Bintang Muda Topoyo Absen di Pileg Setelah 15 Tahun di Parlemen

8674
HAJI SAHRUL SUKARDI (43 TAHUN)

TRANSTIPO.com, Topoyo – Perkenalan awal yang disambungkan pesan digital singkat pada Rabu siang, 13 Desember, justru menjadi keseruan diskusi santai pada semalam di sebuah ruang lapang di samping rumah besar, Jl Bayor 01 Topoyo, Mamuju Tengah (Mateng).

Perjalanan dari Mamuju kota ke Topoyo kemarin sore itu begitu tepat waktu ketika ba’da isya malam tadi saya mengonfirmasi ulang, “Saya baru tiba di rumah (Topoyo),” kata lelaki kelahiran 43 tahun silam ini menjawab chat WhatsApp saya.

Hanya berbilang beberapa menit sebelum pukul 21.00 WITA, saya ditemani dua orang kawan tiba di rumah samping — menyerupai posko kegiatan pertemuan massal dengan kursi sekian lusin — dengan tuan rumah seolah telah menunggu, sendirian.

Berkemeja putih, pakai songkok haji dan bersarung. Haji Sahrul Sukardi namanya. Pertemuan kali pertama secara visual selain berteman di media sosial facebook entah sudah berapa lama.

Ketika menyapanya di media berjejaring Rabu kemarin, Sahrul Sukardi menyambut gembira untuk rencana diskusi yang berlangsung semalam itu. Singkat, akrab: ditandai selingan canda tawa. Lalu, wawancara singkat pun berlangsung dan obrolan lepas hingga waktu kami pamit telah pukul 23.00 WITA.

Ayahnya bernama Haji Sukardi. Seorang tokoh di Topoyo, Mamuju Tengah. “Kalau mama saya berasal dari (Mandar) Sendana, Majene. Kalau nenek saya bertalian darah dan memiiki kekerabatan dari pegunungan, Aralle (bagian Kabupaten Mamasa saat ini).

Sang ayah tokoh familiar di Topoyo dengan pembuktian pernah menjadi Kepala Desa Topoyo selama 29 tahun, atau sekitar lima periode memimpin.

Sahrul bercerita, ketika terbentuk desa persiapan Topoyo tahun 1985 — eks kewilayahan transmigrasi — ayahnya telah dipercaya memimpin desa dan 1986 Desa Topoyo definitif, Sukardi pun menjadi kepala desa permanen berturut-berturut hingga 2015.

Di saat yang sama di Tobadak, yang juga telah menjadi desa, Haji Aras Tammauni didaulat sebagai Kepala Desa Tobadak.

Di Topoyo, Haji Sukardi tak tergantikan namun lantaran umur menua — dan kepala desa sudah tak dibolehkan aturan di atas 65 tahun — sehingga Sukardi memilih menepi dari pemerintahan. Enam tahun lalu beliau menghadap Sang Pencipta.

Liku hidup mendiang Sukardi diceritakan secara singkat anak sulungnya ini. “Kami lima bersaudara, saya anak pertama,” kata Sahrul Sukardi.

Tahun 1991 adalah awal Sukardi menekuni usaha komoditi rotan. Kala itu melimpah hasil rotan dari hutan-hutan Topoyo, Tobadak dan sekitarnya. Masalahnya roton yang diangkut petani ke Topoyo tak ada yang beli.

Saat itu Topoyo masih tertutup. Sulit menjangkau Mamuju karena belum ada jembatan di Sungai Tarailu ditambah jalan antara Topoyo ke Mamuju masih rusak parah.

Melihat kenyataan ini, Haji Sukardi menemukan solusi. Ia inisiatif kumpul dan tampung rotan para petani di Topoyo dan Tobadak lalu ia angkut ke Palu, Sulawesi Tengah (Sulteng) melalui pelabuhan rakyat Tumbu di Patulana, perbatasan Desa Topoyo.

Sebagai pemimpin formal desa, ia gelisah melihat jerih payah Rakyat mengambil batang rotan dari hutan namun tak terbeli. Para petani kesulitan ekonomi. Di sisi lain Haji Sukardi juga tak punya banyak uang untuk membayar rotan milik petani.

Dari hasil penjualan rotan di Palu itu kemudian Sukardi membayar kepada masing-masing petani pemilik rotan.

Begitulah, berlangsung bertahun-tahun hingga tiba masa rotan kian menyusut dan petani beralih ke komoditas lain.

Kakao, cokelat. Seiring meredupnya bisnis rotan, petani beralih ke tanaman kakao. Sukardi pun meminati tanaman dengan buah komoditas eksport ke Eropa ini. Sayang, kakao cukup ramah dengan penyakit, lama-lama buah kakao menurun, petani tertarik dengan tanaman karet seiring diperkenalkannya Perkebunan Inti Rakyat (PIR) di Mamuju bagian tengah.

Tapi primadona tanaman sawit menggiurkan, jadilah petani berbondong-bondong berkebun sawit — dan terbukti hingga kini. Dengan harga relatif stabil, tanaman pohon sawit begitu menyilaukan dan sangat membantu perekonomian petani umumnya di wilayah Mamuju bagian tengah (Kabupaten Mamuju Tengah saat ini).

