Tarian Burake di Mamasa. Nilawati, penari dari mahasiswa Jurusan Seni UNM Makassar, Sulsel, sedang menari di atas pisau panas, Mamasa, Sabtu, 26 November 2016. (Foto: Frendy Cristian)

TRANSTIPO.com, MamasaEmpat orang lelaki dewasa lengkap dengan pakaian adat. Mereka menabuh atau memaikan gendang di atas sebuah rumah ukir ala adat Mamasa.

Rumah adat itu berada di Desa Balla Satanetean, Kecamatan Balla, Kabupaten Mamasa. Kemudian seorang penari perempuan muncul dari samping rumah. Penari perempuan ini memeragakan tarian yang disebut kamaru sembari bersyair dalam bahasa lokal Mamasa.

Tak lama kemudian, muncul lagi seorang perempuan yang langsung menari, bergerak naik turun. Perempuan ini berlenggak-lenggok mengikuti irama bunyi dari gendang yang ditabuh oleh empat orang lelaki. Bunyinnya, kadang meninggi, keras dan terkadang pula perlahan sekali.

Ketika bunyi gendang perlahan, salah seorang pemain gendang beranjak dari duduknya lalu meletakkan sebuah pindan yang sudah diisi beras dan telur di atas kepala sang penari. Sang penari terus bergerak mengikuti irama gendang, pindan tetap di kepala.

Yang paling menegangkan ketika sebuah parang tajam dihunus dari sarungnya. Parang tajam itu kemudian ditaruh di atas lantai dalam posisi berdiri alias mata parang yang tajam menghadap ke atas.

Tarian Burake diiringi oleh tabuhan gendang oleh sejumlah lelaki dewasa. Tarian ini mengundang decak kagum para penonton. (Foto: Frendy Cristian)
Tarian Burake diiringi oleh tabuhan gendang oleh sejumlah lelaki dewasa. Tarian ini mengundang decak kagum para penonton. (Foto: Frendy Cristian)

Penari perempuan ini secara perlahan-lahan menaiki parang itu. Tak lama kemudian sang penari yang berwajah cantik itu sudah berada di atas sebuah parang atau telah menginjak dan berjalan di atas mata parang itu.

Kaki si penari ini telanjang. Terus bergerak perlahan mengikuti bebunyian atau irama gendang.

Usai adegan parang, si penari kemudian bergerak beberapa langkah. Ia mengangkat kaki agak tinggi untuk sampai di atas ujung gendang yang melingkar itu. Gendang tetap ditabuh.

Jadilah sang penari berlenggok perlahan di atas gendang. Tarian ini dipertujukkan oleh seorang penari perempuan dari Mamasa. Tarian ini diteliti oleh seorang mahasiswi yang bernama Nilawati. Dia adalah mahasiswi Jurusan Seni Tari di Universitas Negeri Makassar (UNM).

Nila melakukan itu semua sebagai cara dia mendalami atau meneliti tarian Burake di Mamasa itu.

“Tarian ini disebut sebagai tarian Burake. Sejak ratusan tahun yang lalu tarian sudah dikenal di daerah ini, dan dipelihara hingga turun-temurun. Makna dari tarian ini adalah sebentuk pengucapan syukur. Pengucapan syukur ini dilatarbelakangi oleh sebuah natsar. Maknanya, kelak ketika seorang pria atau keluarga telah mendirikan sebuah rumah ukir, maka ia akan mengadakan syukuran sebesar-besarnya. Jika natsarnya terkabul maka diadakanlah pesta syukuran yang didahului dengan malambe (peragaan tarian yang diuraikan di atas),” jelas Daeng Manggadi, pimpinan Sanggar Wisata Desa Balla Satanetean, Mamasa, Sabtu, 26 November 2016.

Selain itu, ia juga menjelaskan bahwa makna lain dari malambe adalah membuang segala keburukan dan kepahitan di dalam rumah tangga atau keluarga. Semua yang tidak baik dibuang dulu baru masuk dalam acara syukuran.

“Kita buang segala sesuatunya yang tidak baik baru kita masuk dalam syukuran. Jadi sudah tidak ada beban atau masalah. Nah, dengan begitu pelaksanaan syukuran nantinya murni dan suci yang dimungkinkan semuanya berjalan dengan baik,” kata Daeng Manggadi.

Dikonfirmasi terkait alat yang digunakan dalam tarian tersebut yang tampak begitu ekstrem dengan memakai sebuah parang tajam yang diinjak-injak seorang penari, ia mengatakan, makna dari menginjak-injak parang dalam tarian tersebut adalah menepis segala hal-hal yang tidak baik yang bisa melukai atau menggangu dalam keluarga nantinya.

FRENDY CRISTIAN

TINGGALKAN KOMENTAR