Anak-anak muda KKB PUS Indonesia tengah mendaki di puncak So'dok untuk 'berwisata rohani' menuju kediaman Baco', Mamuju, Selasa sore yang teduh, 22 November 2016. (Foto: Munandar Wijaya)

TRANSTIPO.com, Mamuju – Masih ingat foto selfie ria warga kota Jakarta tempo hari? Ketika mereka berjalan kaki bersama sembari berbagi bagi warga tak mampu? Inikah cara baru bagi warga kota dalam berdonasi?

Untuk memecah tanda tanya di atas, reportase singkatnya begini. Beberapa bulan lalu, di salah sebuah harian koran terbesar di Asia Tenggara—berkantor pusat di Jakarta, Indonesia—menampilkan tulisan ringan yang bagus dilihat fotonya dan enak dibaca sajiannya.

Warga kota di Jakarta itu, begitu tulisnya yang teringat, beramai-ramai beri sumbangan kepada warga lainnya yang tak mampu. Di lokasi tempat mereka—orang-orang yang tak terlampau melimpah hidupnya yang kaya hati ini—beri sumbangan bergerombol, mereka berfoto bersama. Tertawa seriang-riangnya, ada juga tampak hanya menyunggingkan senyum semanis-manisnya.

Tampak begitu berbahagia selepas merogoh koceknya entah berapa setiap orang. Lalu mereka kumpul, dan berbagilah ia. Kita yang sekadar baca di koran itu terasa nikmat hingga ke palung, terlebih bagi yang mengerjakannya.

Itulah mungkin rahasia di balik sedekah. Agar tulisan ini tak bernuansa ceramahi Anda sekalian Pembaca yang Budiman tentang kekuatan sedekah, Anda bisa telusuri sepuas-puasnya uraiannya di buku mas Ippho Santosa dan Yusuf Mansyur.

Memang, ketika zaman telah memuja transparansi, soal beramal pun seolah telah ‘ditakdirkan’ untuk tak lagi dilakukan secara sembunyi-sembunyi. Seolah sudah waktunya “tangan kanan memberi tangan kiri berselfie ria”—bukan lagi tangan kiri tak perlu tahu.

Ya, inilah cara baru itu dalam beramal. Ya, inilah geliat hidup di kota yang masih mau menjawab getarnya hati nurani. Ya, inilah empati—beri perhatian sesama hingga ke dapur yang tak mampu. Ya, KKB PUS Indonesia—dengan segenap nurani dan seperkecil unjuk agenda berbagi untuk keluarga yang tak mampu.

Bapak Baco' (yang di tengah-tengah yang tak muda lagi), diapit oleh segerombol pemuda dari KKB PUS Indonesia. Hadir pula dua legislator, Munandar Wijaya (kemeja batik merah) dan Imran, Selasa, 22 November 2016. (Foto: Zakir Akbar)
Bapak Baco’ (yang di tengah-tengah yang tak muda lagi), diapit oleh segerombol pemuda dari KKB PUS Indonesia. Hadir pula dua legislator, Munandar Wijaya (kemeja batik merah) dan Imran, Selasa, 22 November 2016. (Foto: Zakir Akbar)

Benar. Sore kemarin yang teduh, Selasa, 22 November 2016, lebih selusin anak-anak muda PUS di Mamuju—meski di dalamnya ada ‘pejabat tinggi daerah’—bergerak bersama.

Sebagai jawaban dari satu agenda yang telah mereka cetuskan sehari sebelumnya, di Warkop 89, Mamuju, 21 November. Agenda itu adalah mengunjungi warga Mamuju kota menggantungkan hidupnya di bukit di So’dok, Sangkurio, Kecamatan Mamuju—ibukota Kabupaten Mamuju.

Di sana, di bukit yang menantang itu, hidup satu keluarga tak mampu. Sang ayah bernama Baco’, hidup bersama dengan kedua anak gadisnya.

Namun sungguh malang nasibnya. Dua anak gadis pak Baco’ itu—Mariana (18 tahun) dan Icci’ (21 tahun)—menderita sakit jiwa, atau mungkin lebih tepatnya depresi berat. Mengapa?

Satu sebab yang terkuak adalah ketika Ibunya berpulang untuk selama-lamanya beberapa tahun yang lalu, sejak itulah depresi itu menghantuinya. Dan sejak itu pulalah, warga menyebutnya gila.

Dan, karena itulah KKB PUS Indonesia datang ke sana. Berbagi seadanya. Berempati lebih tepatnya. Bersambung

SARMAN SHD

TINGGALKAN KOMENTAR