Anak-anak sekolah di Dusun Kendenan, Desa Rambu Saratu, Mamasa, sedang meniti di atas dua buah batang bambu sebagai jembatan darurat. Beberapa waktu lalu hujan turun dengan lebatnya sehingga membuat jalan sekitar 30 meter rusak parah. Karena itu warga desa bikin jembatan seadanya ini. Dipotret pada Kamis, 24 Maret 2017. (Foto: Frendy Cristian)

TRANSTIPO.com, Mamasa – Hujan deras beberapa pekan terakhir telah menyebabkan salah satu ruas jalan di Dusun Kendenan, Desa Rambu Saratu, Mamasa, amblas (baca: rusak). Padahal jalan yang rusak ini adalah jalan penghubung untuk dua desa, yakni Desa Desa Rambu Saratu dengan Desa Tondok Bakaru.

Bagi siswa yang tinggal di desa itu, ketika hendak pergi ke sekolah, dengan terpaksa meniti di atas jembatan tang terbuat dari bambu buatan seadanya oleh warga desa setempat. Pemandangan ini—seperti yang tampak pada gambar di atas—dipotret pada Kamis siang, 24 Maret 2017.

Para siswa ini adalah siswa sekolah dasar (SD) meniti di atas jembatan dengan terpaksa. “Sebetulnya kami takut pak. Tapi tidak adami jalan lain. Kaki kami bergetar melewati jembatan bambu pak,” kata anak sekolah ini kepada laman ini. Anak siswa ini mengaku sekolah di SDN 005 Rantebuda, Mamasa.

Panjang jalan yang amblas akibat diterjang air hujan yang keras itu sekitar 30 meter. Bagia siswa harus melewati jembatan darurat yang menantang ini dua kali dalam sehari, atau ketika pergi dan pulang di hari sekolah.

Melintas di atas jembatan bambu sebenarnya bukan menakutkan bagi anak-anak didik di Mamasa, bahkan sejak tempo dulu. Tapi yang berbahaya bagi anak-anak didik di dusun yang disebut di atas adalah, mereka harus melewati jembatan dengan hanya dua buah bambu kecil.

Ini yang bahaya. Jika tak kuasa bertahan, bisa-bisa tergelincir ke lembah. Rudi, murid kelas VI SDN 005 Rantebuda, misalnya, mengaku jika ia takut. “Tapi tidak ada jalan lain,” kata Rudi setengah menantang.

Tak hanya si kecil Rudi yang berbagi rasa tentang potensi petaka di jembatan itu. Salah seorang guru di sekolah Rudi, ia bernama Ribka, juga mengeluh. “Jalan ini ambruk sejak beberapa hari yang lalu namun hingga kini belum ada perhatian dari pemerintah setempat maupun pihak instansi terkait,” kata Ribka ketika dikonfirmasi, Kamis, 24 Maret 2017.

Guru ini berharap, semoga Pemkab Mamasa cepat perbaiki jalan yang rusak itu atau bakin jembatan yang lebih layak. “Semoga jatuh korban tidak lebih mendahului gerak langkah pemkab,” kata sumber laman ini di desa itu.

FRENDY CRISTIAN

TINGGALKAN KOMENTAR