Dari pendampingan petani sejak usaha rotan, kakao, karet, hingga tanaman sawit dan memfasilitasi pemasarannya ke Palu yang kemudian ke Makassar, Sulawesi Selatan (Sulsel), di suatu waktu pada tahun 1996 sebuah ide cemerlang hadir di benak Haji Sukardi.

Saat itu ia membebaskan tanah seluas 2 hektar di jantung pemukiman padat Topoyo untuk dijadikan pasar Rakyat. Seorang nama ia temukan untuk membantunya: Haji Halim.

Halim ini punya mesin pemotong kayu (senso) dan setelah diminta oleh Sukardi untuk menyiapkan papan dan kayu untuk kebutuhan membuat bangunan lods di pasar, pun ia setuju. Tanpa bayaran di muka.

“Nanti kalau ada yang beli lods di pasar barulah utang jasa senso dan harga kayu Bapak bayar kepada Haji Halim,” kisah Sahrul kepada media ini.

HAJI SAHRUL SUKARDI

Menurut Haji Sahrul, di masa awal pembangunan pasar baru 40 lods, “Sekarang sudah ada sekitar 200-an lods,” katanya.

Kisah Sahrul — sebelum Mamuju Tengah jadi kabupaten — luas 1 hektar Pasar Topoyo dihibahkan kepada Pemerintah Kabupaten Mamuju. Untuk 1 hektarnya lagi tetap diperuntukkan masyarakat, “Artinya, manajemennya masih dalam otoritas keluarga kami,” ujar Sahrul.

Waktu terus berjalan. Pada 2015 Haji Sukardi telah menggenapi 29 tahun memimpin Desa Topoyo. Ia pun mangkat.

Dua Kampiun Demokrat Mateng Absen di Pileg 2024

Persahabatan Haji Aras Tammauni dan Haji Sukardi teruji oleh waktu. Di masa belia hingga usia sekolah, ia terus menjalin hubungan yang akrab, “Bahkan sama-sama sekolah di Topoyo. Di masa remaja pun begitu,” cerita Sahrul.

Puluhan tahun memimpin desa dan hidup rukun bertetangga dalam wilayah kekuasaan setara. Tak pernah ada cekcok: Aras di Tobadak dan Sukardi di Topoyo.

Aktifitas di partai politik (parpol) pun nyaris selalu sama. Meski di awal, di masa Orde Baru, Haji Sukardi sempat merangkap aktif di Golkar Topoyo. Tahun 2006 ketika Aras Tammauni menakhodai Partai Demokrat Sulawesi Barat (Sulbar), Haji Sukardi menjadi penasehat partai berlambang Bintang Mercy ini.

Persahabatan kedua tokoh ini menurun ke anak-anaknya. “Hubungan saya dengan Arsal, pak ketua, cukup baik. Begitu pun keluarga kami,” kata Sahrul Sukardi.

Tahun 2006 itu pula, ketika itu Sahrul baru berumur 26 tahun, masuknya Partai Demokrat juga tak lepas dari magnet ayahnya dan Haji Aras. Tak berselang lama, Sahrul diplot jadi caleg dan langsung merengkuh 1 kursi dari keterwakilan Topoyo dan sekitar untuk DPRD Kabupaten Mamuju periode 2009-2014.

Inilah awal Sahrul benar-benar merasakan kehidupan di dunia politik praktis.

“Berpolitik itu tak perlu dibuat desain yang kayak tinggi apa pun. Pada intinya, yang penting kita dipercaya oleh Rakyat,” katanya penuh filosofi.

Bagi Sahrul — selain faktor mentor sang ayah tentunya — memilih bergabung di Partai Demokrat lantaran dinilainya sebagai partai yang berpegang pada nasionalisme. Mengayomi Rakyat. Ditambah sosok ketuanya kemudian, Suhardi Duka (SDK).

“Beliau cukup mengayomi semua kalangan. Dia anggap sama semua orang. Komunikasi saya selama ini dengan beliau cukup bagus,” aku jebolan FISIP Unhas, Makassar, ini.

Kini Sahrul Sukardi masih duduk sebagai Anggota DPRD Kabupaten Mamuju Tengah — periode lima tahun yang ketiga di parlemen.

Periode 2009-2014 di DPRD Mamuju digenapkan satu periode lima tahun sebab pada 2012 Kabupaten Mamuju terbentuk jadi daerah otonom. Ia berpindah atau masuk dalam pengisian keanggotaan dewan di Mateng pada 2012 hingga 2014. Pemilu 2014 di partai yang sama, ia kembali lolos ke dewan hingga 2019. Dan periode berikutnya, bersama 5 wakil Demokrat lainnya menjadi jawara di Parlemen Mateng dan mengantar Arsal Aras sebagai ketua dewan hingga kini.

