Kondisi bangunan kelas jauh SDN 008 Rantetanete, Desa Salumokanan Utara, Kecamatan Rantim, Kabupaten Mamasa. (Foto; Frendy)

TRANSTIPO.com, Mamasa – Potret dunia pendidikan di negeri ini masih saja buram. Bertahun–tahun sudah, murid-murid Sekolah Dasar 008 Rantetanete, Dusun Sandam Kondo, Desa Salumokanan Utara, Kecamatan Rantebulahan Timur, belajar dengan kondisi bangunan yang memprihatinkan.

Sekolah itu, adalah salah satu potret sekolah tertinggal yang ada di Kabupaten Mamasa, Sulawesi Barat.

Dari dindingnya terbuat dari anyaman bambu. Ukuran ruangannya tak lebih dari 3 x 4 meter. Sebagian dinding, atap, dan fisik bangunannya kini sudah tampak lapuk.

Sejak didirikan tahun 2015 lalu secara bergotong royong oleh masyarakat setempat, gedung sekolah dengan dinding bambu, beralas tanah dan beratap daun rumbia ini belum pernah tersentuh bantuan renovasi dari pemerintah setempat.

Senin, 30 April 2018, saat transtipo.com mengunjugi sekolah ini, terpampang jelas tulisan puisi murid-murid di depan pintu sekolah itu.

Kami adalah anak Desa yang berjiwa besar, disiplin, tekun, tabah dan taat, meski belajar di bawah pondok bambu. Namun apalah arti sebuah gedung mewah bagi kami bila otak tak berisi. Kami akan terus belajar dan belajar membina mental yang baik, mengasah kecerdasaan, mengembangkan bakat dan keterampilan untuk membangun Tanete ke arah yang lebih baik,” demikian tulisan yang masih terurai jelas, ditulis di kertas kusam kemudian ditempel di pintu kelas.

Tentu yang dituangkan dalam kertas itu adalah percikan semangat dari mereka.

Tulisan puisi siswa SD 008 Rantetanete yang terpampang di pintu kelas. (Foto: Frendy )

Belajar dengan kondisi memprihatiknan, bukanlah penghalang bagi murid-murid di sekolah ini. Tampak dari raut wajah mereka tetap bersemangat mengikuti proses belajar mengajar laiknya sekolah-sekolah pada umumnya.

Meskipun hanya kelas jauh dari SDN 008 Rantetanete, namun di sekolah ini terdapat 26 anak yang menuntut ilmu, menggantungkan cita-cita dan harapan hidupnya.

Demmalio, adalah salah satu guru honorer yang mengajar di sekolah itu menuturkan, jika musim hujan tiba kadang mereka pulang dengan cepat, lantaran atap sekolah yang terbuat dari daun rumbia sudah lapuk dan bocor. Ruangan kelas biasa tergenang air.

Selain itu, tak ada sarana perpustakaan, apalagi komputer, yang menjadi tempat para guru dan siswa menambah ilmu pengetahuan. Hanya bangku dan kursi seadanya, itupun bantuan swadaya masyarakat setempat.

Proses belajar mengajar di siswa SDN 008 Rantetanete, Desa Salumokanan Utara, Kecamatan Ratebulahan Timur, Kabupaten Mamasa. (Foto: Frendy)

Sekolah yang tepat berada di tengah-tengah permukiman warga ini memiliki 3 kelas dengan 5 guru kelas, 1 orang PNS dan 4 orang lainya tenaga honorer.

Para guru dan siswanya berharap bisa memiliki sekolah dan sarana belajar yang layak. Namun, karena keterbatasan kemampuan dana warga, sekolah ini terpaksa berjalan apa adanya.

Marthen, Sekertaris Desa Salumokan Utara, mengungkapkan pihaknya berharap agar sekolah itu bisa diperhatikan oleh pemerintah daerah agar gedung sekolah kelas jau SDN 008 Rantetanete bisa dibagunkan gedung yang layak.

Selain itu, ia juga berharap agar ada sekolah SMP yang dibangun di desanya yang selama ini belum ada.

FRENDY CHRISTIAN

5 KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR