Reksio Ranggani, murid SD 002 Saludengan, Bambang, Mamasa sedang baca puisi pada ajang Festival dan Lomba Seni Siswa Nasional (FLS2N) tingkat SD/SMP Tahun 2017 se-Kabupaten Mamasa, Selasa, 7 Maret 2017. (Foto: Frendy Cristian)

Puisi yang merefleksikan sebuah bencana di Desa Saludengan, Bambang, Mamasa.

TRANSTIPO.com, Mamasa – Siang itu baru pukul 11.00 wita. Sesaat suasana di dalam gedung Aula Mini hening. Tak ada yang berbisik, teriakan apalagi. Semua peserta terpaku dan mata tertuju pada sesosok anak sekolah dasar (SD). Dia baru 10 tahun dan namanya Reksio Ranggani.

Perlahan kaki Reksio diayunkan dan dilangkahkan menuju panggung tempat mengekspresikan bakat yang ia miliki. Ekpresi ini ditunjukkan Reksio pada ajang Festival dan Lomba Seni Siswa Nasional (FLS2N) tingkat SD/SMP Tahun 2017 Kabupaten Mamasa yang digelar oleh Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Mamasa, Selasa, 7 Maret 2017.

Reksio anak kedua dari pasangan Opniel (39) dengan Simriani (30). Reksio tercatat sebagai murid kelas dua SD 002 Saludengen, Kecamatan Bambang.

Meski Reksio anak yang sangat berbakat dalam pementasan ini, namun hasil akhir dari perlombaan siapa yang layak sebagai juara tetap menunggu keputusan dewan juri.

“Ditelan Badai Hitam, Tragedi 7 Februari 2017” adalah judul puisi yang dibaca oleh Reksio. Puisi ini adalah karya Martin Alfiana (15). Martin adalah kakak kandung Reksio, kini ia masih duduk di bangku kelas tiga SMP.

Puisi yang ia baca itu merupakan refleksi dari sebuah bencana yang melanda desanya: Saludengen, Bambang. Badai kencang puting beliung menghantam pohon telah meluluh lantakkan sejumlah rumah dan membuat buah padi di sawah berguguran.

Kata demi kata terangkai membentuk sebuah kalimat. Kalimat demi kalimat membentuk bait puisi yang ia ucapkan. Terkadang pelan, terkadang pula dengan nada yang keras—nada yang menjadikan peserta dan penonton seakan terhanyut ke dalam cerita puisi yang ia lantunkan itu.

Wajahnya berkerut kala membaca bait demi bait puisi itu seolah tragedi yang melanda tak lepas dari ingatannya. Penguasaan dan pendalaman puisinya itu membuat Reksio tak kuasa menahannya yang membuatnya ia meneteskan air mata. Seisi gedung membuat bulu kuduk merinding.

Nada begitu riuh tatkala ia mengucapkan, “Kegelapan telah berlalu dan cahaya mulai menyapa gunung-gunung, rembulan telah lenyap oleh kabut dan mentari tak kunjung menampakkan rautnya. Tak jauh di sana kabut turun laksana lembaran sutra membasahi pucuk-pucuk dedaunan dan menyiram bumi tanpa peduli”.

Nadanya kian hiruk di saat menyebut, “Angin bertiup kencang, bagai ombak di lereng gunung menghempas sawah, ladang dan pemukiman menyerbu ganas tiada berkasih. Tak lama setelah itu, topan bergemuruh, pohon tumbang, padi gugur dan rumah hancur bagai puing-puing gelas kaca meninggalkan gema percikan yang begitu lama kian kecil.

Ratapan tangis terdengar di sana sini, rintihan kepedihan menyayat di ujung kalbu, lihatlah…. Kini semua telah sirna, semua telah hilang ditelan badai hitam…. Oh… Tuhan… di mana Engkau bersembunyi, aku tidak berdaya melihat semua ini”.

Puisi Reksio Ranggani ini begitu berisi. Selamat, dan teruslah berkarya Reksio.

FRENDY CRISTIAN

TINGGALKAN KOMENTAR