Tak Ada Jaringan Telpon Seluler, Jalan Rusak: “Hiburan” lain Pesta Riska – Bayu

1022

Kecamatan Mambi adalah salah satu kecamatan tua di pegunungan Dati II Polewali Mamasa (Polmas). Tahun 1960-an, Kecamatan Mambi dibentuk jadi kecamatan bersamaan tiga kecamatan tua lainnya, yakni Mamasa, Sumarorong, dan Pana’.    

TRANSTIPO.com, Mambi – Secara administratif, wilayah pemerintahan kecamatan di pegunungan Dati II Polewali Mamasa berubah seiring pemekaran Kabupaten Polewali Mamasa pada Maret 2002.

Rencana pemekaran kabupaten kala itu datang dari warga di empat kecamatan tua di pegunungan Polmas, yakni Mamasa, Mambi, Sumarorong, dan Pana’.

Pemekaran ini menghasilkan daerah otonomi baru (DOB) Kabupaten Mamasa berdasarkan Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2002 yang diundangkan di Jakarta pada Tanggal 7 Mei 2002. Dengan terbentuknya Kabupaten Mamasa, maka pada Desember 2003 Kabupaten Polewali Mamasa berubah nama menjadi Kabupaten Polewali Mandar (Polman).

Dikutip dari laman BPS Kabupaten Mamasa tahun 2015, Kabupaten Mamasa terdiri dari 17 Kecamatan dengan luas wilayah 275.923 kilometer persegi. Sejak berdiri sebagai sebuah kabupaten, Mamasa terus berbenah. Salah satu masalah yang paling mendasar di Mamasa saat ini, yakni infrastruktur jalan belum tuntas.

Contoh misalnya, jalan antara Kecamatan Tandu Kalua’ dengan Kecamatan Mambi yang berjarak tak kurang 29 kilometer masih terdapat sejumlah titik jalan bak kubangan kerbau. Tapi dari segi ukuran panjang jalan provinsi dan nasional, jalan di Kabupaten Mamasa sudah lebih banyak mulus karena telah dibeton dengan ketebalan maksimal.

Jarak yang hanya 29 meter—yang disebut di atas—bisa Anda lewati dengan berkendara mesin empat roda hingga 3 atau 4 jam. Terlebih jika turun hujan. Di titik-titik jalan tertentu—yang belum dibeton tentunya—kedalaman lumpurnya bisa hingga 10 centimeter.

Pengalaman sangat mengesankan bagi Bayu Abiantoro dan keluarga serta sejumlah Perwira TNI Angkatan Laut yang melewati jalan itu pada Sabtu malam, 25 Februari 2017.

Antara Malakbo’ (Kecamatan Tandu Kalua’) dan Mambi misalnya, Bayu sendiri—calon pengantin ini—hingga beberapa kali turun dari mobil untuk membantu dorong dan angkat ketika ban mobil ‘tertanam’ di lumpur dan bebatuan. Setibanya di kota Mambi sekitar pukul 10.30 wita Sabtu malam itu, tampak jelas celana Bayu Abiantoro berlumpur hingga ukuran paha.

Ayah Fadilah atau akrab disapa Ammang, yang menyetir mobil yang ditumpangi mas Bayu, bercerita tentang penderitaan dalam perjalanan di malam itu.

Kondisi jalan yang masih berlumpur tebal dan dalam itu kian diperparah sebab saat itu sedang turun hujan. Gelap, jurang, dan licin adalah kekuatiran hebat yang mengiringi perjalanan calon dan keluarga pengantin ini terutama antara Malakbo’–Mambi.

Tiba di Mambi, telepon pintar milik keluarga dari Surabaya dan sejumlah Perwira itu tak bisa difungsikan. Maklum, kota Mambi dan sekitar sudah beberapa tahun jaringan telepon seluler rusak. Rasa capai, kebimbangan dan kepusingan terasa lengkap sudah.

Tapi, pasca Akad Nikah dan Resepri Pernikakahan dengan Upacara Pedang Pora pada Minggu siang dan Minggu malam yang berjalan sukses, seolah meniadakan “penderitaan” dalam perjalanan darat di atas lumpur itu.

Alhamdulillah, acaranya sukses,” kata Letkol (AL) Sarno kepada Sarman SHD—kru transtipo.com—seusai Resepsi Pernikahan Bayu Abiantoro dengan Riska Eka Galung di Minggu malam yang sudah hampir larut.

Bersambung

SARMAN SHD

TINGGALKAN KOMENTAR