Ketika semua politisi parpol menatap Pemilu (Pileg) 2024 dengan kerja-kerja politik yang telah digariskan partai sesuai amanat dan aturan kepartaian dan kepemiluan, Sahrul Sukardi malah mengambil sikap yang lain.

“Sejak Juni 2022 saya telah putuskan untuk tidak maju di Pileg 2024. Saya niatkan istirahat dulu. Ini murni dari pertimbangan pribadi saya,” kata Sahrul.

Di waktu terpisah sebelumnya — dua hari sebelum saya wawancarai Sahrul — di ruang kerja Arsal Aras pun mengaku tak maju lagi sebagai caleg di Pileg 2024.

Absennya dua kampiun Demokrat di Mateng menjadi alarm mempertahankan 6 kursi di DPRD Mateng untuk pileg berikut. Tapi Sukardi menepis santai, datar.

“Kami proyeksi kursi Partai Demokrat di DPRD Mateng hasil pileg nanti, 5 – 6 kursi-lah. Kalaupun turun sedikit, ya 5 kursi,” kata Sahrul, yakin.

Belakangan, sesuai pengakuan Sahrul, Ketua Partai Demokrat Mateng Arsal Aras tahu sikap Sahrul tak mau lagi maju di pileg. Dan, Sahrul juga baru tahu kemudian jika sang ketuanya itu pun tak lagi maju.

HAJI SAHRUL SUKARDI

Apakah ini pertimbangan Pilkada 2024?

Arsal Aras sudah umum diketahui bakal menjadi pelanjut sang ayah: Bupati Mateng dua periode, H. Aras Tammauni. Sulit dibantah adagium, anasir ini.

Bagi Sahrul Sukardi, menepi tak maju caleg telah mendapatkan konfirmasi dari warga Topoyo dan keluarganya.

“Kalau tidak maju, harus ada keluarga dekat yang maju,” kata warga Topoyo kepada Sahrul, mengutip ekspektasi untuknya.

Saran SDK untuk mengusung Reski Irmayani Sahrul — sang istri — pun bukan keputusan gampang. “Saya kan perempuan, pak!” Reski Irmayani menimpali ketika suaminya — Sahrul — utarakan jalan baru peta politik keluarganya.

“Kasi saya waktu tiga hari berpikir,” singkat Reski, ditirukan Sahrul. Dan, keputusan dibuat. Reski Irmayani Sahrul, SE mantap jadi Caleg Provinsi Sulawesi Barat dari Dapil Kabupaten Mateng.

Menemukan jawaban itu secara gamblang kini, telah banyak baliho berwarna Demokrat dengan gambar ‘srikandi’ itu di banyak titik di area publik dalam wilayah Mamuju Tengah.

Untuk DPRD Mamuju Tengah, adik laki-lakinya, Masriadi Sukardi, SE, MM diplot jadi caleg Kabupaten Mamuju Tengah. Klop. SDK sumringah.

Pilkada 2024 soal lain.

Warga Topoyo mendorong Sahrul Sukardi untuk maju calon Bupati Mamuju Tengah di Pilkada 2024 nanti.

“Saya tidak bisa bohongi kata hati. Tapi saya katakan, menjadi pemimpin itu kan tidak semudah membalikkan telapak tangan. Saya harus cek diri saya dulu ke masyarakat,” urai Sahrul, jujur.

Ia tambahkan, kalau respon dari masyarakat ada, “Insya Allah saya siap maju. Terlebih jika partai dukung, saya siap,” tegas Sahrul Sukardi, malam tadi.

Reski Irmayani Sahrul lahir di Makassar dan besar di Topoyo. Ia bagian integral dari komunitas Bugis-Makassar. Binaan Sahrul dan Reski dalam ‘Home’ dan ‘House’, Tuhan telah karuniai 3 orang anak.

Di Hari Ulang Tahun (HUT) ke-11 Kabupaten Mateng 2023 ini, Sahrul sambut gembira. “Perkembangan pembangunan dari tahun ke tahun sudah semakin maksimal,” katanya.

Pembangunan infrastruktur oleh Pemkab Mateng cukup diapresisi Sahrul meski anggaran pembangunan masih relatif minim.

“Saya salut cara dan trik pemerintah kita yang bisa lakukan cara mengatasi minimnya dana publik dengan cara mendatangkan investor,” ujar Sahrul.

Tanaman sawit di mata Sahrul sungguh beri efek besar dalam kemajuan ekonomi masyarakat. “Sekarang ini sudah ada lima Pabrik Kelapa Sawit dan telah beroperasi, walaupun itu masih milik perusahaan.

Kedatangan salah seorang Ulama Kondang di Indonesia, Uztad Abdul Somad (UAS) di Topoyo pada Sabtu, 5 Agustus 2023 lalu adalah citra Kerohanian Sahrul Sukardi yang tak terbantahkan.

Meski ia kikuk ketika UAS menyapanya Uztad Sahrul, tapi polah tingkahnya yang Islami tentu sang pesohor UAS tak sekadar menghiburnya.

Mungkin dalam tabiatnya itu ada: potensi penyiar Qalam di suatu hari nanti.

SARMAN SAHUDING

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini