Berharap Hidup di Teras Rumah Orang Lain

242

TRANSTIPO.com, Mamasa – Mamasa memang dikenal musimnya yang dingin. Tapi di kala siang sengatan mentari juga terasa menusuk kulit. Sejak daerah ini jadi kabupaten pada 2002 lalu, perubahan tampak di semua bidang, cuaca alamnya pun sedikit ikut berubah.

Kehangatan cuaca Mamasa tentulah dipengaruhi begitu banyaknya kendaraan baru yang hilir-mudik di jalan-jalan Mamasa kota, terutama di siang hari. Polusi bertambah. Suara bising pun ikut menyumbang hangatnya kota di tengah kerumunan warga yang kian padat saja.

Di tengah tantangan merubah nasib, Sambo (48 tahun) tak mau kalah dengan keadaan. Bersama kawan-kawannya—yang umumnya perempuan dewasa—dengan setia menggelar dagangannya di teras rumah milik orang lain, dalam kota Mamasa.

Sambo dan kawan-kawan menjual sayur-mayur. Di depan rumah bertingkat itu, Sambo menggelar tikar dan menggantung sebuah terpal sebagai pelindung panas dan penangkis air hujan. Saban hari, Sambo duduk berjam-jam begitu sabar menanti pembeli sayurannya.

Sambo mengaku kepada laman ini, setiap satu ikat sayurnya dijual seharga Rp. 2.500. Kata Sambo, sejak Pemkab Mamasa menutup pasar di tengah kota lalu memindahkan ke lokasi pasar baru, sejak itulah Sambo dan sejumlah rekannya tetap bertahan berjualan di sekitar pasar lama itu.

Sambo dan rekannya masih beruntung sebab para pemilik rumah yang tak jauh dari Masjid Raya Mamasa membolehkannya menjual di teras rumah.

Pemkab Mamasa memang sudah bangun pasar baru di Barra’-Barra’. Tapi menurut Sambo, “Lokasinya cukup jauh. Jalan menuju pasar baru belum diperbaiki. Di pasar baru itu sepi pembeli.”

Sambo yang sudah bertahun-tahun jualan sayur akan terus dijalaninya ke depan. “Saya sudah terbiasa menjalani hidup berat pak,” katanya kepada Frendy Cristian dari transtipo.com, Senin siang, 7 November 2016.

Saban pagi-pagi, Sambo sudah harus berkemas untuk jalan kaki sejauh lima kilometer untuk sampai di tempat jualannya itu. Sorenya, ia kembakli ke rumahnya dengan jalan kaki pula.

Panas dan hujan sudah biasa bagi Sambo. Baginya, yang terpenting dapur keluarganya tetap mengepulkan asap, dan anaknya yang masih duduk di sekolah dasar tetap bisa sekolah.

Soal penghasilan, Sambo mengaku untung-untungan. “Kita dagang itu untung-untungan, kadang sayurnya habis kadang pula tidak,” aku Sambo. “Tapi apa pun yang terjadi saya akan terus jualan demi keluarga saya pak,” tekadnya.

Ketenangan Sambo dan kawan-kawannya berjualan di teras rumah juga kadang terusik. Sesekali berlaku penertiban seluruh badan jalan oleh Satpol PP Pemkab Mamasa.

Jika sudah begitu para pedagang ‘liar’ ini dengan sigapnya menutup jualannya seketika. “Kalau ada petugas yang suruh bongkar terpaksa kita harus bongkar, kalau tidak dibongkar takut dagangan di bawah sama petugas,” kata Sambo jujur.

Tapi Sambo harus pintar-pintar menyiasati keadaan. Sebab jika ia tak jualan sayur, maka ia kuatir keluarganya tak makan. “Suami saya hanya petani pak,” kata salah seorang penjual sayur lainnya.

Sambo dan rekannya juga sadar bahwa posisi jualan mereka membuat pemandangan kota tampak semraut. Karena itu mereka berharap agar Pemkab Mamasa bisa perhatikan nasib mereka.

“Kami begini pak karena juga punya keluarga yang ingin hidup layak. Tidak lebih dari itu pak,” katanya.

FRENDY CRISTIAN

TINGGALKAN KOMENTAR