Anwar Adnan Saleh (kanan), yang Penulis maksud 'Godfather'. (Foto: Risman Saputra)

ESAI Selasa sore

TRANSTIPO.com, Mamuju – Kami berada di dunia yang berbeda: mematuhi gaya kehidupan tradisional, dan tuntutan kehidupan modern dengan segala variannya.

Yang tradisional menyangkut nilai—dan itu satu penggambaran keadaban turun-temurun. Sementara bergaya dan berlaku hidup modern adalah sebuah tuntutan kehendak—mungkin pula inikah tuntutan zaman?

Hampir sudah jadi kesimpulan sementara saat ini, bahwa ‘nilai tertinggi’ itu terletak pada seberapa hebat berlaku dan berpolah tingkah yang serba cepat, serba instan pun tak apa. Yang penting meraih yang tampak secarakasat mata. Yang tidak kelihatan modern, bisa dianggap kuno—lebih buruk dari nilai tradisional itu.

Di Pitu Ulunna Salu itu—tempat kami bersatu ikatan dalam tata nilai budaya yang menghistoris dan berkomunitas hingga kini—bersuara lantang pada ‘orangtua’ adalah sesuatu yang dianggap ketidakpatuhan pada nilai kearifan.

Mendongakkan kepala pun masih dikategorikan pelanggaran nilai-nilai dan tata krama dalam bersinggungan dengan ‘orangtua’ di atas umur, terlebih jika melekat erat pertalian darah lalu ia dituakan.

Kehidupan dalam tradisi ini akan selalu bertabrakan dengan dinamika kehidupan modern, saat ini. Keadaban Pitu Ulunna Salu—yang tersohor disebut PUS—adalah bagian terkecil dari nilai peradaban ketradisionalan itu yang kami bawa terus hingga kini, yang memahami dan yang mamaklumkannya tentunya.

Untaian ini sekadar bacaan di Selasa sore ini, hingga malam pun tak apa.

Saya sebagai jurnalis muda dalam berkarya—tapi terbilang sudah tua dalam umur—terkadang susah ‘berdiri sama tinggi’ manakala berada tak berjarak dengan ‘Godfather’—Anwar Adnan Saleh yang saya maksud.

Terasa benar sebagai ‘ponakan’ yang sulit duduk sejajar lalu mendongakkan kepala ke atas, padahal saya seorang jurnalis dan penulis buku.

SARMAN SHD

TINGGALKAN KOMENTAR