Peta CELEBES tahun 1862. Dokumentasi Naharuddin. (Foto: Sarman SHD)

“Sulbar saja bisa didirikan, apalagi kalau hanya merebut satu pulau kecil,” kata Usman Suhuriah setengah bercanda.

TRANSTIPO.com, Mamuju – Sore tadi, Selasa, Naharuddin ‘mungkin kesepian’ di teras rumahnya, Teuku Umar Nomor 1, Mamuju kota, 1 November 2016. Dia kemudian menyapa warga Sulbar di salah satu komunitas warga di grup WA Orang Sulbar (OS).

“Teman-teman OS yang ada di Mamuju, yuk kumpul-kumpul di rumah, di UKM Centre, lantai 1,” begitu bunyi pesan Naharuddin di WAG yang kini sedang tenar itu, tepat ba’da ashar.

Tak banyak yang hadir, mungkin lantaran ini undangan dadakan. Meski sedikit warga, Naharuddin tetap menyambut tamunya dengan hangat. ‘Partner rumahnya’ menyuguhkan kopi hangat. Pisang goreng menyusul. Diskusi ramai sekali. Tak ada topik utama, mengembang saja sesuai selera rasa dan kemampuan otak di sore yang dingin tadi.

Naharuddin, 48 tahun, salah seorang tokoh muda Sulbar, tuntas ikut berjuang pembentukan provinsi tempo hari, UKM Centre, Mamuju, 1 November 2016. (Foto: Sarman SHD)
Naharuddin, 48 tahun, salah seorang tokoh muda Sulbar, tuntas ikut berjuang pembentukan provinsi tempo hari, UKM Centre, Mamuju, 1 November 2016. (Foto: Sarman SHD)

Ba’da magrib, Usman Suhuriah tiba-tiba ikut nimbrung. Dari ‘pantauan’ di GWA wartawan Sulbar, sore tadi dia bersama sejumlah wartawan berdiskusi di salah satu tempat tak jauh dari pantau Mamuju.

Di bawah UKM Centre ini, Naharuddin dan Usman kemudian mengonsentrasikan fokus pada Pulau Lere-Lerekang. Pemantik hangatnya diskusi lantaran Nahar menggelar 3 buah peta Salawesi.

“Ini peta dari Belanda dinda. Dibuat tahun 1862. Ini hasil Dekralasi Monaco ya. Asli sekali. Mari kita lihat posisi Lere-lerekang ya,” kata Nahar menuntun peserta diskusi memelotot peta ini.

Naharuddin dan Usman punya pandangan dan harapan yang sama. “Ke depan jika kita semua fokus memperjuangkan Pulau Lere-Lerekang, maka pasti bisa kita wujudkan.

Usman dan Nahar masih mengutar-atik kekuatan logika membaca peta yang berbahasa asli Eropa itu. Setiap pulau ditulis dalam ejaan lama. Butuh konsentrasi penuh untuk bisa memahami utuh makna dan arah peta ini.

Tapi sudah barang tentu tak perlu waktu lama dibuang seperti selama waktu dipakai memperjuangkan Sulbar jadi provinsi, ketika harus merebut kembali Pulau Lere-Lerekang, Madjene, Celebes.

SARMAN SHD

TINGGALKAN KOMENTAR