Dari atas, Sambabo Waterfalls di Ulu Mambi, Bambang, Mamasa (Foto: Frendy Cristian)

TRANSTIPO.com, Mamasa – Masih di Ulu Mambi, Bambang, Mamasa. Kami tak sempat menanyakan kepada mereka, warga Ulu Mambi itu, jam berapa tiba di kota Mamasa, nanti. Tengah malamkah? Dini harikah? Atau setelah fajar mulai menyingsing di ufuk timur?

Tak ada jawaban. Kami hanya bisa menerka. Jam berapapun, atau kapanpun mereka tiba di pasar Mamasa kota, yang hadir di benak kami adalah warga Ulu Mambi gigih berjuang dalam hidupnya. Jalan kaki bagi mereka adalah hal yang biasa.

Kami, yang berjalan kaki dari Mamasa kota ke Ulu Mambi tak kurang 9 jam lamanya dengan melewati segala medan yang menantang. Tapi inilah kenyataan. Jarak dari kota Mamasa ke Desa Ulu Mambi, Bambang, tak kurang 30 kilometer. Data ini masih berupa asumsi, bukan angka resmi dari BPS Mamasa, atau pemerintah setempat. Beberapa warga bilang pada kami.

Tujuan utama kami ke Ulu Mambi hanya satu: ingin melihat dan menikmati langsung permandian alam Sambabo. Nama kerennya Air Terjun Sambabo. Permandian ini sudah jadi ikon wisata—salah satunya—di Kabupaten Mamasa.

Dari seorang pemuda desa kami beroleh informasi tentang desa, dan tentang Sambabo. Dia mengaku telah berumur 26 tahun, tapi tak berkenan dipublis namanya. Katanya, di Desa Ulu Mambi belum tersedia tenaga listrik. Jaringan untuk telepon seluler (handphone) apalagi.

“Kalau warga desa di sini hendak ke pasar Mamasa, harus jalan kaki seharian, dan biasanya kami bermalam di tengah perjalanan. Esok subuhnya baru kami teruskan perjalanan, saat kembali ke kampung dengan bawaan belanja di pasar,” kata lelaki ini, jujur.

Mereka masih terisolir, ini pasti. Bukan lagi klaim. Kami sudah melihatnya secara langsung—secara kasat mata. Makanya kami menumpahkannya dalam tulisan ini. Ini kisah nyata. Pemerintah—untuk semua levelnya—perlu ‘menengok’ ke sini, di Desa Ulu Mambi ini.

Mereka juga berharap berubah, seperti warga lainnya di desa lain di Nusantara ini. Paling tidak sudah tidak jalan kaki ke kota Mamasa. Mereka bisa beli kendaraan sepeda motor, asal jalanannya diperbaiki. “Itu saja sudah majulah kami,” kata pemuda itu lagi.

Meski Ulu Mambi masih ‘tertutup’, tapi soal Air Terjun Sambabo seolah telah jadi pelipur lara. Meski saban pagi dan sore hari setia ‘menyeruput kopi pahit’, namun pesona Sambabo melumatkan semuanya.

“Kami menyukai memandangnya, terutama ketika sore mulai meredup,” aku pemuda itu kepada kami. Ia perkirakan, tingginya permandian alam Sambabo sekitar 200 meter. Woww… terbilang tinggi. Memang, dari oandangan mata kami—dan sesuai pengakuan banyak orang yang telah pernah ke sini—juga menyebut 200-an meter tingginya.

Ulu Mambi boleh masih terbelakang, tapi Air terjun Sambabo telah jadi kebanggaan Kabupaten Mamasa, termasuk Provinsi Sulawesi Barat. Konon, Air Terjun Sambabo merupakan air terjun tertinggi di Pulau Sulawesi. Masih butuh penelusuran data potensi secara ilmiah.

Keindahan serta keistimewaannya akan tertanam dalam benak setiap pengunjung. Inilah ciptaan Tuhan yang luar biasa pesonanya. Air Terjun Sambabo muncul dari dalam tebing Gunung Sambabo. Airnya terus mengalir tiada henti. Deras. Padat. Dingin. Ia jatuh ke dasar tanah sudah tak utuh lagi dalam bentuk air, ia sudah berubah seperti embun yang padat.

Dari percikannya sulit untuk mengambil gambar dari jarak dekat, maklum kamera bertele pendek. Beberapa detik saja berdiri untuk menjepretnya, kamera sudah terendam. Bukan lagi lembab, tapi sudah tampak basah kuyup. Untuk memotret Air Sambabo Sambabo secara utuh dan cantik, butuh kamera dengan tele yang besar dan panjang—atau istilah mekanik lain yang kami tak paham detailnya.

Aprianto, pengunjung dari rombongan lain, mengakui keindahan dan keunikan Sambabo Waterfalls ini. “Air Terjun Sambabo memang punya kesan tersendiri. Dia adalah pemandangan yang indah yang mungkin tak akan pernah saya temui samanya di dareah lain, bahkan sampai akhir hayatku,” aku Aprianto, agak berlebihan.

Bagian bawah, Sambabo Waterfalls di Ulu Mambi, Bambang, Mamasa. (Foto: Frendy Cristian)

Andai saja objek wisata ini dikelola dengan baik, ia tak hanya akan sekadar kebanggan, dan sebagai ikon wisata yang potensial. Sambabo—yang oleh TUHAN telah sediakan—sudah seharusnya menghasilkan uang banyak untuk daerah, pula akan berefek dan menitis separuhnya ke warga Ulu Mambi.

Jika ‘dipermak’ lagi dengan Adat dan Budaya lainnya yang menyemayam di relung kampung Ulu Mambi, maka sejahtera itu hanya soal waktu. Isolasi kampung juga akan tinggal jadi ‘kosakata’. Selesai

TABE’

FRENDY CRISTIAN

TINGGALKAN KOMENTAR