Upacara Pedang Pora dilaksanakan oleh sejumlah Perwira dari TNI Angkatan Laut saat berlangsung acara resepsi pernikahan Bayu Abiantoro dengan Riska Eka Galung di Mambi, Mamasa, Sulbar, Minggu, 26 Februari 2017. (Foto: Ist.)

Akad Nikah Bayu Abiantoro dengan Riska Eka Galung berlangsung di rumah kediaman mempelai wanita, Jalan Poros Mambi, Mamasa.

Bayu adalah putra kedua pasangan Bapak Letkol Laut (T) Sarno dan Ibu Rina Dwi Astuti, sedangkan Riska adalah putri pertama pasangan Bapak Aris Kaltan dan Ibu Alfrida Galung.

TRANSTIPO.com, Mambi – Pedang Pora berasal dari kata Pedang Pura atau Gapura Pedang adalah tradisi pernikahan bagi Perwira Militer yang dilaksanakan dalam rangka melepas masa lajang dengan diiringi rangkaian pedang berbentuk gapura.

Formasi gapura ini dibentuk oleh hunusan pedang dari rekan-rekan Perwira atau adik angkatan dari sang mempelai pria.

Pedang pora dilaksanakan bukan untuk lulusan AKMIL, AAL, AAU, AKPOL, tapi oleh seluruh perwira pria, dengan catatan hanya dilaksanakan sekali seumur hidup. Jika menjadi duda atau menikah lagi, maka tak dilaksanakan Upacara Pedang Pora.

Upacara ini tak dilaksanakan bagi perwira wanita, kecuali jika si perwira wanita menikah dengan perwira pria. Bagi Bintara atau Tamtama tak ada tata cara tradisi Pedang Pora, tapi upacara yang dilaksanakan disebut Hasta Pora atau Gapura yang dibentuk dari penghormatan tangan. Jadi pedang diganti dengan pedang yang lurus ke atas.

Kedua mempelai foto bersama dengan sejumlah Perwira TNI AL di tempat pengantin seusai melaksanakan Upacara Pedang Pora, Mambi, Minggu, 26 Februari 2017. (Foto: Ist.)

Pedang Pora adalah salah satu prosesi khusus dalam pernikahan bagi seorang yang aktif dalam Militer baik TNI AD, TNI AL, TNI AU, dan Perwira Kepolisian untuk memperkenalkan kepada mempelai wanita dunia Kemiliteran atau Angkatan Bersenjata.

Pedang Pora adalah sebuah tradisi wajib yang telah dilakukan secara turun-temurun di dunia militer. Makna di balik simbol dan ritual Pedang Pora, antara lain melambangkan solidaritas, persaudaraan, dan permohonan perlindungan kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Jajaran pedang dalam Pedang Pora yang membentuk Gapura ketika dilewati kedua mempelai menggambarkan saat dimasukinya pintu gerbang kehidupan rumah tangga yang baru.

Prosesi Pedang Pora berlangsung dengan sangat khikmad. Mulai dari saat kedua mempelai bersiap berjalan memasuki gerbang yang terdiri dari dua belas orang pasukan Pedang Pora yang berdiri berhadap-hadapan, dan satu orang komandan regu lengkap dengan seragam militernya. Selanjutnya, Anda bisa ketahui melalui laman TNI AL.

Keluarga mempelai wanita (Riskan Eka Galung) sedang foto bersama di acara pesta pernikahan Bayu dan Riska di Mambi, Minggu, 26 Februari 2017. (Foto: Ist.)

Acara pernikahan Bayu Abiantoro dengan Riska Eka Galung telah usai. Rombongan dari mempelai pria telah kembali ke Surabaya, Jawa Timur. Mereka berangkat di Mambi, Kabupaten Mamasa, Sulbar, pada Senin pagi, 17 Februari 2017.

SARMAN SHD

TINGGALKAN KOMENTAR