Demo mahasiswa Mamuju di Hari Tani se-Dunia, Sabtu, 24 September 2016. (Foto: Andi Arwin)

TRANSTIPO.com, Mamuju – Puluhan mahasiswa yang tergabung dalam BEM Unika, Mamuju, melakukan aksi unjuk rasa dalam rangka memeringati Hari Tani se-dunia, Sabtu, 24 September 2016.

Demo mahasiswa ini dilaksanakan di persimpangan kali Mamuju, Ahmad kirang Mamuju, dan persimpangan 4 Simbuang. Aksi kali ini dikomandoi (baca: korlap) oleh Maman Suryaman.

Dalam orasinya, mengatakan, “Hari ini adalah hari peringatan petani se-dunia. Masih banyak petani belum sejahtera dan kerap diintimidasi oleh pihak yang tak bertanggung jawab.”

“Hari ini adalah milik petani, petani di Sulbar belum sejahtera. Kami minta kepada pemerintah provinsi dan kabupaten di Sulbar untuk menyejahterakan petani,” kata Wais.

kata Wais lagi, “Masih banyak konflik-konflik agraria yang dialami oleh masyarakat Sulbar. Seperti yang terjadi di Mateng dan Matra.”

Demo mahasiswa di Hari Tani se-dunia ini bakar ban mobil bekas di perempatan jalan di Simbuang, Mamuju, Sabtu, 24 September 2016. (Foto: Andi Arwin)
Demo mahasiswa di Hari Tani se-dunia ini bakar ban mobil bekas di perempatan jalan di Simbuang, Mamuju, Sabtu, 24 September 2016. (Foto: Andi Arwin)

Saddan, pemuda asal Mamuju Tengah, juga mengatakan, “Sampai hari ini belum terpenuhi kesejahteraan petani yang diakibatkan oleh sistem yang menindas yang cenderung berpihak kepada pemodal. Kita sering temukan petani dikriminalisasi.”

“Pemerintah hari ini belum mampu menuntaskan kebutuhan-kebutuhan pertanian seperti pupuk, bibit, vestisida dan bahkan lahan untuk petani,” tutup Saddan.

Pengunjuk rasa menuntuk agar mempercepat reforma agraria, stop alih fungsi lahan, wujudkan kedaulatan pangan, bangun infrastruktur penunjang sektor pertanian, tuntaskan kasus konflik agraria, tindak tegas perusahaan perkebunan yang melanggar aturan perundang-undangan, memperjelas tata tuang mengenai hutan lindung dan hutan produksi, stabilkan hasil pertanian,  dan stop kekerasan dan kriminalisasi terhadap kaum petani.

Gerakan mahasiswa peduli petani ini adalah gabungan: Ipmapus Cabang Mamuju, HMI Cabang Manakarra, IPM Mateng, dan BEM Stai Al-Azhari melakukan aksi yang berahir di Mapolres Mamuju.

Amiruddin/Sompak, menegaskan, “Konflik yang ada di Matra dan di Mateng harus segera diselesaikan karena jangan sampai terjadi lagi pertumpahan darah.”

Ketika para pendemo tiba di halaman Mapolres Mamuju, Kapolres Mamuju Sonny Mahar Budi menerima mereka dan berlangsung dialog, Mamuju, Sabtu, 24 September 2016. (Foto: Andi Arwin)
Ketika para pendemo tiba di halaman Mapolres Mamuju, Kapolres Mamuju Sonny Mahar Budi menerima mereka dan berlangsung dialog, Mamuju, Sabtu, 24 September 2016. (Foto: Andi Arwin)

Ketika tiba di depan Mapolres Mamuju, Kapolres Mamuju Sonny Mahar Budi kemudian menerima para pendemo ini. “Konflik agraria itu ada proses penyelesaiannya. Penyelesaian konflik lahan dan konflik tapal batas melalui tim yang kami bentuk,” kata Kapolres Mamuju Sonny Mahar Budi, Sabtu, 24 September 2016.

Pihaknya menjelaskan bahwa konflik yang ada di Mamuju Tengah telah dikomunikasikan dengan Pemkab Mateng.

“Sementara dalam proses. Kami sudah konsultasikan kepada Pemerintah Mamuju Tengah atas konflik agraria itu. Ini butuh proses,” kata Kapolres Mamuju ini.

ANDI ARWIN

TINGGALKAN KOMENTAR