Dua tedong lotong (kerbau hitam ini tidak baku tanduk, tapi cium-cium saja lalu mundur lag, Mamasa, Jumat, 9 September 2016. (Foto: Zulkifli)

TRANSTIPO.com, Mamasa – Mengadu kerbau dalam acara Rambu Solok (ritual Adat kematian bagi seorang tokoh yang berpulang) di Mamasa tak semenarik ketika berlangsung acara Rambu Solok di Tana Toraja.

“Kerbau di sini (Mamasa, red) tidak baku tanduk, tapi baku cium-cium saja. Lalu pisah lagi,” kata Zainal Tayeb di rumah Caya, salah seorang sahabatnya di Mamasa, Jumat sore, 3 September lalu.

Menurut cerita Jenol—sapaan Zainal Tayeb—kerbau di Tana Toraja yang dibawa dalam acara Rambu Solok adalah kerbau pilihan. “Dirawat, konsumsinya diatur sedemikian rupa. Pas masuk gelanggang benar-benar baku tanduk,” kata pemilik sejumlah hotel ini.

Zainal Tayeb atau Jenol (kiri) sedang bergurau kepada kru transtipo.com di rumah Caya, Mamasa, 3 September 2016. (Foto: Zulkifli)
Zainal Tayeb atau Jenol (kiri) sedang bergurau kepada kru transtipo.com di rumah Caya, Mamasa, 3 September 2016. (Foto: Zulkifli)

“Kerbau kita di sini hanya baku cium-cium saja. Tidak baku tanduk. Jadi sepertinya kita bikin acara baku cium-cium saja di Mamasa ini,” katanya sambil tertawa lepas, juga seisi rumah dan yang duduk di teras rumah Caya pada Jumat sore itu.

Jenol bisa mencandai apa saja. Cara mengundang kelucuan Jenol, itu bakat alamiahnya yang tumbuh sejak kecil. Dari buku Sang Pelopor dari Mamasa (Jakarta, April 2016), cerita berlucu-lucu Jenol terurai sedemikian detail dan menarik.

Kru laman transtipo.com bersyukur beroleh satu buku ini dari Caya, rekan Jenol itu. Melihat buku itu, Jenol lalu bilang, “Saya tak bawa dinda. Jika saya datang lagi akan saya bawakan buku itu. Memang banyak yang minta, insya Allah dapat semua.”

SARMAN SHD

TINGGALKAN KOMENTAR