Bawaslu Sulbar menggelar diskusi publik tentang pengawasan yang digelar di restoran Ba'go Hotel d'Maleo and Convention Mamuju, Sabtu, 27 April 2019. (Foto: Arisman)

TRANSTIPO.com, Mamuju – Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) Sulawesi Barat (Sulbar) menggelar diskusi publik tentang pengawasan dengan tema “Memperkuat Peranan Bawaslu dalam Pengawasan Pemilu 2019”, Sabtu, 27 April 2019.

Acara digelar di restoran Ba’go Hotel d’Maleo and Convention Mamuju yang dipandu Ketua Bawaslu Sulawesi Barat Sulfan sulo bersama komisioner Bawaslu Sulbar lainnya, Fitrinela Patonangi.

Hadir selaku narasumber Anggota Dewan Kehormatan Penyelenggara Pemilu (DKPP) RI, Prof. Muhammad, turut hadir komisioner KPU Mamuju, komisioner KPID Sulbar, organisasi kepemudahaan dan mahasiswa serta tamu undangan lainnya.

Ketua Bawaslu Sulbar Sulfan Sulo dalam sambutannya mengatakan, kegiatan ini sangat baik untuk dilaksanakan terutama dalam pengutan pengawasn pemilu tahun 2019.

“Kegiatan ini baik di ikuti selain untuk mendapatkan wawasan tentang penguatan pengawasan kepemiluan kegiatan ini juga di hadiri anggota DKKP RI,” ungkap Sulfan Sulo.

Anggota DKPP RI dalam pengantar diskusinya mengatakan, dari data secara nasional data para pahlawan pemilu pertanggal 27 April pukul 14.00, jumlah yang meniggal dari penyelenggara KPU 144 orang, dari Bawaslu sebanyak 46 orang.

Bawaslu Sulbar menggelar diskusi publik tentang pengawasan yang digelar di restoran Ba’go Hotel d’Maleo and Convention Mamuju, Sabtu, 27 April 2019. (Foto: Arisman)

Masih Prof Muhammad, sedangkan yang sakit dari penyelenggara KPU sebanyak 883 orang dan dari Bawaslu ada 13 orang yang menderita kekerasan, 172 kecelakaan, 174 rawat nginap dan 480 rawat jalan.

“Data pertanggal 27 April pukul 14.00, secara nasional total musibah dari rekan-rekan penyelenggara secara keseluran sebanyak 1.912 orang,” beber Prof. Muhammad Anggota DKPP RI.

Prof. Muhammad juga mengatak jika dampak pemilu tahun ini menjadi sejarah yang menyita perhatian luar biasa dengan melibatkan banyak orang dan juga dampak resikonya yang paling besar diantara sejumlah pemilu.

“Dari catatan evaluasi pemilu kita tidak ada satu pun pengamat yang mengatakan pemilu ini tidak rumit,” ungkap Prof Muhammad.

Masih Prof. Muhammad tidak hanya sederhana menyebut hanya 5 kotak, tetapi 5 kotak ini akan menghasilkan konsekuensi yang melahirkan banyak formulir yang sangat melelahkan.

“Terus terang kalau saya menjadi petugas KPPS, saya pastikan diri saya tidak mampu, moho maaf berapapun honornya,” kata Prof. Muhammad.

ARISMAN

TINGGALKAN KOMENTAR