Penjabat Gubernur Sulbar Carlo B Tewu tampil dengan pakaian Adat Mandar saat beri sambutan dalam acara Silaturahmi dan Penguatan Sipamandaq di Ballroom d'Maleo Hotel & Convention Mamuju, Minggu malam, 5 Februari 2017. (Foto: Zulkifli)

Apa yang terkandung dalam sambutan Irjen Pol Carlo B Tewu—bagi warga Mandar, warga Sulawesi Barat—layak jadi renungan kembali: bahwa kawasan ini dibentuk jadi provinsi lantaran karena memiliki kekhasan, karakteristik, dan nilainya yang memesona.

TRANSTIPO.com, Mamuju – “Meminjam kata-kata Bung Karno jangan pernah melupakan sejarah, karena sejarah adalah cermin pembelajaran untuk masa sekarang dan masa yang akan datang. Salah satu jejak bukti sejarah yang baik yang menjadi acuan atau contoh dalam membagun solidaritas, pengikat tali persaudaraan adalah Ikrar Perjanjian Tammajarra atau yang lebih dikenal dengan Ikrar SIPAMANDAQ yang pernah dimufakatkan di tanah Mandar ini,” jelas Pj. Gubernur Sulbar Irjen Pol Carlo B Tewu dalam sambutannya.

“Sebagaimana kita ketahui bahwa permufakatan sikap Sipamandaq kala itu diikuti oleh dua kerajaan tertinggi yang ada di tanah Mandar. Kedua Kejaanan yang masing-masing menaungi 7 kerajaan, yakni dari Pitu Ulunna Salu dan Pitu Ba’bana Binanga,” jelas Carlo Tewu.

Menurut Gubernur Carlo, dalam sambutannya, dari pertemuan itu terjadilah permufakatan yang melahirkan sebuah perjanjian, ini kemudian yang biasa disebut konfederasi. “Inilah pertemuan, di mana konsep, gagasan cerdas dan moderen yang menjadikan spirit dalam persatuan dan kesatuan dalam kontenks demokrasi yang utuh dan tertanam di sanubari orang Mandar,” urai Carlo Brix Tewu dengan lantang.

“Dengan semangat Sipamandaq ini, masyarakat lalu mencetuskan pembentukan Provinsi Mandar. Ide pembentukan Provinsi Mandar lalu diubah menjadi rencana pembentukan Provinsi Sulawesi Barat melalui perjalanan yang begitu panjang. Namun setelah era reformasi dan dengan disahkan UU Nomor 22 Tahun 1999—tentang Otonomi Daerah—perjuangan pemekaran di tiga kabupaten, yakni Kabupaten Polewali Mamasa, Kabupaten Majene, dan Kabupaten Mamuju untuk menjadi provinsi kembali berkobar,” urai Carlo Tewu mengisahkan sejarah singkat perjuangan pembentukan Sulbar.

Carlo melanjutkan, “Dan, pada tahun 2004, tiga kabupaten resmi terpisah dari Provinsi Sulawesi Selatan atau terbentuklah Provinsi Sulawesi Barat dengan Ibukota Mamuju.”

“Selanjutnya Polewali Mamasa terpisah menjadi dua kabupaten, yakni Polman dan Mamasa. Dulu, daerah ini terisolir. Namun karena Gubernur Sulbar hasil pilihan rakyat dan telah memimpin kita semua selama 10 tahun, yakni bapak Anwar Adnan Saleh—ini yang patut disyukuri bersama—dengan terutama membangun infrastruktur, kita telah rasakan hasilnya,” urai Carlo Tewu yang disambut tepukan hadirin.

Sebelum mengakhiri sambutannya, Gubernur Carlo memompa semangat hadirin dengan mengatakan, “Olehnya itu, kita yang masih di sini, semangat kita akan pakai untuk lebih mempercepat pembagunan di Provinsi Sulawesi Barat ini.”

Kalimat terakhir dari carlo Tewu, “Saya minta KPU, Bawaslu, aparat Kepolisian, TNI dan seluruh jajarannya agar kita kawal Pilkada ini secarah sungguh-sunguh agar pelaksanaan Pilgub Sulbar 2017 dapat berjalan dengan tertib, aman, dan lancar.” Advertorial

RISMAN SAPUTRA/SARMAN SHD

TINGGALKAN KOMENTAR