Konsultan Unicef Sulbar Muh. Zakir Akbar (kanan-berdiri) di ruang kerja Bupati Mamuju pada Jumat, 7 April 2017. (Foto: Lisa Sari Dewi)

TRANSTIPO.com, Mamuju – Pencanangan Desa Tuntas Wajib Belajar 9 tahun akan terus mendorong program-programnya agar seluruh anak dapat bersekolah. Jika ini dapat dilakukan oleh semua desa maka mau tidak mau ini akan mendorong peningkatan Indeks Pembangunan Manusia (IPM) di Mamuju.

Hal itu disampaikan oleh Konsultan Unicef Sulbar Muh. Zakir Akbar di ruang kerja Bupati Mamuju pada Jumat, 7 April 2017. Di ruang itu, selain Zakir Akbar, juga ada Bupati Mamuju Habsi Wahid, Ketua Yayasan Karampuang Aditiya, Kepala BPMD Mamuju, Ketua Dewan Pendidikan Hajrul Malik, para kepala desa, dan tim tuntas wajib belajar 9 tahun.

Menurut Zakir Akbar, pada 30 November 2016 bupati Habsi telah mencanangkan desa tuntas wajib belajar 9 tahun. Saat itu dipilihlah 3 Desa sebagai pilot project:  Desa Botteng Utara (Kecamatan Simboro), Desa Bunde (Kecamatan Sampaga), dan Desa Dungkait (Kecamatan Tapalang Barat).

Hingga saat ini sudah melewati beberapa tahap kegiatan, mulai dari lokakarya pendidikan kabupaten, pembentukan tim tuntas wajar kabupaten, lokakarya dan pelatihan perencanaan pendidikan berbasis data (PPBD), rekonfirmasi data SIPBM (Sistem Informasi Pembangunan Berbasis Masyarakat), lokakarya desa sampai pada pendampingan penyusunan RKP dan RPJM desa.

Dan, saat ini pendampingan yang dilakukan di tiga desa itu sudah hampir final RKP-nya khususnya untuk sektor pendidikan.

“Setelah itu kita melakukan pengembalian anak ke sekolah dan melaunching desa tuntas wajib belajar 9 tahun. Kalau merujuk SK bupati terkait desa tuntas, indikator yang kita harapkan, di akhir tahun 2018 sudah selesai di tiga desa ini. Tentu kita berharap prosesnya bisa lebih cepat sehingga kita betul-betul memiliki 3 desa dengan model yang bisa menjadi inspirasi bagi desa lain,” urai Zakir Akbar.

Masih Zakir Akbar, mengenai situasi data untuk sektor pendidikan khususnya anak di tiga desa yang tidak bersekolah itu, sebanyak 25 anak di Desa Botteng Utara, 23 anak di Desa Bunde, dan 33 anak di Desa Dungkat. Jadi total anak yang tidak bersekolah itu sebanyak 81 anak.

Di tempat yang sama Bupati Mamuju Habsi Wahid mengatakan, kalau kita ingin meningkatkan indeks pembangunan manusia (IPM), memang pendekatan yang dilakukang paling cepat di sektor kesehatan dan pendidikan.

“Jadi untuk itu, setiap daerah untuk mempercepat pembangunan maka ia harus memerhatikan indeks pembangunan kemanusiaan itu. Untuk mengukur tingkat kesejahteraan masyarakat, ya, diukur dari IPM-nya,” kata Habsi Wahid.

Makanya, kata Habsi lagi, dari awal saya konsen dengan program ini, apalagi di data SIPBM masih ada sekitar 10 ribu anak yang putus sekolah. Ini sangat memprihatinkan. Makanya tahun ini, dengan 3 desa ini, saya kira bisa membentuk generasi yang cerdas yang mempunyai pendidikan yang baik sehingga punya harapan hidup di masa mendatang.

LISA SARI DEWI/HUMAS PEMKAB MAMUJU

TINGGALKAN KOMENTAR