Kepala Dinas Pertanian Pemprov Sulbar Hamzah (seperti ‘meremas’ karung pembungkus pupuk) sembari memperlihatkan kepada pendemo di depan Kantor Gubernur Sulbar, Kamis, 12 Oktober 2017. (Foto: Arisman Saputra)

Diduga banyak pupuk palsu beredar di masyarakat. Karena itu, Gerakan Pemuda untuk Rakyat datangi kantor Gubernut Sulbar.

TRANSTIPO.com, Mamuju – Banyak pupuk palsu yang beredar di masyarakat, begitu sangkaan sekelompok warga yang menamakan diri Gerakan Pemuda untuk Rakyat.

Kelompok ini adalah sekumpulan mahasiswa di Mamuju. Dengan dugaan pupuk paslu itulah, kelompok gerakan ini dating ke kantor Gubernur Sulbar, Kamis, 12 Oktober 2017.

Dari pantauan transtipo.com di arena demonstrasi Kamis siang, jumlah mahasiswa yang tergabung dalam Gerakan Pemuda untuk Rakyat ini sekitar 30 orang. Ketika menuju ke Rangas baru, Simboro, Mamuju—alamat kantor gubernur—mereka dikawal oleh polisi dari Polres Mamuju.

Kedatangan mereka dipicu oleh anggapan mereka bahwa di tengah masyarakat, telah banyak pupuk palsu yang beredar. Dengan pupuk paslu ini, sebut mereka, membuat banyak petani kakao yang beralih menjadi aktif tanam tanaman jangka pendek.

“Kakao mereka mati disebabkan menggunakan pupuk palsu yang dibagikan oleh pemerintah,” kata Amiruddin alias Shompak, salah seorang demonstran saat menyampaikan orasinya.

Pada demo Kamis siang itu, Shompak didapuk jadi salah satu juru bicara. “Kedatangan kami di sini karena banyaknya pupuk palsu yang beredar di masyarakat. Akibatnya kakao (cokelat) mereka mati karena menggunakan pupuk palsu tersebut,” sebut Shompak.

Massa aksi ini minta kepada Dinas Pertanian Pemprov Sulbar agar menuntut oknum–oknum yang tak bertanggungjawab itu atas perbuatan yang mereka lakukan.

“Kami minta agar pak Gubernur Sulbar mengevaluasi kinerja para pendamping kakao karena diduga sering melakukan fiktif,” teriak anggota massa aksi lainnya.

Kepala Dinas Pertanian Sulbar Hamzah datang temui para pendemo ini. Ia beri penjelasan bahwa pihaknya (kantor yang dipimpinnya) tak terkait dengan adanya dugaan pupuk palsu dimaksud. Dan, Hamzah tak begitu terima atas tuduhan para pendemo ini dengan mengaitkan Dinas Pertanian Sulbar dengan dugaan peredaran pupuk palsu di masyarakat itu.

“Pupuk itu bukan dari Dinas Pertanian,” teriak Kadis Pertanian Sulbar Hamzah sembari berjalan meninggalkan kerumunan pendemo itu.

Mendengar teriakan dari Hamzah itu, para pendemo seolah tersulut, panas. Mereka, pendemo ini, membalas teriakan hamzah dengan ungkapan yang “keras” pula.

“Kadis Pertanian layaknya seorang preman, mana bisa pemimpin seperti itu bisa dicontoh,” teriak massa aksi, koor.

Diwawancarai setelah menyampaikan aspirasi itu, para pendemo ini menjelaskan. “Kami hadir di sini sebagai penyambung lidah masyarakat, menyampaikan aspirasi mereka. Tapi di sisi lain, ‘apresiasi’ Kepala Dinas Pertanian Sulbar tak selayaknya begitu, sebagai pemegang institusi pemerintahan di bidang pertanian,” kata Sulfan, koordinator lapangan (Korlap) aksi pada Kamis itu.

Sulfan tambahkan, “Dengan adanya dugaan pembagian pupuk palsu itu, kami akan melaporkan ke pihak yang berwenang, yaitu kepolisian dan kejaksaan, sebagai penyelenggara penegakan hukum di Kabupaten Mamuju.”

Ditanyakan, daerah-daerah mana saja pupuk palsu ini beredar? “Pupuk ini sudah tersebar di wilayah Sulbar. Beredar di tiap-tiap kelompok tani, di antaranya di Pulau Pangale (Mateng), Tappalang, Kalukku, Bonehau, dan Kalumpang (Mamuju), dan masih banyak lagi daerah lainnya di Sulbar,” jelas Sulfan.

Langkah selanjutnya, Sopliadi tambahkan, “Kami akan kembali sampaikan aspirasi rakyat dan akan dialog langsung dengan Gubernur Sulbar. Karena beliau hari ini tak ada di tempat, maka kami pada kedatangan kami selanjutnya beliau suda ada,” tutup Sopliadi, salah seorang Korlap aksi ini.

ARISMAN SAPUTRA

TINGGALKAN KOMENTAR