Bongga Ma’dika duduk di rumahnya di Dusun Tanete, Desa Sepakuan, Balla, Mamasa, Kamis, 5 April 2018. (Foto: Frendy)

Ini satu lagi potret kemiskinan di Kabupaten Mamasa. Ia menerima nasib begini, mesti bisa mengeluh juga. Pemerintah belum pernah beri uluran tangan.

Sebuah kehidupan nyata yang sangat memprihatinkan.

Ketika politik di Mamasa kini hangat dalam perebutan kursi ‘kekuasaan’, realita kehidupan melarat juga menganga seterang-terangnya.

TRANSTIPO.com, MamujuAnda bisa mengira-ngira berapa meter tiang penopang sebuah rumah yang tampak terang di depan Anda—gambar di atas itu.

Rumah ini milik sepasang keluarga yang lengkap: suami, istri, dan dikarunia pula anak. Berpuluh-puluh tahun lamanya di atas rumah ini tinggal sepasang keluarga.

Ia berdiri kukuh, menopang nasib yang masih kuat bertahan. Entah di waktu kapan, jika tiba masa angin datang menghembusnya tiada peduli, maka kekuatan cadangan penyanggah akan takluk juga.

Rapuhnya rumah ini tak berbanding lurus dengan kukuhnya dua sejoli tua di atasnya. Dari atap rumah yang tampak meninggi runcing ke atas, inikah simbol semangat kuat sang pemiliknya?

Rumah ini terletak di Dusun Tanete, Desa Sepakuan, Kecamatan Balla, Kabupaten Mamasa. Ukurannya tak lebih dari 3×5 meter. Tampak reot. Hanya ditutupi atap dari alang-alang, yang ini pun sudah mulai lapuk. Jika hujan deras turun, sang pemiliknya hanya bisa menadahi tetesan air dengan sejumlah pakaian bekas.

Tiang-tiang penyanggah rumah dari bambu betung. Penyanggah dasarnya sudah mulai rapuh. Makanya, belasan tahun silam, sang pemilikya sempat menambahkan sejumlah bambu petung di sejumlah sisi sebagai penopang badan rumah. Jika tidak begitu, maka bisa-bisa rumah ini roboh ketika datang angin kencang.

Jika secara kasat, rumah ini benar-benar tak layah huni. Dinding dapur dari anyaman bambu yang telah lapuk ini sudah berlubang. Angin kerap menghantam masuk. Air hujan juga kerap menyelinap lalu membasahi separuh pengalas dapur.

Rumah begini rawan kena bencana kebakaran. Keluarga ini memasak dengan masih cara dulu, tradisional. Jika api dari kayu bakar sedang menyala di tungku, dan itu tak dijaga baik-baik, bisa-bisa apinya meluber ke lantai kering yang sangat rentan dilahap api. Nyawa si empu rumah bisa fatal, tak tertolong.

Di dapur rumah ini tampak tumpukan kayu kering di atas rak gantung dari bambu. Di bawahnya tungku batu, tempat memasak. Sejumlah peralatan dapur seadanya digantung di tiang-tiang bambu.

Kisah kehidupan nyata ini bersumber dari Bongga Ma’dika (76 tahun) dan Utan (73 tahun). Bongga dan Utan adalah sepasang keluarga. Kakek-nenek ini telah meninggali rumahnya di Dusun Tanete itu sudah sekian puluh tahun lamanya.

Pada Kamis, 5 April 2018, transtipo.com—dan sejumlah jurnalis dari beragam media lainnya—menemui dua sepasang kekasih ini di rumahnya.

Keluarga ini hidup seadanya. Tak ada cita-cita yang bisa diungkapkan keduanya, pula anaknya. Hidup ini, ya, hidup hari ini dan syukur-syukur sampai esok. Tak ada gambaran masa depan. Yang begitu itu, entahlah. “Hanya Tuhan yang tahu,” kata Bongga, singkat.

Anak keempat Bongga dan Utan berjenis perempuan. Dialah yang setia menemani Ayah-Ibunya itu. Ia sudah menikah. Tapi ketika ditanya perihal keluarganya, ia hanya bilang, “Saya sudah janda pak.”

Jika boleh disebut penderitaan mereka berlapis, seolah melengkapi kehidupan Bongga Ma’dika. Ia tahu dirinya sebagai kepala keluarga, tapi apa mau dikata, sudah lebih 10 tahun ia terkena penyakit kebutaan, tunanetra. Sejak kedua matanya tak berfungsi, sang istrilah yang jadi tumpuan.

Sementara Utan, istri Bongga, juga kerap dihantui derita sakit-sakitan. Maklum, dengan umur 73 tahun, tentulah ragam penyakit menghinggapi—konsumsi obat sehat juga jauh panggang dari api.

Tapi meski begitu, Utan memacu diri untuk terus kuat bekerja agar terasapi dapur mereka. Jadilah Utan dan anak perempuannya itu kerap keluar rumah mencari sesuap nasi.

Tampak dapur rumah milik Bongga dan Utan, warda Desa Sepakuan, Kecamatan Balla, Mamasa, Kamis, 5 April 2018. (Foto: Frendy)

Tak Ada Bantuan Raskin

Tepat dari rumah di dusun itu, di Kecamatan Balla, hanya berjarak sekitar 3 km dari jalan poros Mamasa–Polewali, Sulawesi Barat.

Dari kisah Bongga dan Utan, ia mengakui hingga kini belum tersentuh bantuan dari pemerintah, termasuk bantuan Beras Sejahtera (Rastra)—Raskin, sebutan dulu.

“Kami tak pernah terima beras atau bantuan-bantuan dari pemerintah,” aku nenek Utan dengan nada sedih.

Perihal kondisi rumahnya itu, ia juga keluhkan. Dengan atap rumah yang sudah bocor, betapa gelisahnya mereka manakala musim hujan tiba—terutama saat di malam hari. Mau hendak kemana lagi!

Parahnya lagi, jika kayu bakar di dapur ikut basah kena air hujan. “Kami biasa tak bisa masak,” aku Utan. Pada atap alang-alang yang telah bocor atau berlubang itu, meski sudah ditempeli pakai kantong plastik toh tertembus air juga.

“Kalau sementara makan lalu hujan, terpaksa berhenti dulu dan makanan ditutup sampai hujan reda. Kalau sedang tidur dan turun hujan, tikar tempat tidur digulung dulu. Kami terus bergeser-geser berteduh mencari posisi yang tak dihujani,” kisah Utan lagi.

Si “buta” Bongga dan sang enerjik Utan—pula putrinya itu—selalu punya cara dalam menyambung hidup. Tatkala musim panen tiba, Utan dan anakya kerap pergi ke sawah menawarkan diri menjadi paddaros.

Di Mamasa kini, atau sejak beberapa tahun belakangan, cara memanen padi di sawah telah memakai mesin daros—mesin perontok padi.

Dari setiap kali maddaros itu, mereka biasa mendapat upah berupa satu karung kecil gabah basah. “Ya, isi karung itu sekitar 15 kg,” kata Utan.

Terkadang pula, aku Utan, kerja memanen padi dengan bayaran harian. “Macam-macamlah kami kerja yang penting bisa makan,” katanya, jujur.

Utan dan Bongga penuh harap kepada pemerintah daerah, datanglah tengok kehidupannya. “Bantulah kami,” harapnya.

Keluarga ini juga berharap, “Kami juga mau rumah kami ini dapat bantuan perbaikan seadanya.”

FRENDY CHRISTIAN

TINGGALKAN KOMENTAR