Gabungan beberapa kelompok mahasiswa Mamuju demo di RSUD Mamuju, Rabu, 21 September 2016. (Foto: Andi Arwin)

TRANSTIPO.com, Mamuju – Puluhan Mahasiswa yang tergabung dalam Aliansi Mahasiswa Kabupaten Mamuju mendatangi RSUD Mamuju, Rabu, 21 September 2016.

Para pendemo minta direktur rumah sakit, dokter serta pegawai yang tak profesional dalam bekerja dicopot dari jabatannya.

Demo ini dikomandoi Ilham, selaku korlap. Aliansi mahasiswa ini terdiri dari HMI Cabang Manakarra, Ipmapus Cabang Mamuju, dan Ikatan Pemuda Pelajar Mahasiswa Bonehau.

Demo kali ini nyaris bentrok dengan pihak RSUD Mamuju. Penyebabnya salah seorang warga yang sedang berobat di RSUD Mamuju, nyawanya sudah tak tertolong lagi. Keluarga almarhum sepertinya tak terima pelayanan pihak rumah sakit.

Ilham dalam orasinya mengatakan, bukan hanya yang pertama terjadi hal begini terjadi di RSUD Mamuju. Masih banyak pasien yang mengeluh atas pelayanan RSUD Mamuju.

“Persoalan pelayanan yang ada di RSUD Mamuju ini dipertanyakan,” kata Ilham.

“Kemarin ada warga dari Kalukku meninggal. Sementara di saat yang sakit ini kritis dokter tak berada di tempat, melainkan dia di tempat prakteknya,” kata Ilham.

Herlin, aktifis HMI lainnya, mengatakan bukan hanya warga Kalukku yang mengeluh dengan pelayanan yang ada di RSUD Mamuju, tapi masih banyak warga lain.

“Kami sudah berdialog dengan Ombudsman, dan pihak Ombudsman mengatakan ada bayak laporan yang masuk terkait keluhan masyarakat masalah pelayanan yang ada di RSUD Mamuju, termasuk laporan meninggal dunia,” urai Herlin.

Direktur RSUD Mamuju dr. Acong mengatakan, “Kami berterima kasih kepada kita semua karena sudah sering melakukan silaturrahmi dengan kami. Tapi kali ini Anda datang dengan masalah lain.”

“Pelayanan hari ini, kalau Anda pertanyakan masalah dokter anak di Sulbar itu tidak ada karena mengikuti kegiatan nasional. Ada pertemuan persekutuan dokter anak,” kata dr. Acong.

Massa bubar dan berjanji akan melaporkan hal ini ke DPRD Mamuju. Pendemo tak puas dengan penjelasan pihak rumah sakit.

Pimpinan RSUD Mamuju (berpakaian putih) menemui pendemo di depan RSUD Mamuju, Rabu, 21 September 2016. (Foto: Andi Arwin)
Pimpinan RSUD Mamuju (berpakaian putih) menemui pendemo di depan RSUD Mamuju, Rabu, 21 September 2016. (Foto: Andi Arwin)

Selanjutnya, beberapa kelompok mahasiswa ini mendatangi Kantor DPRD Mamuju. Di kantor dewan, mereka mengeluhkan pelayanan di RSUD Mamuju.

Pendemo diterima oleh Andi Dodi Hermawan, Wakil Ketua DPRD Mamuju.

“Insya Allah, hari ini juga kami bikin surat memanggil pimpinan RSUD dan beberapa dokter lainnya untuk berdialog bersama kita,” kata Andi Dodi sembari menyilakan stafnya menyurat ke RSUD Mamuju.

Dalam waktu tak lama, Direktur RSUD tiba di Kantor DPRD Mamuju. Dalam rapat itu Direktur RSUD Mamuju dr. Acong mengatakan kegiatan ilmiah yang diikuti dokter anak itu wajib hukumnya.

“Kegiatan ahli anak ini wajib hukumnya ikut pertemuan ilmiah di Bandung, 17 – 21 September 2016,” jelas dr. Acong.

Salah seorang Anggota Komisi III DPRD Mamuju menanggapi apa yang disampaikan oleh dr. Acong. “Dokter ahli yang ada di RSUD Mamuju harus ditambah,” kata legislator itu.

“Jumlah dokter ahli yang ada di RSUD hanya 2. Saya kira perlu ditambah. Jika ada dokter ahli yang ikut pelatihan, saya kira itu perlu dipikirkan karena pelayanan nomor satu,” kata Reza, legislator Mamuju itu.

Di ujung rapat, Andi Dodi menyimpulkan, “Secara kelembagaan, dewan minta tidak akan ada lagi kekosongan dokter ahli di RSUD Mamuju.”

Lanjut Dodi, dewan akan merekomendasikan kepada pemerintah daerah untuk melakukan reformasi di tubuh RSUD Mamuju.

“Saya berharap kepada Komisi III agar bisa memperhatikan masalah dokter ahli pada saat pembahasan nanti,” tutup Dodi.

ANDI ARWIN

TINGGALKAN KOMENTAR