Sampul buku karya tulis Mustari Pondanga. (Foto: Sarman SHD)

Agar lebih kenal Sulbar—terbentang di jazirah Mandar besar—maka mulai hari ini, 9 April 2017, laman ini akan mengenalkan bahasa daerahnya. Anda sekalian yang Budiman dipersilahkan mengirimkan kreasi bebas seputar Bahasa Daerah di Sulbar ini. Sebagai pembuka, adalah karya tulis seorang tokoh pendidik, Mustari Pondanga.

TRANSTIPO.com, Mamasa – Dibatta bittik tau tappa di bittik tedong, dibatta bittik tedong tappa di bittik bahi, dibatta bittik bahi tappa di bittik mane’, dibatta bittik mane’ tappa di pa’barang-barangan. (Pemberian sanksi kepada seseorang harus bijak, sesuai kesalahan dan kemampuan seseorang itu).

Disapu’ bulu, dilabu sau diuhai. (Sanksi yang diberikan dalam bentuk barang—jika ia mampu—yang bernilai tinggi baru dia dihanyutkan sejenak seolah-olah menghanyutkan perbuatannya yang salah itu).

Diso’do’ kulakka’na dikola’ tai hapunna. (Dikuras semua harta bendanya yang ada).

Mesa Kada Dipotuho, Pantangkada Dipomate. (Bersatu Kita Kuat Bercerai-berai Kita Lemah).

Tikba’ lakbo’, hibang uhase. (Seorang pemimpin tidak boleh dendam, setiap kesalahan orang harus dimaafkan).

Tamakbija tamaksangngana’. (Harus berlaku adil dalam memutus setiap persoalan, tidak pandang bulu sekalipun keluarga dekat).

Tuho Tau Tammate, Mapia Tau Tangkadake. (Apabila sudah di tangan Hadat, seseorang atau suatu persoalan maka tidak boleh ada orang lain yang bertindak lagi).

PEMALI APPA’ RANDANNA. (Empat Pilar yang paling pokok dalam hukum Hadat [baca: Adat] MAPPURONDO—aliran kepercayaan tertua di Sulbar yang menyemayam di bumi Pitu Ulunna Salu, pegunungan Mandar).

Dipatindak madoho, dipabehe’ madoho. (Kita berlaku jujur dan adil dalam masyarakat).

SARMAN SHD

Referensi: buku Kamus Bahasa Daerah Aralle – Indonesia (2015), Mustari Pondanga.

TINGGALKAN KOMENTAR