Pelantikan Pengurus Kerukunan Luwu Raya (KKLR) Wilayah Provinsi Sulawesi Barat Periode 2017-2022 dan Malam Ramah Tamah di Ballroom d’Maleo Hotel & Convention Mamuju, Kamis malam, 23 November 2017. Tampak Ketua PB KKLR Pusat Buhari Kahar Muzdakkar (kedua kiri) melantik pengurus KKLR Sulbar periode 2017-2022, kepengurusan yang pertama. (Foto: Arisman Saputra)

Hamzah Sula, pensiunan pamong di Pemkab Mamuju, berkisah pendek di depan Ballroom d’Maleo Hotel & Convention Mamuju, semalam, jam 10.45 Wita.

“Tahun 1989 saya yang inisiatif bentuk Kerukunan Luwu di Mamuju. Tapi tak lama, lalu bubar karena saya bentuk paguyuban Paraikatte,” kata Hamzah sembari sumringah.

Sejak itulah, ia mengaku, cikal bakal KKLR Sulbar—saat ini.

TRANSTIPO.com, Mamuju – Tak terhitung angka yang pasti berapa jumlah orang yang duduk mengharu biru di pusat ruang pada sebuah hotel berbintang tiga di bilangan pantai Mamuju kota itu.

Tapi sudah umum diketahui, jika ada perhelatan besar—dalam arti melibatkan pengunjung dengan jumlah yang tak sedikit—di hotel berlantai tujuh, minus satu lantai dengan angka 4 itu, maka jumlah kursi yang disusun rapi menghadap ke panggung tak lebih seribu buah.

Sebanyak itukah—seribu orang yang memangkui kursi itu?—warga Sulawesi Barat (Sulbar) yang hadir? Sebuah angka yang tak terkonfirmasi kepada pemangku acara.

Tapi, tampak benar yang hadir nyaris memenuhi semua kursi yang telah disiapkan. Artinya, jika pun tak sampai 900-an orang, ya sudah tak kurang 700-an orang jumlahnya.

Mulai dari orang tua, pemuda, remaja, hingga anak-anak. Beragam latar belakang: pejabat formal pemerintahan dari yang eselon teratas hingga rendah, pengusaha lokal, ASN, pedagang, petani (pekebun dan nelayan), mahasiswa, dan pelajar sekolahan.

Tumpah ruah Wija to Luwu di Ballroom d’Maleo Hotel & Convention Mamuju semalam, Kamis, 23 November 2017. Inilah inti yang hendak dikabarkan transtipo.com kepada Pembaca yang Budiman.

Kru laman ini telah hadir empat puluh lima menit sebelum acara seremoni itu dimulai. Terpantau, mulai jam 7.45 pada Kamis semalam itu, satu persatu dan terkadang pula tampak serombongan warga Luwu Raya di Sulawesi Barat (Sulbar) hadir di ruangan itu.

Tampak—dan ini yang dominan—pakai kemeja batik, mesti tak seragam warnanya. Yang terlihat seragam hanya puluhan orang, rupanya diketahui kemudian jika itu adalah pengurus inti ‘paguyuban’ ini.

Acara seremoni semalam itu adalah Pelantikan Pengurus Kerukunan Luwu Raya (KKLR) Wilayah Provinsi Sulawesi Barat Periode 2017-2022 dan Malam Ramah Tamah. Kalimat itu yang tertulis pada sebuah baliho besar yang terpampang di dinding depan persis di atas panggung dalam ballroom itu.

Tertulis pula tema: Dengan Semangat Kerukunan, Kita Tingkatkan Karya dan Pengabdian Kepada Daerah Sulawesi Barat yang Mala’bi’. Mungkin—mungkin ya—tema ini ‘terinspirasi’ dari jargon pembangunan Pemerintahan Provinsi Sulbar saat ini.

Sejumlah tokoh hadir. Dari Badan Pengurus KKLR Pusat hadir Buhari Kahar Mudzakkar, ketua umum pengurus pusat kerukunan ini.

Sekadar informasi, Buhari Kahar Mudzakkar—kelahiran Makassar, 25 Desember 1962—adalah salah seorang bakal calon Bupati Luwu, Sulawesi Selatan (Sulsel), Pilkada 2018. Lelaki ini juga politisi PAN Sulsel—sejak 2010, ia duduk sebagai sekretaris partai. Dalam pemerintahan, dua periode duduk sebagai legislator Sulsel. (Sumber: Net.)

Tiga tokoh Kedatu’an Kerajaan Luwu juga hadir. Meski hanya bertiga, tapi dalam penyampaiannya kemudian oleh penyampai sambutan, sudah dianggap mewakili Kedatu’an atau Kerajaan ketika menghadiri sebuah acara formil kerukunan.

Gubernur Sulbar Ali Baal Masdar hadir dan beri sambutan. Hadir pula yang mewakili Kapolda Sulbar dan Danrem 142/Tatag Mamuju. Jajaran bupati di Sulbar, yang tampak hanya Wakil Bupati Mamuju Irwan SP Pababari, pula beri sambutan.

Bupati lainnya, atau yang mewakili, tak tampak dan tak disebutkan siapa orangnya dengan jabatan apa.

Paguyuban Luwu Raya di Sulbar ini datang dari sejumlah kabupaten, terutama dari Mamuju Utara (Matra), Mamuju Tengah (Mateng), Polewali Mandar (Polman), dan yang paling banyak tentunya datang ‘kabupaten tuan rumah’: Mamuju. Tak tersebut Majene dan Mamasa.

Dikutip dari perbincangan peserta atau warga kerukunan KKLR Wilayah Sulbar, yang duduk tak jauh dari posisi duduk kru laman ini.

“Kalau orang Palopo marah, bisa dimasuki. Tapi kalau sudah diam—selesai marah—jangan coba-coba maju,” kata seorang lelaki paruh baya sembari tertawa, yang candaannya terekam jernih di benak kru laman ini.

Ketika beri sambutan, ketua panitia sampaikan, warga kerukunan di Sulbar ini sebanyak 15 ribu kepala keluarga (KK). Laman ini coba ‘menginterpretasi’ angka itu.

Anggaplah—ini asumsi—setiap KK terdapat lima jiwa, atau mungkin itu angka terlampau banyak. Sebutlah misalnya, setiap KK terdapat tiga jiwa, mungkin hitung-hitung rasional. Lalu angka 15 ribu itu kalikan angka tiga jiwa.

Maka itu berarti, jumlah warga dalam paguyuban KKLR di Provinsi Sulbar adalah sebanyak 45 ribu jiwa (45.000 orang).

Jika asumsi laman ini tepat, sudah barang pasti sebuah komunitas besar dengan angka yang tak sedikit.

Jangan lewatkan, Buhari Kahar Mudzakkar: Palopo Sebagai Pusat Episentrum Politik di Luwu Raya

SARMAN SHD

TINGGALKAN KOMENTAR