Presiden Joko Widodo menggenggam tangan K.H. Muhammad Saidih, Pimpinan Pondok Pesantren Daarul Hikmah, sembari menuntunnya berjalan saat akan dimulainya Silaturahmi dengan Alim Ulama dan para Santri di Pondok Pesantren Daarul Hikmah, Kelurahan Pamulang Barat, Kecamatan Pamulang, Kota Tangerang Selatan, Minggu, 4 November 2018. (Foto: Biro Pers Setpres)

TRANSTIPO.com, Tangerang Selatan – Presiden Joko Widodo mengajak seluruh masyarakat untuk berhijrah. Hijrah yang Presiden maksud adalah hijrah dari menyebarkan fitnah menjadi menyampaikan kejujuran, dari ujaran kebencian kepada ujaran kebenaran, dari kegaduhan kepada persatuan dan kerukunan, dan dari pesimisme kepada optimisme.

Saat bersilaturahmi dengan Alim Ulama dan para Santri di Pondok Pesantren Daarul Hikmah, Kelurahan Pamulang Barat, Kecamatan Pamulang, Kota Tangerang Selatan, Minggu, 4 November 2018, Presiden mengutarakan hal tersebut. Menurutnya, masyarakat harus berhati-hati dalam menyikapi isu-isu di media sosial.

“Isu-isu yang banyak sekali bertebaran di media sosial kalau tidak saya jawab nanti dipikir benar,” kata Presiden.

Isu-isu yang dimaksud antara lain, isu yang mengatakan bahwa dirinya mengkriminalisasi Ulama. Padahal menurutnya, ia sangat sering bertemu dengan Ulama dan Santri.

“Tadi disampaikan Ibu Wali Kota (Tangerang Selatan) bahwa Hari Santri setiap 22 Oktober itu yang tanda tangan Keppresnya adalah saya. Jangan sampai di bawah ini dibalik-balik,” tegasnya.

Presiden Joko Widodo bersilaturahmi dengan Alim Ulama dan para Santri di Pondok Pesantren Daarul Hikmah, Kelurahan Pamulang Barat, Kecamatan Pamulang, Kota Tangerang Selatan, Minggu, 4 November 2018. (Foto: Biro Pers Setpres)

Menurut Presiden, berbagai ujaran kebencian, berita hoaks, dan fitnah semakin bertebaran di media sosial pada tahun politik ini. Presiden tidak ingin masyarakat menjadi terpecah dan tidak rukun karena termakan isu tersebut dan karena perbedaan pilihan politik dalam pesta demokrasi.

“Pilihan bupati, wali kota, gubernur, presiden itu ada setiap lima tahun. Akan sangat rugi besar kita, kalau aset terbesar kita yaitu persatuan, kerukunan, dan persaudaraan pecah gara-gara perbedaan pilihan politik. Rugi besar kita,” tegasnya.

Pasalnya, Indonesia adalah sebuah negara besar yang dianugerahi Allah dengan berbagai keragaman suku, agama, budaya, dan tradisi. Oleh karena itu, Kepala Negara mengajak semua pihak untuk terus memelihara dan merawat aset terbesar bangsa Indonesia.

“Marilah kita jaga bersama-sama ukhuwah islamiyah dan ukhuwah wathoniyah kita karena kita memang berbeda-beda, warna-warni, bermacam-macam,” ucapnya, demikian rilis Deputi Bidang Protokol, Pers, dan Media Sekretariat Presiden.

Turut mendampingi Presiden dalam acara silaturahmi ini antara lain, Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto, Wakil Gubernur Banten Andika Hazrumy, Wali Kota Tangerang Selatan Airin Rahmi Diany, dan Pimpinan Pondok Pesantren Daarul Hikmah K.H. Muhammad Saidih.

SARMAN SHD

TINGGALKAN KOMENTAR