Ali Baal Masdar (ABM) dikerumuni pendukungnya ketika kampanyedi Majene, Selasa siang, 8 November 2016. (Foto: Arie)

TRANSTIPO.com, Majene – Jauh sebelum wacana pembentukan Provinsi Sulbar didengungkan, sejak awal Kabupaten Majene dijuluki sebagai Kota Pendidikan di empat kabupaten yang ada di jazirah Mandar. Ada mata rantai historis. Julukan ini muncul lantaran banyaknya sekolah dan siswa berprestasi yang lahir dan menempa pendidikan di Kota tua Mandar lama ini.

Tak salah, dengan keunggulan yang dimilikinya itu, para eksponen pejuang pembentukan Sulbar memilih Majene sebagai daerah yang akan dipusatkan menjadi sentra pendidikan jika kelak Sulbar terbentuk.

Dan faktanya kemudian—ketika Sulbar terbentuk—Kabupaten Majene benar-benar  dipilih untuk ditempati dua perguruan tinggi negeri yaitu Universitas Sulawesi barat (Unsulbar) dan Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Majene, kelak akan dijadikan universitas negeri, laiknya UIN Alauddin Makassar.

Ali Baal Masdar (ABM) sebagai salah satu tokoh dalam barisan eksponen pembentukan Sulbar. ABM ikut berperan mendorong agar Majene dijadikan sebagai Kota Pendidikan di Sulbar.

Ali Baal Masdar (ABM) dan Hj. Andi Ruskati Ali Baal (tengah) sedang melambaikan tangan kepada pendukungnya dari atas panggung kampanye di Majene, Selasa siang, 8 November 2016. (Foto: Arie)
Ali Baal Masdar (ABM) dan Hj. Andi Ruskati Ali Baal (tengah) sedang melambaikan tangan kepada pendukungnya dari atas panggung kampanye di Majene, Selasa siang, 8 November 2016. (Foto: Arie)

Ketika itu ABM sebagai Bupati Polman. Dia gigih berjuang bersama pejuang-pejuang lain untuk mempercepat pembentukan Provinsi Sulbar. Salah satu rekomendasi kala itu adalah Kabupaten Majene harus dijadikan pusat pendidikan di Sulbar.

Dalam pertemuan ABM dengan sejumlah awak media siang tadi, Selasa, 8 November 2016, di Kelurahan Pangali-Ali, Majene, calon Gubernur Sulbar dengan simbol “Salam Tiga Jari” ini menceritakan sejumlah indikator dan harapan-harapannya untuk Majene sebagai Kota Pendidikan di Sulbar.

“Majene sejak dulu dikenal sebagai gudangnya tokoh pendidik, banyak tokoh berpengaruh lahir dari kota ini. bukan hanya untuk skala Sulbar melainkan Indonesia. Sebut saja Prof Dr. Basri Hasanuddin, MA, Prof Dr. Makmun Hasanuddin (alm.), dan Prof Dr. Baharuddin Lopa, SH (alm.)—meski terlahir di Pambusuang tapi pernah menjadi Bupati Majene saat masih berstatus Afdeling,” urai ABM.

Masih ABM, sekolah pun demikian. “Siapa yang tak kenal SMU 1 Majene sebagai sekolah unggulan,” kata ABM.

ABM punya mimpi untuk mensejajarkan Majene dengan kota-kota pendidikan lainnya di Indonesia seperti beberapa kota d Jawa. “Hal itu bisa diwujudkan,” ABM yakin.

Ke depan, kata ABM, Pemprov Sulbar tak akan setengah-setengah mengembangkan SDM di bidang pendidikan.

Masih ABM, siapa pun nanti yang diamanahi menjadi Gubernur dan Wakil Gubernur Sulbar, harus secepatnya melakukan terobosan, mengumpulkan orang-orang cerdasnya Sulbar, baik yang berkiprah di luar maupun yang masih setia berkarir di Sulbar. Baik yang berada pada tataran elit, maupun yang saat ini melakukan kerja-kerja di masyarakat, baik yang formal maupun non formal, tak terkecuali para tokoh-tokoh mudanya.

“Terobosan Gubernur Sulbar wajib kita apresiasi, meskipun belum sepenuhnya maksimal karena terbentur sejumlah kendala. Tinggal bagaimana kita merealisasikannya, sedikit demi sedikit dan bertahap. Di internal tim kami pun juga sudah menyiapkan desainnya untuk memuwudkan mimpi bersama itu.

“Saya siap pasang badan untuk Majene sebagai Kota Pendidikan di Sulbar,” tekad ABM.

ARIE, Kontributor

TINGGALKAN KOMENTAR