Wakil Ketua DPRD Mamasa Marthinus Tiranda. (Foto: Frendy Cristian)

Marthinus: Harus lebih bayak mendapatkan sumber dari pelaku-pelaku sejarah pembentukan Kabupaten Mamasa. Sejarah Mamasa harus ditulis oleh penulis, bukan pelaku sejarah.

TRANSTIPO.com, Mamasa – Pembacaan sejarah singkat perjuangan Mamasa di HUT Kabupaten Mamasa ke-15 mendapat tanggapan dari Wakil Ketua DPRD Mamasa Martinus tiranda. Menurutnya, pembacaan sejarah singkat perjuangan Mamasa harus lebih bayak mendapatkan sumber dari berbagai pelaku sejarah.

“Penulisan dan pembacaan sejarah itu, menurut saya, mulai agak bagus karena tidak menyebutkan orang. Itu ketimbang lebih baik dari pada hanya menyebutkan satu orang, sekalipun penulisan dan pembacaan sejarah harus lebih banyak mendapatkan sumber dari pelaku-pelaku sejarah. Pembacaan sejarah saat ini mulai agak bagus karena sudah dimulai dari tahun lima puluhan sampai pada terwujudnya Kabupaten Mamasa, sekalipun belum cukup bukti sejarah untuk menuliskan nama-nama kawan-kawan atau orang tua yang lebih dulu memperjuangkan Kabupaten Mamasa,” jelas Marthinus saat dikonfirmasi usai upacara HUT Mamasa ke-15 di Mamasa, Sabtu siang, 11 Maret 2017.

Marthinus menjelaskan, perjuangan 98 itu merupakan lanjutan dari perjuangan sebelumnya. Dan terkait dokumen dan foto-foto yang dipajang saat perayaan HUT Mamasa, Marthinus mengatakan bahwa dokumen yang dipasang itu patut dihargai sekalipun belum mengakomodir semua yang terlibat dalam  sejarah.

“Kadang dari tahun lalu dan tahun sekarang ada perbedaan sejarah yang ditulis. Itu berarti belum ada buku sejarah yang baku,” katanya.

Menurutnya, buku sejarah dan perampungan dokumen sejarah itu perlu diseminarkan dengan mengundang orang-orang akademik untuk membicarakan sejarah tersebut, serta penulisan sejarah harus ditulis oleh para penulis bukan ditulis oleh para pelaku sejarah.

FRENDY CRISTIAN

TINGGALKAN KOMENTAR