Gerakan Pemuda Membaca Kitab Suci (GPMKS) yang diselenggarakan oleh Kementerian Pemuda dan Olahraga Republik Indonesia (Kemenpora RI) yang bertempat di Asrama Haji Mamuju, Selasa, 14 November 2017. (Foto: Zulkifli)

TRANSTIPO.com, Mamuju – Kepala Kantor Kementerian Agama Provinsi Sulawesi Barat (Sulbar) H. Muhdin mengapresiasi kegiatan Gerakan Pemuda Membaca Kitab Suci (GPMKS) yang diselenggarakan oleh Kementerian Pemuda dan Olahraga Republik Indonesia (Kemenpora RI) yang bertempat di Asrama Haji Mamuju, Selasa, 14 November 2017.

Kegiatan ini hadiri oleh tokoh agama dan puluhan pemuda yang berbeda keyakinan yang ada di Mamuju. Memasuki acara GPMKS, yang membacakan kitab Suci, yakni dari umat Islam, Kristen Protestan, dan Buddha.

“Hari ini terjadi kegiatan yang sangat luar biasa yang dimotori oleh Kementerian Pemuda dan Olahraga dirangkaikan dengan beberapa kegiatan. Kirab Pemuda, kemudian dilanjutkan dengan dialog kebangsaan, dan pada sore hari ini adalah gerakan pemuda membaca kitab Suci untuk persatuan Indonesia,” kata Kepala Kemenag Sulbar itu.

Masih Kepala Kemenag Sulbar H Muhdin, “Karena di sini (Sulbar, red) ada lima agama dari enam agama yang diakui di Indonesia. Tapi dari lima agama ada pula agama Konghucu yang pemeluknya hanya 35 orang yang terdata di kami. Kemajemukan ini adalah miniaturnya Indonesia. Karena setiap suku yang ada di Indonesia, pasti ada di Sulbar.”

Muhdin menambahkan, saat kunjungan Menteri Agama RI Lukman Saifuddin di Mamuju beberapa waktu yang lalu, Menteri Agama menyatakan Sulbar termasuk salah satu daerah terbaik dalam kerukunan umat beragama.

“Oleh karena itu ucapan terimakasih kepada seluruh tokoh agama, membantu kami dalam rangka meyakinkan kepada seluruh umat masing-masing bahwa Indonesia inilah yang terbaik untuk kita semua,” katanya.

Kemenpora Usung Gerakan Pemuda Membaca Kitab Suci

Kepala Kemenag Sulbar H. Muhdin (ketiga kanan) bersama sejumlah tokoh masyarakat dan tokoh litas agama di Sulbar foto bersama seusai kegiatan Gerakan Pemuda Membaca Kitab Suci (GPMKS) yang diselenggarakan oleh Kementerian Pemuda dan Olahraga Republik Indonesia (Kemenpora RI) yang bertempat di Asrama Haji Mamuju, Selasa, 14 November 2017. (Foto: Zulkifli)

Dalam rangka dukungan program pada rangkaian acara Kirab Pemuda 2017 yang tengah digelorakan Kemenpora saat ini di 34 titik kabupaten/kota di seluruh Indonesia, Gerakan Pemuda Membaca Kitab Suci (GPMKS) juga dilaksanakan di Mamuju, Sulbar.

Tujuan GPMKS ini untuk memupuk kebhinekaan di kalangan pemuda tanpa memandang suku, ras, dan agama yang berbeda. GPMKS mengemban tanggung jawab besar menyatukan pemuda yang berasal dari 6 (enam) agama di Indonesia untuk membacakan masing-masing kitab suci dalam satu tempat dan waktu yang sama.

“Kegiatan ini adalah langkah awal Kementerian Pemuda dan Olahraga untuk meningkatkan partisipasi kaum muda dalam kegiatan keagamaan masing-masing. Di saat bersamaan ada moment Kirab Pemuda 2017 di mana para pemuda dari 34 provinsi dengan latar belakang keyakinan agama yang berbeda-beda tengah berkumpul menyuarakan semangat berani bersatu di tengah kebhinekaan. Ini menjadi saat yang tepat untuk menumbuhkan semangat saling menghormati di tengah perbedaan keyakinan yang ada,” demikian dijelaskan Imam Nahrawi selaku Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) sebelumnya.

Menpora juga menyebutkan bahwa keberagaman yang dimiliki oleh Indonesia
adalah suatu keistimewaan bangsa Indonesia yang harus dijaga dengan baik.

“Keberagaman adalah takdir terbaik yang Tuhan pilihkan bagi bangsa Indonesia, maka perlu mendapatkan perhatian lebih untuk menjadikan perbedaan tersebut sebagai potensi bukan sebagai ancaman, agar kita bisa hidup rukun, harmonis dan berdampingan,” ujar Menpora lagi.

Sementara itu, Faisal Abdullah selaku Deputi Bidang Pemberdayaan Pemuda sebagai unit pelaksana kegiatan ini mengatakan, “Melalui GPMKS, sisi harmonis ditanamkan kepada para pemuda agar senantiasa menghormati dan memahami ajaran agama masing-masing,” katanya.

Data BPS tahun 2009-2015, tingkat partisipasi pemuda dalam kegiatan keagamaan tiap tahun makin menurun, yakni dari 67,18 persen pada tahun 2009 ke angka 51,72% di tahun 2015. Data tersebut menjadi landasan utama kegiatan GPMKS ini diadakan.

Pelaksana kegiatan GPMKS, Asisten Deputi Peningkatan IPTEK dan IMTAK Pemuda mengungkapkan data BPS tersebut menjadi landasan utama kegiatan ini.

“Kami sebagai asisten deputi yang menangani peningkatan iman dan takwa pemuda merasa sedih atas data yang dikeluarkan BPS tersebut, akan tetapi sekaligus menjadi pendorong pemerintah untuk turut andil dalam meningkatkan partisipasi pemuda di kegiatan keagamaan,” ujar Esa Sukmawijaya, Asisten Deputi Peningkatan IPTEK dan IMTAK Pemuda.

Diharapkan ke depan kegiatan GPMKS dapat dilaksanakan oleh kementerian/lembaga terkait, pemda, organisasi keagamaan/kepemudaan seluruh lapisan masyarakat hingga lingkungan keluarga, karena masa depan bangsa ini antara lain ditentukan oleh kesadaran kolektif, termasuk pemuda, terhadap penguatan keyakinan agama masing-masing dalam bingkai NKRI yang senantiasa dijiwai dengan nilai-nilai relijius.

ZULKIFLI

TINGGALKAN KOMENTAR