Warga Kecamatan Mamasa, Kabupaten Mamasa, Sulbar mengungsi di lapangan sepka bola Mamasa saat terjadi gempa bumi berkekuatan 5,5 magnitudo pada Selasa, 6 November 2018, dinihari pukul 02.35 WITA. (Foto: Frans)

TRANSTIPO.com, Mamuju – Pada Selasa, 6 November 2018, dinihari pukul 02.35 WITA, gempa bumi kembali terjadi di Kabupaten Mamasa, Sulbar, dengan kekuatan 5,5 magnitudo.

Gempa itu terjadi pada saat warga sedang terlelap tidur di rumah masing-masing. Tak pelak lagi, dengan goncangan gempa bumi itu, warga di Kabupaten Mamasa terbangun lalu keluar dari rumah.

Warga di Kelurahan Mamasa, Kecamatan Mamasa misalnya, keluar dari rumah lalu menuju ke tempat yang dianggap aman. Tujuan mereka ada pada dua titik pengungsian, di daerah Limboloti dan lapangan sepak bola Mamasa.

“Pemerintah daerah Mamasa telah buat tenda pengungsian di dua titik,” kata Sekretaris Pemkab Mamasa Frans Kila menjawab telepon kru laman ini, Selasa, 6 November 2018.

Sejak pagi, sebut Frans Kila, kami sedang menangani pengungsi dengan mendirikan tenda dinda bersama Dinas Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Mamasa dan Dinas Sosial Kabupaten Mamasa.

Jumlah warga Mamasa kota yang mengungsi di kedua titik itu, Limboloti dan lapangan sepak bola, yang kami sedang tangani, “Saya perkirakan 1000 orang.” Begitu asumsi Frans.

Menurut Frans, pengungsi paling banyak itu adalah warga dari Lambanan dan kota Mamasa.

Namun tentang kerusakan yang diakibatkan gempa bumi pada Selasa dinihari itu, Frans Kila belum bisa ia sebutkan faktanya. “Kerusakan yang disebabkan gempa itu belum ada data secara resmi,” katanya.

Sekkab atau Sekda Mamasa ini berpesan, karena ini adalah gempa tektonik, bukan gempa fulkanik, jadi masyarakat jangan panik cuma tetap waspada.

“Belum ada satu lembaga yang mengatakan kalau ini berbahaya,” ujar Sekda Frans Kila.

ARISMAN SAPUTRA

TINGGALKAN KOMENTAR