Permandian Sambabo, Ulu Mambi, Bambang, Mamasa. (Foto: Frendy Cristian)

TRANSTIPO.com, Mamasa – Ini kisah lama, setahun yang lalu. Pada sebuah Sabtu 2016 itu, pagi sudah mulai gerah. Cuaca dingin yang telah jadi ciri daerah itu—atau umumnya di Mamasa—tiba-tiba tampak dedaunan kering berguguran. Masa kemarau benar-benar telah tiba. Sebuah perubahan musim telah terjadi.

Di pagi itu, kaki terus melangkah perlahan. Menyusuri semak, dan setelah itu tumpuan kian kokoh lantaran pendakian terbentang pada sudut pandang yang jauh. Perkampungan Kalimbuang dan Desa Taupe masih berada dalam Kecamatan Mamasa. Tempat ini belum begitu jauh dari kota Mamasa, ibukota kabupaten yang telah mekar sejak 2002 silam.

Memimpikan kendaran bermesin masih jadi penghibur saban tibur warga yang bermukim di kampung ini. Satu-satunya yang bisa diandalkan adalah derap langkah kedua kaki. Sanggup atau tidak, inilah konsekuensi menjadi agenda antrian pembangunan.

Bebatuan yang bertebaran di sisi kiri dan kanan jalan tak jarang menjadi penyebab darah mengucur dari kaki warga. Jika musibah itu datang di tengah teriknya mentari, pedihnya tiada banding. Ini sudah resiko dari kenyataan yang sudah menahun, bahkan—mungkin—akan abadi jika giliran pembangunan terus abai.

Tantangan berikutnya ketika sedang berada di tengah lindungan pepohonan dengan dedaunan yang lebat. Dahaga, perihnya sinar mentari seolah meruap seketika. Berada di tengah hutan yang belum dijamah warga ‘penakluk’ alam dan hutan seolah sedang berada hamparan padang savana yang teduh dan bersahabat.

Keadaan sunyi, tak ada hiruk-pikuk dan dentuman segala bunyi—jauh dari kebisingan seperti yang sudah jadi kebiasaan di Mamasa kota. Udaranya masih dingin. Karunia Tuhan yang tiada terhingga ini, ingin rasanya menghirupnya tanpa henti, seolah hendak ‘merampasnya’ untuk terus ke rongga yang terdalam.

Kicauan burung-burung segala jenis telah membentuk irama tersendiri di tengah rimba raya yang tenang. Syahdu sekali. Mereka—burung-burung itu—seolah diajar mengeluarkan bunyi dengan kadarnya masing-masing. Runtut, padu, tak saling beradu mengeraskan bunyi dari kicauan. Ritmenya begitu teratur. Meneduhkan bagi pendengarnya. TUHAN Maha Mengatur Segalanya di muka bumi ini. Tuhan Maha Besar.

Kami terus berjalan. Semua yang kami alami sejak menantang semak belukar dan curamnya penurunan yang secara bergantian dengan terjalnya tanjakan, menguap seketika. Tak ada yang patut kami selali. Kami terus melangkahkan kami dengan tak disertai beban apa-apa. Nyaman sekali, di tengah hutan yang dihibur oleh bunyian merdu.

Hutan yang lebat itu menawarkan keindahan dengan bunga-bunga anggreknya yang elok dipandang mata. Bunga-bunga anggrek itu tumbuh di atas pepohonan. Sebuah kehidupan nyata yang terjadi bukan pada manusia.

Jika anggrek semerbak daunnya yang indah, justru lantaran ia disapih oleh pohon yang justru tak tampak kekurangan. Ia tumbuh hingga menjulang, dan daunnya lebat yang justru menjadi pelindung sang anggrek itu sendiri yang hinggap di dahannya dalam waktu yang tak tentu lamanya.

Tak terasa kami telah berjumpa dengan hari yang sudah sore. Sudah sekian banyak kampung-kampung sunyi yang ramah telah kami lewati. Waktu telah menunjukkan pukul 15.00 waktu setempat. Ini sudah sore. Sebentar lagi kami akan berjumpa dengan awal malam yang gelap. Namun meski begitu, kami tak kuatir sebab ‘bathin’ kami seolah diterangi oleh peneriamaan alam, hutan, burung-burung, anggrek, dan warga kampung yang syahdu.

Dari kejauhan telah tampak sebuah gunung yang akrab untuk banyak orang: itulah kampung Ulu Mambi—kini Desa Ulu Mambi, Bambang, Mamasa. tak bisa kami sebuat di mana kami beristirahat mengisi perut kami yang sudah pasti—dalam kondisi orang biasa—tentulah kelaparan. Tapi dengan sajian alam yang kami jumpai, rasa lapar itu tak terasa.

Memasuki Ulu Mambi, tampak persawahan berundik-undik. Warga di kampung ini umumnya petani dan pekebun. Di lereng-lereng gunung—di bawah gunung batu yang menjulang, yang terkenal itu—berpetak-petak kebun kakao dan beraneka jenis tanaman lainnya.

Meski sudah di awal malam, warga Ulu Mambi sudah tampak bergerak. Mereka secara beriringan, setelah keluar rumah, berjalan menuju kota Mamasa. “Besok pagi hari pasar di Mamasa kota. Kami harus berangkat sekarang agar bisa berjumpa dengan pasar di waktu pagi, esoknya,” kata seorang warga kepada kami. Bersambung

FRENDY CRISTIAN

TINGGALKAN KOMENTAR