKRI,” jelasnya.

Dengan melakukan bedah film ini, katanya, diharapkan menjadi sebuah refleksi terkait perjuangan para Ulama, Kiai dan Santri yang menurutnya dilupakan ataukah disengaja dilupakan dari perjuangan negara ini.

“Ini kemudian menjadi sebuah refleksi kembali terhadap teman-teman OKP, BEM yang ada di Kabupaten Mamuju bahwa inilah yang kemudian selama ini kita melakukan pembelajaran sejarah, ternyata ada yang dilupakan. Karena kami menganggap bahwa hal tersebut menjadi sebuah pencitraan buruk bagi sejarah perjuangan kemerdekaan Indonesia,” pungkasnya.

ZULKIFLI

TINGGALKAN KOMENTAR