Fionela Florencia Maraya

TRANSTIPO.com, Mamasa – Hembusan angin di siang itu seolah menembus ke ruang pori-pori. Terpaan angin itu terasa sekali hingga ke kulit dalam. Dan, karena itu ada kesejukan dibuatnya.

Rasa gerah di bawah terik matahari secara perlahan-lahan menguap. Di siang itu sejumlah awak media di Mamasa memang sengaja mengunjungi sebuah rumah Ibadah.

Di Gereja itu tengah berkumpul sekumpulan Umat Katolik Santo Petrus Mamasa. Umat Katolik ini sengaja secara bersama-sama menyandarkan diri secara khusuk pada Tuhan sebagai suatu tanda syukur demi kelancaran pembangunan Gereja mereka.

Gedung Gereja ini dibangun di Desa Buntu Buda, Kecamatan Mamasa, Kabupaten Mamasa, Provinsi Sulawesi Barat (Sulbar).

Kru transtipo.com bersama sejumlah awal media lainnya menggenapi perjalanan ‘rohani’ ini dengan seketika muncul naluri jurnalistik. Dari pantauan dan amatan pada tempat sekitar Gereja itu—dengan jarak sepelemparan batu—tampak sebuah obyek tulisan yang menarik.

Meski tak berderet rapat, tapi rumah-rumah milik warga dari jarak dekat dan di kejauhan, jelas benar jika di depan dan di samping rumah mereka tengah berlangsung aktifitas ekonomi—yang berlangsung secara insidental.

Warga itu sedang menjajakan hasil kerajinan lokal Mamasa semisal kain dan sambuk bembe (sarung asli buatan Mamasa). Ada yang menjual kopi Mamasa yang sudah dibungkus permanen dengan label dan identitas produksi sebagai pembeda dari produk-produk kopi lainnya.

Ada pula yang menjual pelbagai rupa asesoris ciri khas Mamasa. Kami melangkahkan kaki mendekatinya. Sedang terjadi tawar-menawar harga—dengan langgam dan aksen lokal Mamasa.

Tampak riuh, ramai, dan kerap berdenting tawa-tawa mereka, entah penjual maupun pembeli. Beginilah salah satu cara inisiatif warga tatkala sedang ada keramaian—dalam rangka perkumpulan Ibadah atau kegiatan kerohanian dan kesenian lainnya.

Dari tempat duduk kami menyeduh kopi hangat sembari bersenda gurau, maka jadilah kami seolah larut dalam keramaian ‘pasar’ mendadak dibuat itu. Setelah masing-masing merogoh kocek, urusan kopi panas dari beberapa gelas sederhana yang disajikan oleh seorang perempuan belia telah beres.

Namanya Fionela Florencia Maraya(20). Ia perempuan muda Mamasa. Sejak remaja ia sudah bisa hidup mandiri. Fionela telah menjual kopi sejak beberapa waktu lalu. ia menjual kopi bubuk dalam kemasan dan tak riskan pula menjajakan kopi hangat bagi setiap pengunjung teras rumahnya.

Brand kopi Fionela adalah Kopi Leluhur—tentulah sebuah nama yang punya makna. Berkat hasil dari menjual ‘Kopi Leluhur’ inilah Fionela telah mampu membiayai kuliahnya di Universitas Fajar (Unifa) Makassar, Sulsel, pada Jurusan manajemen.

Dalam keluarga Fionela anak pertama dari tiga bersaudara. Ia terlahir dari pasangan Barto Simon Maraya dengan Selfi.

Pada Kamis, 9 November 2017, sembari melayani tetamu—minum kopi—FioNela sesekali menjawab pertanyaan kru laman ini.

“Saya tertarik di usaha kopi ini lantaran bagaian dari identitas Mamasa. Dengan aktif kelola dan menjual salah satu komoditi unggulan Mamasa ini, sekalian telah ikut promosikan produk unggulan daerah Mamasa,” katanya dalam penjelasan yang ‘berisi’.

Pada awalnya Fionela sekadar mencoba—melatih diri apakah ia bisa mandiri dalam sebuah usaha kecil-kecilan. Lama-lama ia kian tekun, dan setelah ia bisa mandiri, ia telah turut membantu secara langsung ‘kepulan asap dapur’ orang tuanya.

Dengan polos—pula sedikit idealis—ia bilang, “Saya hidup mandiri untuk meringankan beban orang tua dan biayai proses pendidikan saya.”

Ia mengaku sudah jalani menjual kopi sejak dua tahun lalu. “Hanya denga modal Rp 1 juta, dan itu cukup untuk beli french press. Dengan modal usaha itulah kini saya sudah bisa menghasilkan tiga sampai lima juta rupiah dalam sebulan,” aku Fionela.

Brand kopi jualannya—yang dalam kemasan—bervariasi. Ada yang dengan nama merek Kopi Jahe Mamasa, ada Kopi Rebusta Mamasa, dan Kopi Arabika Mamasa.

Menurutnya, meskipun alat yang digunakan masih seadanya dan belum mampu memproduksi kopi kemasan dalam jumlah besar, tapi ia tetap optimis dan tekun mengelola usaha miliknya itu.

Kini, Fionela tak sulit jika hendak ditemui: beli kopinya atau sekadar melihatnya. Di kora Daeng yang ramai, ia sudah punya gerai, sebutlah pusat pemasaran bisnisnya ini.

Jalan Andi Pangeran Pettarani, Kota Makassar, Sulsel. Untuk menghubunginya bisa lewat ini: Kontak Person, Handphone (Hp) 085296797892.

Lalu mengapa Fionela kini sedang ada di Mamasa?

Ia bercerita, bukan hanya kali ini. Jika saya diberi tempat yang lapang ketika sedang berlagsung sebuah acara keagamaan, maka saya akan selalu hadir: menjual kopi tentunya.

“Ya, hitung-hitung menambah pendapatan,” katanya dengan sunggingan senyumnya yang ramah.

Selain itu, Fionela juga sekalian bisa berkunjung ke rumah-rumah keluarga. Dan—ini yang tak kalah penting—cari-cari kopi sebagai bahan jualannya.

Pesan Fionela yahud: “Generasi muda jangan gengsi melakukan hal-hal serupa demi melatih diri hidup mandiri, tanpa bergantung pada orang tua.”

FRENDY CHRISTIAN/SARMAN SHD

1 KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR